Selain tertimbun material banjir bandang di Padang Panjang, akses jalur Padang-Bukittinggi di Lembah Anai kembali ambles tergerus air sungai meski baru diperbaiki.
29 Nov 2025 13:19 WIB · Nasional
KOMPAS/YOLA SASTRA
PADANG PANJANG, KOMPAS — Akses lalu lintas di jalan nasional Padang-Bukittinggi masih lumpuh akibat banjir bandang atau galodo di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025). Beberapa titik jalan di kawasan Lembah Anai yang selesai diperbaiki akibat galodo Gunung Marapi tahun lalu kembali putus.
Sabtu siang, sembari mencari korban, tim gabungan masih berupaya membersihkan material sisa banjir bandang di jembatan kembar jalur Padang-Bukittinggi di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat. Satu jalur mulai terbuka, sedangkan jalur lainnya masih tertimbun lumpur, batu, dan kayu setebal sekitar 2 meter.
Meski satu jalur jembatan bisa dilewati kendaraan secara darurat, akses jalur Padang-Bukittinggi tetap terputus. Jalan ke arah Padang di kawasan Lembah Anai ambles di beberapa titik akibat galodo, padahal jalan itu baru diperbaiki akibat ambles saat galodo Gunung Marapi.
”Dari jembatan kembar ini sampai ke pemandian Megamendung, ada empat titik lokasi longsor ataupun pohon tumbang. Jalan juga tergerus air sungai,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Padang Panjang Ajun Komisaris Pifzen Finot di Padang Panjang, Sabtu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/6c06e8acfaf283ccae65cae44140787d-DSC04380.JPG)
Selain jalur Padang-Bukittinggi di Lembah Anai, jalur alternatif via Malalak juga tidak dapat dilalui karena jalan ambles dan longsor. Begitu pula dengan jalur Kelok 44 di Kabupaten Agam. Satu-satunya akses alternatif adalah jalan memutar ke Danau Singkarak, yaitu dari Padang-Solok-Danau Singkarak-Padang Panjang-Bukittinggi.
Finot belum dapat memperkirakan kapan jalan tersebut dapat dilewati. Petugas tengah berupaya membersihkan material sisa banjir bandang. Ia pun mengimbau pengendara dari arah Padang ataupun arah Bukittinggi beralih ke jalur alternatif melewati Danau Singkarak.
”Kami terus berupaya bekerja sama dengan instansi terkait, tetapi kami tidak dapat memastikan kapan jalur (Padang-Bukittinggi) di Lembah Anai dapat dilewati,” ujar Finot.
Di jembatan kembar, Sabtu siang, tim SAR gabungan masih berupaya mengevakuasi korban. Petugas mengevakuasi dua jenazah dari mobil Innova warna silver yang terbalik tertimbun lumpur di sekitar jembatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/dd32d0a7382c70d29b90ff816c72de0c-DSC04596_2.JPG)
Sementara itu, dari kejauhan, puluhan warga menyaksikan proses evakuasi. Mereka tidak hanya warga setempat yang keluarganya hilang, tetapi juga warga dari beberapa daerah yang keluarganya hilang kontak dan terakhir kali berada di lokasi itu.
Banjir bandang di jembatan kembar terjadi pada Kamis (27/11/2025) siang. Bencana dipicu hujan lebat yang terjadi dalam sepekan terakhir. Air bah datang dari anak sungai yang merupakan hulu Sungai Batang Anai.
Selain rumah warga, di sekitar jembatan kembar di perbatasan Padang Panjang dan Tanah Datar itu terdapat banyak warung dan mushala. Lokasi tersebut biasanya menjadi tempat istirahat (rest area) ataupun berteduh pengendara saat hujan ketika melewati kawasan Lembah Anai.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, hingga Jumat (28/11/2025) malam, total ada 7 korban jiwa dan 3 orang luka-luka dalam banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11/2025) siang itu. Dari jumlah itu, tidak semuanya warga Padang Panjang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/3321c92a1d10df6db652f7cf0dfc6d92-DSC04400.JPG)
Sekretaris Kelurahan Silaing Bawah Nurmiati Amin di Padang Panjang, Sabtu, mengatakan, ada 36 warga RT 020 yang bermukim di sekitar jembatan itu dilaporkan hilang oleh ketua RT setempat dan masyarakat. ”Mereka belum ditemukan dan belum dapat dihubungi,” kata Nurmiati.
Nurmiati menjelaskan, ada 25 rumah yang hanyut dan 5 rusak berat akibat banjir bandang di RT 020 yang berada di sekitar jembatan kembar di jalan nasional Padang-Bukittinggi itu. Secara keseluruhan, ada 202 jiwa yang bermukim di RT 020.
Jumlah korban pun kemungkinan lebih banyak daripada data korban dari laporan resmi. Pendi (44), pengendara yang selamat, menyebut, banjir bandang terjadi pada Kamis sekitar pukul 11.30.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/7abff8e0e450e91e128d43fba505f583-d9877223_ff88_4960_bab9_006df2b225f3.jpeg)
”Orang ramai di lokasi. Mungkin ada 30 pengendara berhenti di sana. Ada belasan sepeda motor dan sepuluh mobil berhenti di lokasi,” kata Pendi yang berangkat dengan sepeda motor dari Pekanbaru menuju Padang Pariaman.
Pendi mengatakan, selain karena hujan deras, ia dan pengendara lain berhenti di kedai di lokasi kejadian karena melihat bendera merah di jalan. Di jalan arah ke Padang (hilir sungai), ada batang kayu rebah menghambat jalan. ”Orang-orang yang berhenti inilah yang dihantam banjir bandang,” katanya.
Suheri (53), warga Kelurahan Silaing Bawah, mengatakan, sampai saat ini ayah, ibu, dua adik, keponakan, dan kakak iparnya belum ditemukan. Rumah orangtua dan warung milik adiknya di sekitar jembatan ini tak berbekas disapu banjir bandang. ”Sampai sekarang belum satu pun yang ditemukan,” katanya.
Bencana banjir dan longsor melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Puluhan ribu keluarga terdampak bencana itu. Dana Kemanusiaan Kompas membuka dompet kemanusiaan untuk menampung bantuan pembaca yang hendak meringankan derita para korban. Dompet dibuka hingga tanggal 31 Desember 2025. Bantuan dapat ditransfer ke rekening Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas, Rekening BCA Cabang Gajah Mada, Jakarta, Nomor A/C 0123021433
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum