Sejauh ini tidak ada bandara yang ditutup dan tidak ada penerbangan yang dibatalkan akibat erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur, tetapi Airnav akan terus memantau.
20 Nov 2025 16:28 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN
JAKARTA, KOMPAS — Aktivitas penerbangan di sejumlah kota, seperti Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan Yogyakarta, tak terdampak erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Sejauh ini, penerbangan berjalan normal dan tak ada penutupan bandara.
Executive Vice President Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro mengatakan, sejauh ini belum ada bandara yang ditutup dan belum ada penerbangan yang dibatalkan. ”Sampai informasi ini kami terbitkan, situasi belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukan penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik,” kata Hermana dalam rilis yang diterima Kompas.id, Kamis (20/11/2025).
Kendati demikian, Hermana menegaskan, Airnav Indonesia terus memantau intensif terhadap rute-rute penerbangan maupun bandara-bandara yang berpotensi terdampak. Airnav juga akan konsisten menginformasikan perkebangan terkini. Pemutakhiran jalur penerbangan dilakukan apabila diperlukan, sesuai perkembangan terbaru dari pusat informasi vulkanik dan satelit cuaca.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/32913d61be23c1cf089dcd96a44eedc6-20251120BAH36.jpg)
Dalam laporan terakhir, status Gunung Semeru ditetapkan dengan status Red Code yang berarti aktivitas letusan cukup signifikan dan berpotensi mengganggu jalur penerbangan.
Abu vulkanik terpantau berada pada dua ketinggian berbeda. Pada level rendah, sebaran abu berada pada permukaan kurang lebih 4.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Abu bergerak ke tenggara dengan kecepatan angin sekitar 5 knot.
Sebaran abu pada level tinggi berada pada ketinggian 13.500 mdpl. Angin bergerak ke barat daya dengan kecepatan 15 knot.
Pada pengamatan terakhir sebelum aviation safety NOTAM, (ASTHAM) abu pada ketinggian tinggi sudah sulit terlihat karena tertutup awan cuaca. Namun, model pergerakan menunjukkan abu itu akan melemah dalam beberapa jam kedepan. Sementara itu, abu pada ketinggian rendah masih terpantau jelas dan terus bergerak ke arah tenggara.
”Namun trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak menjauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak,” kata Hermana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/07/20210207GER_Bandara-Banyuwangi-Tutup5_1612682397.jpg)
Hasil paper test yang dilakukan PT Angkasa Pura Indonesia maupun kantor otoritas bandara pada bandara-bandara terdekat hasilnya semua negatif.
Manajer Hukum dan Humas Daop IX Jember Cahyo Widiantoro mengatakan, perjalanan kereta api masih tetap aman setelah erupsi Semeru.
Seusai letusan Semeru, KAI Daop 9 mengecek jalur lintas KA Jatiroto-Ranuyoso yang lokasinya terdekat dengan Gunung Semeru. Tim memeriksa jalur rel, jembatan, stasiun, serta pelintasan sebidang untuk memastikan keamanan operasional KA.
Hasilnya, seluruh prasarana dan jalur kereta api di lintasan itu berada dalam kondisi aman. Tidak ditemukan material vulkanik, seperti abu atau pasir yang mengganggu jalur rel maupun persinyalan. Seluruh perjalanan KA beroperasi normal sesuai jadwal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/ec9188745be60a1ce6cb84427012e075-20251120BAH39.jpg)
KAI Daop 9 juga meningkatkan patroli jalur serta menyiagakan alat pembersih jalur untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu di area operasi.
Gunung Semeru di Jawa Timur meletus pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB. Status Gunung Semeru dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level IV (Awas) pada Rabu pukul 17.00 WIB atau hanya berselang sejam seusai letusan. Awan panas sudah terpantau menerjang Gladak Perak, jembatan utama penghubung Kabupaten Malang-Lumajang.
Penulis:
Siwi Yunita CahyaningrumEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul