Pengiriman Logistik di Sumbar Masih Andalkan Jalur Udara

Pengiriman logistik di Sumbar masih harus diturunkan lewat udara. Banyak jalur darat belum bisa dilalui kendaraan.

01 Des 2025 21:03 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI PEMPROV SUMATERA BARAT

Oleh Runik Sri Astuti

JAKARTA, KOMPAS — Pengiriman logistik ke berbagai daerah di Sumatera Barat masih harus dilakukan menggunakan jalur udara, Senin (1/12/2025). Jalur darat menuju daerah itu masih tertutup material longsor dan banjir bandang.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari mengatakan, jalur udara masih menjadi pilihan utama menyalurkan logistik.

Untuk Solok, misalnya, logistik seberat 360 kilogram dibawa helikopter Badan SAR Nasional (Basarnas). Bantuannya berupa makanan kemasan, beras, air mineral, bahan baku makanan, kasur, dan obat-obatan. 

Di Maligi, Kabupaten Pasaman Barat, bantuan seberat 1,34 ton dibawa helikopter TNI AU. Bantuannya berupa bahan pangan dan non-pangan, seperti makanan olahan, makanan anak, makanan siap saji, air mineral, family kit dan selimut.  

Untuk Agam juga belum sepenuhnya bisa dicapai melalui darat. Bantuan pangan dan nonpangan seberat 2,3 ton diterjunkan menggunakan helikopter TNI AU ke Tiku dan Sungai Puar, Agam.

Warga melintas di permukiman yang dilanda banjir bandang di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025). Ratusan rumah hanyut dan rusak akibat disapu banjir bandang yang datang dari Sungai Nanggang pada Kamis (27/11/2025). Kini warga kesulitan air bersih, listrik, dan jaringan telekomunikasi.

Hingga Senin, kata Muhari, di Kabupaten Solok, terdapat 958 keluarga atau 3.949 jiwa mengungsi. Adapun total populasi terdampak bencana sebanyak 4.750 keluarga.

Di Kabupaten Pasaman Barat, jumlah pengungsi sebanyak 338 keluarga atau 1.491 jiwa. Total warga terdampak bencana di sana sebanyak 14.808 keluarga atau 57.948 jiwa.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Mochammad Syafii mengatakan, sejauh ini, korban terbanyak bencana Sumatera ada di Sumbar.

Berdasarkan data yang dihimpun Basarnas pada Senin (1/12/2025) hingga pukul 12.00 WIB, jumlah korban terevakuasi di Sumbar mencapai 29.445 jiwa. Adapun jumlah korban meninggal sebanyak 128 jiwa dan 114 jiwa masih dicari.

Di Sumut, korban yang terevakuasi 3.029 jiwa dengan jumlah korban meninggal mencapai 217 jiwa dan 168 jiwa lainnya masih dalam proses pencarian. Adapun di Aceh, jumlah korban terevakuasi sudah mencapai 1.146 jiwa dengan korban meninggal 102 jiwa dan 116 jiwa lainnya belum ditemukan.

Warga membersihkan sisa-sisa sampah kayu dan lumpur setelah terjadinya banjir Bandang di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025).  Berdasarkan data dari Pemkab Solok sebanyak 62 unit rumah masyarakat rusak berat, 229 rusak sedang dan 412 rusak ringan yang tersebar di sembilan Kecamatan, 16 Nagari dan 5.420 jiwa yang terdampak bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten tersebut. ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan/Lmo/nz

Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, pihaknya mengerahkan sumber daya dan personel terbaik dari unit-unit seluruh Indonesia untuk memulihkan jaringan listrik di wilayah terdampak bencana.

”Kami mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto bahwa seluruh kekuatan PLN harus dikerahkan untuk membantu pemulihan bencana, baik banjir bandang maupun tanah longsor yang terjadi di Aceh. Untuk itu kami semua berkolaborasi,” ujar Darmawan.

Anggota kepolisian bersiap berangkat menuju Sumatera Utara untuk bergabung dengan tim SAR yang menangani bencana banjir dan tanah longsor, di Mako Polisi Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Senin (1/12/2025). Selain personil, pesawat juga membawa logistik bantuan untuk korban bencana alam di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Dalam proses pemulihan tersebut, PLN berkolaborasi dengan Pemprov Aceh, Kodam Iskandar Muda, Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda, Polda Aceh, dan BPBD Aceh di bawah koordinasi pemerintah pusat.

Salah satu langkah krusial adalah pengiriman unit-unit tower darurat dari Jakarta menuju Banda Aceh menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU. Selain itu, beberapa unit juga diangkut melalui jalur darat dan laut dengan dukungan TNI AD dan polisi.

”Kami juga harus menggunakan helikopter untuk membawa material ke lokasi. Ada helipad yang perlu dibuka dan di sana pasukan dari TNI dan kepolisian ikut membantu. Kekompakan ini menjadi kekuatan besar dalam percepatan pemulihan,” kata Darmawan.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Runik Sri Astuti
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase