Semua aktivis internasional yang sebelumnya ditahan Israel sedang dalam perjalanan menuju bandara sipil di dekat kota Eilat di Israel selatan.
21 Mei 2026 19:18 WIB · Internasional
AFP
Belasan foto tangkapan layar rekaman video yang dirilis akun Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvirís pada Rabu (20/5/2026) membuat gempar dunia. Dalam sebuah foto nampak menteri Israel itu berteriak pada seorang aktivis yang terikat.
Dalam foto yang lain, terlihat puluhan aktivis yang ditahan dari armada bantuan yang menuju Gaza dipaksa berlutut dengan tangan diikat di belakang punggung hingga dahi mereka menyentuh lantai dek kapal militer di Israel. Seorang aktivis dengan tangan terikat di belakang punggungnya, terlihat dikawal oleh pasukan keamanan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/0460b4aa-95f1-4160-a834-402185309f12.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/eed52957-af36-4ccf-a294-9c556a552c41.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/2b7c68fe-e00d-4754-8e3f-b26a3f9ca717.jpg)
Video yang ditayangkan setelah pasukan Israel mencegat kapal armada di laut dan mulai menahan ratusan aktivis asing di pelabuhan selatan Ashdod ini memicu kecaman di Israel maupun di kalangan internasional. Ben Gvir dikritik oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Saar atas keputusannya menayangkan video ini.
Di dunia internasional, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan perilaku Ben-Gvir terhadap para aktivis armada itu sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima." Italia sebelumnya mengatakan warganya berada di atas kapal, termasuk seorang anggota parlemen dan seorang jurnalis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/bfea5c78-d608-4118-8faa-23c9901627c1.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/e1711308-b0d1-47b0-b9a7-afb983e1db4c.jpg)
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Rabu mengatakan bahwa warga negara Korea Selatan juga termasuk di antara mereka yang ditahan oleh pasukan angkatan laut Israel. Ia menyebut tindakan Israel sebagai perbuatan yang sangat melampaui batas.
Turki juga mengutuk perbuatan Israel yang digambarkan sebagai penyiksaan terhadap para aktivis. Turki bekerja sama dengan negara-negara lain tengah berusaha membebaskan warga negara Turki dan aktivis lainnya dengan cepat dan aman. Sedangkan Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda memanggil diplomat-diplomat tinggi Israel di negara mereka terkait perlakuan terhadap anggota armada Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/9486534b-1e53-4096-8254-7cf2a9626fc5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/b57a5b58-b6aa-4ba1-898d-f353b728ec6f.jpg)
Para aktivis yang berada di atas armada kapal menuju Palestina untuk memberi bantuan, telah dicegat dan dipindahkan ke kapal tentara Israel. Sebanyak 50 kapal dengan aktivis dari 40 negara berada dalam konvoi itu.
Perkembangan terbaru, sebuah kelompok advokasi hukum yang berbasis di Israel, mengatakan pada Kamis (21/5/2026) bahwa semua aktivis internasional tersebut sedang dalam perjalanan menuju bandara sipil di dekat kota Eilat di Israel selatan untuk dideportasi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Rabu telah menginstruksikan agar para aktivis tersebut dideportasi sesegera mungkin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/2e3a6a1d-b41d-412f-9160-327ec0a82bee.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/38c2740b-0f80-4f97-a46d-062a42360d2b.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/21/2f504864-25c1-4280-810c-ff761fc8280e.jpg)
Namun, salah satu peserta, Zohar Regev, yang memegang kewarganegaraan Israel, sedang menjalani sidang pengadilan di kota Ashkelon di selatan. Ia diadili atas tuduhan masuk secara ilegal ke Israel dan tinggal secara tidak sah. Regev telah ikut serta dalam konvoi kapal sebelumnya ke Gaza. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim