Bagi orang biasa, hidup frugal adalah kebutuhan. Bagi orang berada, hidup frugal adalah pilihan bebas.
14 Feb 2025 18:33 WIB · Opini
Bertubi-tubi, kalau boleh dibilang, empasan krisis global dalam satu dekade terakhir: perang, konflik, pandemi, perubahan iklim, bencana alam, krisis energi global. Semuanya berimbas mendalam pada berbagai segi kehidupan warga di banyak negara.
Gelombang PHK, sempitnya peluang kerja, lonjakan harga kebutuhan pokok dan energi memukul keras kehidupan, menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga berada, tragedi bagi warga biasa, dan tumpukan derita bagi warga miskin. Merosotnya pendapatan yang layak bagi pekerja menengah ke bawah telah mengancam daya tahan kehidupan keluarga dan kesejahteraan anak.
Aneka krisis itu menimbulkan tanggapan beragam pada tingkat pemerintah, organisasi, komunitas, dan individu. Banyak negara di dunia telah menggulirkan dana guna meredam inflasi dan melindungi kelompok paling rentan agar tidak jatuh dalam jurang kemiskinan dan hidup sebagai tunawisma tanpa harapan.
Kebijakan pengetatan anggaran oleh Presiden Prabowo menjadi contoh cara pemerintah menyiasati krisis keuangan, yang ditanggapi secara berbeda oleh sejumlah kalangan. Kita berharap kebijakan efisiensi anggaran sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memotong ekonomi biaya tinggi dari ekstravaganza budaya birokrasi. Menggunakan ungkapan yang sedang digandrungi dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Indonesia mulai mengarah ke pemerintahan ”frugal”: merancang anggaran terbatas tepat sasaran.
Jika pemerintah saja sudah membangun budaya frugal, bagaimana dengan rakyat? Sekalipun berbagai bantalan atau jaring pengaman sosial, seperti bansos, makan gratis, potongan tarif listrik, dan aneka kebijakan belas kasih, atau apa pun namanya, sudah dibuat, pada akhirnya yang amat diperlukan warga adalah pulihnya penghasilan mereka.
Daripada memamerkan uang, mereka mulai berinvestasi pada ”kemewahan yang tak terjangkau” (kesederhanaan), berdasarkan kenyamanan dan kualitas hidup. Daripada merayakan kemewahan, mereka membagikan kedermawanan.
Bagi masyarakat menengah ke bawah, berbagai upaya dilakukan untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan, termasuk sektor informal atau kerja serabutan, untuk keluar dari ”krisis kantong”. Meskipun tetap ada saja yang mau bergaya di tengah hidup merana; kantong boleh kosong, penampilan tetap kinclong. Namun, ada juga yang memilih gaya hidup frugal.
Akhir-akhir ini, gaya hidup frugal menular ke sebagian kelas menengah berada, sebagian karena pelarian untuk penghematan, sebagian karena penjelajahan untuk kepuasan pribadi. Ketika mengetahui megabintang The Matrix, Keanu Reeves, masih sering bepergian dengan motor dan moda transportasi publik, dan dengan nyaman menanggalkan ketenaran dan berdesakan dengan warga; dan ketika melihat gitaris, penyanyi, dan aktivis politik progresivisme Bruce Springsteen suka mengenakan sepatu bot usang, celana jins pudar, dan jaket kulit usang, media Barat menyebutnya kemewahan telah menyerah pada tampilan yang lugas, blak-blakan, dan tidak berlebihan. Daripada memamerkan uang, mereka mulai berinvestasi pada ”kemewahan yang tak terjangkau” (kesederhanaan), berdasarkan kenyamanan dan kualitas hidup. Daripada merayakan kemewahan, mereka membagikan kedermawanan.
Dari media sosial, kita juga mulai melihat beberapa pesohor dan pejabat di Indonesia yang sudah biasa menjalani hidup bersahaja dan menggunakan mode transportasi publik. Tampaknya, generasi dengan nilai ”pasca-materialis”—menggunakan istilah yang dipopulerkan oleh ilmuwan politik Ronald Inglehart dalam bukunya, The Silent Revolution—sedang muncul di Tanah Air.
Semboyan ”aku frugal maka aku ada!” kian memasuki relung generasi yang memandang faktor ”kualitas hidup” yang mencakup keinginan untuk lebih banyak kedamaian, ketenangan, rasa komunitas yang lebih kuat, kedekatan dengan alam, sedang mencari ruang untuk mendapatkan lebih banyak suara dalam pemerintahan, dan lebih banyak pendukung dalam gerakan sosial dan komunitas.
Berbagai alasan orang menjalani gaya hidup frugal, seperti untuk keluar dari jerat utang atau terbebas dari utang, hidup sesuai kemampuan, tabungan untuk pendidikan atau cicilan rumah, ongkos liburan yang menyenangkan, atau ketika mengalami krisis keuangan (seperti PHK) tanpa kehilangan uang. Sebagian menjalani gaya hidup frugal karena dipaksa keadaan, sebagian untuk kepuasan sebagai pilihan yang disadari, sehingga tak lagi mengkhawatirkan penilaian orang lain tentang gaya hidupnya. Bagi masyarakat kolektif seperti Indonesia, ketika simbol-simbol pengakuan kesuksesan sering diperlihatkan dalam kepemilikan barang, hidup frugal lebih menantang.
Gagasan tentang ”Anda hanya butuh sedikit” bukan hal baru. Ia sudah dicontohkan oleh para nabi, orang suci, atau para asketik. Tetapi, di tengah aneka krisis, ia dimaknai dan dihayati secara baru. Bagi orang biasa, hidup frugal adalah kebutuhan. Bagi orang berada, hidup frugal adalah pilihan bebas. Pilihan sering bergantung pada kesadaran dan tanggapan atas perubahan lingkungan yang dihayati.
Hidup frugal bukan hidup menderita, seperti halnya hidup melambat bukanlah hidup tanpa kreativitas, melainkan hidup efisien dan bijaksana, atau dalam artian paling ideal; hidup dalam swasembada dan kepenuhan diri. Kini, bahkan para hedonis dan materialis di negara berkembang mulai terpaksa mendukung sikap kesederhanaan sukarela ketika degradasi lingkungan di sekitar mereka secara langsung berdampak pada kesehatan, kekayaan, dan kesejahteraan mereka.
Sisi gelap overkonsumsi dan materialisme yang melampaui batas mulai mendapat sisi terang dari penganjur gaya hidup lambat dan frugal. Mereka mengisi celah harapan bagi gerakan kesadaran lingkungan dan gerakan gaya hidup sederhana yang justru secara sinis sering dicap sebagai para utopis yang tak berdaya menghadapi struktur masyarakat kapitalisme-neoliberalisme.
Lonjakan minat pada gaya hidup frugal dan lambat yang berlangsung secara global dalam dua dekade terakhir menggambarkan konflik nyata antara pertumbuhan konsumsi material yang tak terbatas dan tak terkendali dan terkurasnya sumber daya lingkungan, sementara manusia menanggapinya secara beragam di tengah keberlimpahan atau keterbatasannya.
Idi Subandy Ibrahim, Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi; Pengajar di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Pasundan, Bandung; dan Pengajar Luar Biasa di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Malang
Penulis:
Idi Subandy IbrahimEditor:
Dahono Fitrianto