Alarm Pelemahan Ekonomi, Kucuran Kredit Otomotif Lebih Selektif

Selain berhati-hati di tengah pelemahan ekonomi, gelaran IIMS 2025 diharapkan dapat membuat pasar otomotif domestik kembali menggeliat.

13 Feb 2025 20:00 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Selama 2024, tren pembiayaan otomotif tumbuh melambat akibat tekanan daya beli masyarakat sehingga industri pembiayaan lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Kehadiran pameran diharapkan dapat memberi angin segar di tengah lesunya pasar otomotif.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan per Desember 2024 tumbuh 6,92 persen secara tahunan atau berada di bawah target pertumbuhan sebesar 10-12 persen. Pada 2025, target pertumbuhan piutang pembiayaan turun menjadi 8-10 persen atau minimal menyentuh Rp 543,70 triliun.

Sejalan dengan itu, tren pembiayaan otomotif yang menyumbang 65,79 persen dari total piutang pembiayaan turut melambat. Masih merujuk data OJK, pembiayaan otomotif per November 2024 mencapai Rp 321,7 triliun, 8,13 persen secara tahunan, atau melambat dibanding pada 2023 yang tumbuh 17,55 persen secara tahunan.

Chief of Sales, Service and Distribution Officer Adira Finance Niko Kurniawan mengatakan, pelemahan ekonomi domestik masih menjadi tantangan pada 2025. Hal ini tidak lepas dari ketidakpastian global dan pelemahan ekonomi China yang berpotensi turut memperlemah ekonomi domestik sehingga membuat daya beli ikut melemah.

”Belum lagi ada kenaikan pajak untuk kepentingan pembangunan, tetapi pelaku usaha industri keuangan positif, yakin pemerintah akan membuat aturan-aturan yang mendukung iklim usaha, seperti insentif kendaraan hibrida. Semoga ada juga subsidi PPNBM (Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah) untuk mendorong pasar,” tuturnya saat ditemui dalam Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025 di JIEXpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/2/2025).

Konpers MUFG

Menurut Niko, kebijakan terkait kenaikan pajak memang akan berdampak bagi pasar. Kendati demikian, harga-harga mobil saat ini cenderung semakin terjangkau seiring dengan masuknya produk asal China sehingga pasar dapat beradaptasi dengan mudah.

Chief of Business and Portfolio Officer Adira Finance Harry Latif menambahkan, pelemahan ekonomi akan berdampak terhadap daya beli dan daya bayar masyarakat. Oleh sebab itu, Adira akan menganalisis kemampuan bayar dari nasabahnya sebelum memberikan fasilitas kredit.

Quote

Lebih selektif artinya melihat ’customer’ mana yang memang membutuhkan. Sebab, logikanya, begitu daya beli berkurang, seharusnya ’customer’ tidak akan membeli barang apa pun juga. Jadi, kalau dia mau beli mobil baru dan motor baru, selama masih mampu, kami akan tampung.

Dengan kata lain, penyaluran kredit akan lebih selektif dan hanya menyasar kepada nasabah yang benar-benar memiliki kemampuan bayar. Beberapa indikator yang digunakan untuk memastikan nasabah memiliki kemampuan bayar antara lain besaran penghasilan dan riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

”Lebih selektif artinya melihat customer mana yang memang membutuhkan. Sebab, logikanya, begitu daya beli berkurang, seharusnya customer tidak akan membeli barang apa pun juga. Jadi, kalau dia mau beli mobil baru dan motor baru, selama masih mampu, kami akan tampung,” ujar Harry.

Suasana Hari pertama Pameran Otomotif Indonesia International Motor Show 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (13/2/2025 ). Pameran otomotif ini akan berlangsung hingga 23 April 2025

Di sisi lain, ketika harga mobil baru dirasa sudah tidak terjangkau oleh masyarakat, terbuka juga pembiayaan terhadap kendaraan bekas. Dalam hal ini, Adira turut mengambil ceruk pasar kendaraan bekas sehingga pembiayaan tetap mampu tumbuh positif di tengah tantangan ekonomi.

Selain itu, adanya acara pameran mobil, seperti IIMS 2025, diharapkan dapat membuat pasar otomotif domestik kembali menggeliat di tengah tantangan ekonomi. Sejak 2022, Adira telah ikut berkontribusi dalam IIMS bersama Danamon, didukung Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG).

Pada 2025, pertumbuhan transaksi surat pemesanan kendaraan (SPK) 15-20 persen dibanding 2024 yang mencapai nilai transaksi sekitar Rp 460,2 miliar. Target ini akan diupayakan dengan menghadirkan bunga spesial mulai dari 1,89 persen per tahun untuk kredit mobil, potongan angsuran hingga 5 kali untuk kredit motor, serta bekerja sama dengan 46 jenama otomotif.

Senada, Consumer Funding and Wealth Business Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon) Ivan Jaya menyampaikan, gelaran IIMS 2025 bisa menjadi salah satu pendorong untuk kembali meningkatkan penjualan mobil yang pada 2024 lalu tidak menembus 1 juta unit.

”Padahal, biasanya, saat tahun pemilu, penjualan mobil selalu di atas 1 juta unit. Namun, perlu dilihat juga, untuk yang merek-merek baru, yang akan dikeluarkan ada 46 merek baru, kemudian ada pameran seperti ini juga, diharapkan bisa meningkatkan volume penjualan ke depannya,” katanya.

Infografis Kredit Otomotif Perusahaan Pembiayaan November 2024

Pelemahan daya beli

Data statistik OJK menunjukkan, pembiayaan kendaraan baru, baik roda empat maupun roda dua, pada November 2024 mencapai Rp 237,52 triliun atau tumbuh 6,43 persen secara tahunan. Sebaliknya, pembiayaan kendaraan bekas tumbuh 11,97 persen secara tahunan atau berada di atas pertumbuhan pembiayaan otomotif yang mencapai 8,13 persen secara tahunan.

Presiden Direktur CIMB Niaga Finance (CNAF) Ristiawan Suherman menyampaikan, daya beli masyarakat yang belum pulih masih akan menjadi tantangan bersama pada 2025. Namun, industri dituntut untuk mampu beradaptasi dan kreatif dalam menyikapi berbagai situasi yang timbul.

Di tengah kondisi yang cukup menantang saat ini, umumnya kendaraan bekas lebih diminati oleh konsumen. Hal ini disebabkan oleh faktor harga kendaraan bekas yang masih terjangkau sehingga mampu menjangkau kalangan menengah ke bawah.

”CNAF menyikapi kondisi tersebut dengan melakukan diversifikasi produk sebagai salah satu peluang yang dapat dilakukan untuk keberlangsungan bisnis,” kata Ristiawan saat dihubungi dari Jakarta.

infografik Sisa Gaji Masyarakat Kelas Menengah Anak Muda, 2021

Pada 2025, CNAF menargetkan piutang pembiayaan tumbuh 9 persen dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 7,42 triliun. Lebih lanjut, Ristiawan optimistis dapat mencapai target tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang sehat.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohamad Faisal menjelaskan, kondisi tersebut juga mencerminkan perlambatan sektor otomotif. Hal ini dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya terkait pelemahan daya beli masyarakat.

”Dari dalam negeri, memang ada permasalahan market dari kelas tengah. Sebab, dari sisi spending turun sehingga akan berpengaruh ke sisi penjualan dan bisnis barang-barang yang bukan kebutuhan primer, seperti otomotif. Dengan demikian, penjualan kendaraan baru akan turun sejalan dengan penurunan daya beli, sedangkan penjualan kendaraan bekas meningkat,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Selain dari domestik, kondisi perekonomian global turut berdampak terhadap pendapatan masyarakat domestik, khususnya yang berhubungan dengan bisnis ekspor dan impor, komoditas, serta keuangan. Di sisi lain, arah kebijakan pemerintah hingga saat ini belum mampu memulihkan kondisi kelas menengah.

Sebaliknya, Faisal melanjutkan, akhir-akhir ini pemerintah justru mengurangi belanjanya dengan pemangkasan anggaran. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak kepada masyarakat dan sektor swasta sehingga perekonomian pada 2025 dapat melambat.

”Ini berpotensi memperlambat lagi tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga, sektor industri, dan perdagangan, sektor keuangan, serta segala sektor yang terkait otomotif. Akhirnya, pertumbuhan ekonomi bisa tidak mencapai 5 persen,” katanya.

infografik Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pulau


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aris Prasetyo