Periode nirkalah Juventus di era Thiago Motta berakhir. Antonio Conte akhiri jalan Motta untuk menyamai capaiannya di Juve. Napoli percaya diri menuju ”scudetto”.
26 Jan 2025 07:02 WIB · Olahraga
NAPLES, MINGGU — Antonio Conte tampaknya tidak pernah rela ada pelatih Juventus yang bisa menyamai capaiannya pada musim debut menangani ”Si Nyonya Besar”. Di musim 2011-2012, Conte memberikan Juve scudetto sekaligus rekor tak terkalahkan dalam satu musim penuh.
Misi untuk menjaga tren nirkalah menjadi tujuan Juve ketika bertandang ke markas Napoli, Stadion Diego Armando Maradona, Minggu (26/1/2025) dini hari WIB. Setelah berjalan selama 21 pekan tanpa terkalahkan, Juve akhirnya tumbang dari Napoli, pemuncak klasemen, 1-2.
Alhasil, Pelatih Juve Thiago Motta gagal menyamai rekor ciamik milik Conte yang dicatatkan pada 13 musim lalu itu. Tentu, Juve juga dipastikan sudah terlempar dari perburuan scudetto di musim 2024-2025.
Kondisi sebaliknya justru terjadi bagi Napoli. ”Si Keledai Kecil” kian menegaskan diri mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara Liga Italia bersama Inter Milan. Kemenangan atas Juve membantu Napoli untuk sementara waktu unggul enam poin atas Inter di peringkat kedua.
Gap poin itu setidaknya bertahan selama 24 jam sebelum Inter bertandang ke kandang Lecce, Senin (27/1/2025) pukul 00.00 WIB. Apabila Inter menang, jarak poin dua tim teratas Liga Italia itu kembali menjadi tiga poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/34c578add4ebef0c9eee7902b42f87ad-wires_photo_38_.jpg)
Namun, tanpa memedulikan hasil gim Inter di pekan ke-22, Conte telah menghadirkan peningkatan signifikan bagi kekuatan mental bertanding skuad Napoli. Tertinggal lebih dulu lewat gol penyerang baru Juve, Randal Kolo Muani, di menit ke-43, Napoli bangkit di babak kedua untuk mencetak dua gol.
Sundulan Zambo Anguissa di menit ke-57 untuk menyambut umpan matang Matteo Politano, menyamakan angka di papan skor. Kemudian, Romelu Lukaku mengeksekusi dengan baik peluang penalti 12 menit berselang.
”Napoli-Juve selalu menjadi gim spesial di Naples. Kami bertekad menang dan sangat senang bisa mewujudkannya,” kata Anguissa kepada DAZN seusai laga.
Anguissa mengungkapkan keyakinan yang diberikan Conte kepadanya untuk berkontribusi gol untuk Napoli. Menurut dia, skuad Napoli telah menunjukkan karakter nan hebat untuk bangkit dan mengalahkan Juve yang belum terkalahkan ketika tiba di Naples.
”Kami tahu kami adalah tim yang kuat, tetapi kami ingin menghadapi laga demi laga dengan kerendahan hati dan soliditas. Kami memiliki karakter yang membuat kami sulit dikalahkan,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/6995809969bae30c30022436832b6417-wires_photo_41_.jpg)
Setelah turun minum adalah titik balik bagi Si Keledai Kecil. Mereka tampil lebih baik dalam menyerang dengan menciptakan 10 tembakan yang dua di antaranya berbuah gol kemenangan. Kuantitas tembakan itu melonjak dibandingkan hanya empat tembakan di paruh pertama.
Kunci utama Napoli bisa tampil lebih baik adalah superioritas di jantung permainan. Trio gelandang Napoli yang terdiri dari Stanislav Lobotka, Scott McTominay, dan Anguissa memenangkan lebih banyak duel. Napoli memenangi 30 duel yang mayoritas adalah perebutan bola kedua atau second ball.
Situasi itu membantu mereka untuk lebih dini meredam kesempatan Juve untuk menginisiasi serangan. Tak heran, Napoli mengoleksi 60 persen penguasaan bola di babak kedua.
Performa itu juga membuat Juve tak berdaya. Setelah menciptakan lima tembakan pada babak pertama, Napoli sama sekali tidak menghadapi satu tembakan pun dari tim tamu setelah turun minum.
Hal itu menegaskan gap kualitas kedua tim yang terpampang di klasemen sementara Liga Italia. Napoli unggul 16 poin dan lebih baik empat peringkat di atas Si Nyonya Besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/76e46114e0ff9ce026acb9f3a40ee095-wires_photo_44_.jpg)
Kekalahan dari Napoli seakan mengulang performa bak kereta luncur (rollercoaster) milik Juve. Mereka tampil baik dan menyakinkan pada babak pertama, tetapi menurun drastis di babak kedua.
Inkonsistensi permainan itu pula yang menyebabkan Juve tumbang 1-2 dari AC Milan pada semifinal Piala Super Italia, Desember lalu, di Riyadh, Arab Saudi. Situasi laga itu pun nyaris sama karena hasil negatif didapatkan Juve akibat blunder gelandang sekaligus kapten, Manuel Locatelli.
Pemain asal Italia itu melakukan pelanggaran yang membantu AC Milan mendapatkan momentum bangkit untuk menyamakan kedudukan melalui penalti. Di Naples, Locatelli melanggar Mctominay yang membantu Lukaku mencetak gol melalui eksekusi titik putih.
Setelah gol kedua Napoli, keputusan Motta untuk menambah daya gedor tim dengan memasukkan Francisco Conceicao dan Dusan Vlahovic tidak berjalan lancar. Kedua pemain menyerang itu gagal mencatatkan satu sentuhan pun di dalam kotak penalti Napoli.
Dengan nirpoin dari Naples, Juve memperpanjang rekor selalu kalah pada laga tandang melawan Napoli menjadi enam duel beruntun. Kali terakhir Juve membawa pulang poin dari kandang Napoli tercipta melalui kemenangan 2-1 pada musim 2018-2019.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/26/b673254bfedab2a94b9343b6f4c1aee5-wires_photo_40_.jpg)
”Saya sangat kecewa dengan kekalahan pertama di Liga Italia musim ini, terutama dengan mempertimbangkan performa baik di babak pertama. Napoli menekan secara konsisten dan memiliki sedikit keuntungan karena mempersiapkan gim ini selama satu pekan penuh,” ujar Motta dilansir Tuttosport.
Motta mengakui kelelahan menjadi faktor penurunan skuadnya tampil di babak kedua. Setelah tampil di Liga Champions melawan Club Brugge, skuad Juve gagal menjaga konsistensi performa setelah turun minum. Hal itu, katanya, memberikan keuntungan bagi Napoli.
”Kami bereaksi dengan baik selama ini, tetapi sayangnya gagal mengulangi lagi hari ini. Juventus tidak pernah menang di sini sejak 2019. Ini adalah kekalahan keenam beruntun di Naples, jadi faktanya stadion ini adalah tempat yang sulit untuk Juve,” tutur Motta.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko Prihananto