Aksi ”Pangeran Biru” hingga ”Abah Timi” Cegah Sampah Timbun Kota Bandung

Klub sepak bola Persib Bandung hingga warga di beberapa daerah di Kota Bandung kini giat mengumpulkan dan mengolah sampah. Tak ingin kotanya ditenggelamkan sampah.

04 Jan 2025 09:00 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Setelah ramai diperbincangkan, Pemerintah Kota Bandung akhirnya menjatuhkan sanksi kepada pengelola Pasar Induk Caringin. Itu tidak lepas dari buruknya penanganan sampah di sana. Tidak tanggung-tanggung, tumpukan sampahnya mencapai 4.000 meter kubik.

Berdasarkan arahan Kementerian Lingkungan Hidup, pengelola Pasar Induk Caringin dijatuhi sanksi administratif. Terhitung sejak Kamis (2/1/2025), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung Dudy Prayudi mengatakan, pengelola wajib mengosongkan sampah hingga 14 hari ke depan. Pengelola juga harus menyelesaikan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

”Jika kewajiban ini tidak dipenuhi, sanksi lebih berat akan diberikan. Salah satunya pembekuan izin pengelolaan,” katanya.

Sebelumnya, sebuah video di media sosial Tiktok tentang tumpukan sampah di depan Pasar Caringin, Kota Bandung, Jawa Barat, viral. Diunggah pada 14 Desember 2024, video itu memberi fakta pengelolaan sampah masih jauh dari ideal di ibu kota Provinsi Jabar ini.  

Tumpukan sampah sekitar 4 meter di Pasar Caringin, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Selasa (24/12/2024). Tumpukan sampah ini karena belum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti.

Video yang diunggah Depupi Iskandar itu ditonton hingga 738.000 pengguna internet (netizen). Depupi mengeluhkan bau menyengat sampah yang tercium hingga rumah kontrakannya.

Dari rumahnya, jarak gunungan sampah setinggi 4 meter itu sekitar 100 meter. Tiupan angin mengakibatkan bau busuk sampah tersebar dengan radius lebih dari 100 meter hingga ke luar kompleks pasar induk.

Selain surat peringatan, Penjabat Wali Kota Bandung A Koswara mengatakan, pihaknya juga telah menguji potensi pencemaran lingkungan yang terjadi akibat penumpukan sampah.

”Langkah-langkah sudah dilakukan, termasuk menambah kuota pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sejak dua minggu lalu. Memang sudah ada sedikit pengurangan sampah di Caringin, tetapi hasilnya belum signifikan,” kata Koswara.

Tumpukan sampah di Pasar Induk Caringin menjadi gunung masalah dari peliknya pengelolaan sampah di Kota Bandung, setidaknya sepanjang tahun lalu. Selain di Caringin, tumpukan sampah tidak terangkut hingga tingginya ritase (siklus perjalanan) ke TPA masih menjadi masalah.

Butuh strategi baru

Pemkot Bandung mengklaim sudah melakukan berbagai hal. Selain masih mempromosikan gerakan Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan (Kang Pisman) dan membuat kawasan bersih sampah (KBS) di 400 RW, dibuat juga kerja sama dengan perguruan tinggi, BUMD, dan swasta untuk mengelola sampah secara mandiri.

Program dibuat dengan nama menarik dengan harapan bisa menjadi magnet minat warga mengelola sampah juga dilakukan di tingkat kelurahan. Di Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, misalnya, ada Jempol Soma (Jemput dan Olah Limbah Sampah Organik Masyarakat).

Sepanjang tahun 2024, Jempol Soma mengumpulkan dan mengolah 1.047 kg sampah organik dari warga serta pelaku usaha di beberapa RW. Sampah diproses di Rumah Maggot untuk budidaya larva maggot (BSF).

Ada juga program Abah Timi singkatan dari abdi milah sampah ti bumi (saya memilah sampah dari rumah) yang dilakukan warga Antapani Tengah, Kecamatan Antapani. Pada intinya, program itu dibuat untuk memilah sampah sejak dini dari rumah.

Maggot yang digunakan warga Kelurahan Husein Sastranagara, Kecamatan Cicendo dalam program Jemput dan Olah Limbah Sampah Organik Masyarakat

Sejauh ini, kata Dudy, berbagai usaha itu disebut bisa menekan ritase ke TPA Sarimukti di Bandung Barat. Menurut dia, rata-rata ritasi sampah di TPA Sarimukti menurun.

Dari 153,4 ritase per hari pada November 2024 menjadi 136,58 ritase per hari pada Desember 2024. Namun, ia menegaskan penanganan sampah di sumber dan pengolahan masih harus ditingkatkan.

Penurunan ritase ini penting. TPA Sarimukti seluas 43 hektar diperkirakan telah melebihi 90 persen. Rata-rata jumlah sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti masih tercatat 1.750 ton per hari hingga Oktober 2024. Jumlah itu melebihi batas yang ditetapkan, yakni 1.000 ton per hari.

Jumlah sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti lebih dari 300 ritase pengantaran oleh truk. Selain Kota Bandung, sampah berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

Koswara mengatakan tantangan pengelolaan sampah ke depan tidak akan mudah. Berdasarkan data Pemkot Bandung per 4 Oktober 2024, timbulan sampah mencapai 1.796,51 ton per hari. Hanya 993 ton diangkut ke TPA Sarimukti. Tahun ini, bisa jadi sampahnya bertambah dan tidak semua terangkut.

Seorang pengendara sepeda melewati tumpukan sampah di ruas Jalan Ahmad Yani dekat Pasar Cicadas, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/11/2023). Penumpukan sampah di ruas jalan ini terjadi setelah pengelolaan sampah di Kota Bandung terkendala pascakebaran Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, yang terbakar Agustus 2023.

Oleh karena itu, dia menyebut Kota Bandung perlu strategi baru untuk mengelola sampah secara lebih efektif pada tahun 2025. Ia meminta kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan KBS di tingkat kecamatan dan RW.

”Kita harus membuat target yang jelas, dan itu menjadi tantangan untuk keluar dari zona nyaman. DLH dan dinas terkait harus menyusun program yang konkret untuk 2025, termasuk indikator mana yang dipilah dan mana yang tidak dipilah,” ujar Koswara.

Selain itu, pembentukan kluster pengelolaan sampah di berbagai wilayah akan menjadi fokus, dengan evaluasi kinerja berbasis data yang lebih terintegrasi. Koswara berharap, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait, pengelolaan sampah di Kota Bandung dapat mencapai kondisi ideal.

Sejauh ini, ajakan memilih sampah sudah dilakukan beberapa kalangan swasta secara mandiri. Beberapa hotel di Bandung, misalnya, berinisiatif memilih dan mengolah samnpah sebelum dibuang ke TPS.

Persib Bandung

Bahkan, tim sepak bola Persib Bandung juga punya inisitif serupa. Setidaknya, dalam dua laga kandang Liga 1, sampah yang ditinggalkan penonton dikumpulkan untuk nanti diolah kembali.

Salah satu contohnya saat 806 kg sampah dikumpulkan seusai laga Persib, yang dijuluki ”Pangeran Biru”, melawan Persita Tangerang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 22 Desember 2024. Sebelumnya, jumlah lebih banyak mencapai 1.032 kg sampah dikumpulkan kala laga melawan Malut United, 13 Desember 2024.

Head of Communications PT Persib Bandung Bermartabat Adhi Pratama mengatakan, sampah terdiri dari berbagai jenis sehingga harus dikelola dengan pendekatan berbeda. Setelah laga melawan Persita, misalnya, 124 kg sampah organik diolah untuk pakan ternak larva BSF dan pupuk kompos.

Kampanye membuang sampah yang dilakukan klub sepak bola Persib Bandung bersama Jubelo setiap laga kandang di Bandung. Ratusan hingga ribuan kilogram sampah dikumpulkan dan diolah lagi dengan berbagai metode.

Selain itu, ada 544 kg sampah anorganik yang disalurkan ke industri daur ulang untuk diolah menjadi produk baru dan 138 kg sampah residu dikelola mitra pengolahan sampah untuk proses pemrosesan akhir. Salah satu mitra Persib mengelola sampah adalah platform Jubelo.

”Program ini merupakan langkah nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di lingkungan perkotaan. Persib berupaya menciptakan lingkungan yang lebih ramah lingkungan melalui efisiensi sumber daya dan mendorong gaya hidup berkelanjutan,” kata Adhi.

Sampah belum berhenti menjadi masalah di Kota Bandung. Namun, dengan pengelolaan dan kemauan yang tepat, sudah saatnya sampah menjadi anugerah demi masa depan yang lebih baik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji