Alarm Bulu Tangkis Indonesia

Kegagalan membawa pulang trofi juara dari All England 2026, serta rentetan kegagalan dari sejumlah turnamen sebelumnya, menjadi alarm bagi bulu tangkis Indonesia.

10 Mar 2026 02:00 WIB · Tajuk Rencana

Humas PP PBSI

Oleh Redaksi

Skuad Merah Putih bahkan untuk pertama kalinya sejak 2011 tak mampu menempatkan wakil di final (kecuali pada 2021 karena adanya diskualifikasi akibat Covid-19). Satu hal positif yang didapat dari Birmingham, Inggris, adalah penampilan ganda putra Raymond Indra/Nikolaus Joaquin yang mampu menembus semifinal.

Bermain di All England untuk pertama kalinya, Raymond/Nikolaus mampu menghentikan sejumlah pemain papan atas, termasuk dua pasangan peringkat 10 besar dunia, Liang Wei Keng/Wang Chang (3) dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri (5). Meski kelemahan terlihat jelas ketika menghadapi ganda putra terbaik dunia Kim Won-ho/Seo Seung-jae di semifinal, Raymond/Nikolaus yang berusia 21 tahun dan 20 tahun ini masih punya banyak waktu untuk meningkatkan kemampuan.

Sementara itu, wakil Indonesia lainnya kompak berguguran di perempat final atau lebih awal, seperti Jonatan Christie, Alwi Farhan, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat, dan Putri Kusuma Wardani. Bagi Alwi, Amri/Nita, dan Rahmat, perempat final tak terlalu buruk mengingat ini juga debut mereka di ajang bergengsi ini.

Indonesia harus segera melakukan perbaikan mengingat hasil yang kurang menggembirakan di berbagai turnamen yang diikuti atlet Merah Putih dalam beberapa waktu terakhir. Di ajang Kejuaraan Bulu Tangkis Asia Beregu, misalnya, yang bisa menjadi tolok ukur untuk Piala Thomas dan Uber 2026, tim putra dan putri hanya mampu melaju sampai semifinal.

Indonesia's Raymond Indra and Nikolaus Joaquin play against South Korea's Kim Won-ho and Seo Seung-jae during the men's doubles semifinal match at the All England Open Badminton Championships in Birmingham, England, Saturday, March 7, 2026. (AP Photo/Kin Cheung)

Adapun di ajang individu, prestasi atlet Indonesia juga kurang meyakinkan. Pada turnamen sekaliber All England (Super 1000), yaitu Malaysia Terbuka 2026, hasil terbaik juga hanya semifinal yang didapat Jonatan dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Jonatan juga mencapai final India terbuka yang berkategori Super 750.

Dari turnamen BWF World Tour sepanjang tahun 2026 ini, Indonesia hanya kebagian gelar dari ajang berkategori Super 500 ke bawah. Alwi Farhan juara di Indonesia Masters Super 500, sedangkan empat gelar didapat dari Thailand Masters Super 300.

Hasil berbagai turnamen itu makin menegaskan bahwa sebagian besar atlet Indonesia masih berada di bawah atlet top dunia dalam persaingan tingkat elite. Harus ada upaya ekstra untuk mengungkit prestasi mereka.

Indonesia juga harus mulai berpikir realistis dalam membuat target dan rencana untuk ajang-ajang besar selanjutnya, mulai dari Thomas-Uber, Asian Games 2026, hingga nantinya periode kualifikasi Olimpiade 2028 (3 Mei 2027 hingga 30 April 2028). Setelah tanpa medali di Asian Games 2022 dan hanya satu perunggu dari Olimpiade 2024, Indonesia diburu waktu untuk mencetak pemain andal guna mengembalikan tradisi medali bulu tangkis di Asian Games dan emas di Olimpiade.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Redaksi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar