Mengapa Menu Makan Bergizi Gratis di Palembang Tanpa Susu?

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Palembang memastikan bahwa susu akan diganti dengan menu substitusi yang kadar gizinya sama, yakni telur.

07 Jan 2025 22:10 WIB · Nusantara

Oleh Adrian Fajriansyah

PALEMBANG, KOMPAS – Makan Bergizi Gratis atau MBG di Palembang tidak menyertakan susu. Penyelenggara program MBG di Palembang beralasan tak ada susu karena daerah itu bukan penghasil susu sapi perah. Penyelenggara juga dilarang menggantinya dengan susu kemasan karena khawatir menimbulkan persoalan sampah.

Progam MBG mulai diterapkan di Palembang pada lima sekolah, yakni TK Panca Bakti, SD Negeri 24, SD Negeri 25, SMP Negeri 19, dan SMP Negeri 33 pada Senin (6/1/2025). Ada 2.968 siswa dari lima sekolah itu menerima manfaat MBG.

Dalam pemberian MBG pada hari pertama dan kedua, menu yang disajikan berupa nasi putih, lauk, sayur, dan buah. Menu yang disajikan tidak dilengkapi susu ataupun minuman pengganti lainnya.

Penanggung Jawab Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Palembang, Muhammad Dicky saat diwawancarai awak media, Selasa (7/1/2025), mengatakan, susu memang belum masuk dalam menu MBG di Palembang. Pasalnya, Palembang bukan daerah penghasil susu sapi perah. ”Hal itu sesuai arahan dari pusat yang menyatakan bahwa susu hanya masuk dalam menu MBG di daerah-daerh penghasil susu sapi perah, terutama di Pulau Jawa,” ujarnya.

Di sisi lain, SPPG di Palembang dilarang menggantinya dengan susu kemasan karena dikhawatirkan menimbulkan masalah baru, yakni persoalan sampah. ”Kami tidak boleh pakai susu kemasan karena takutnya itu menimbulkan persoalan sampah,” kata Dicky.

Kendati demikian, Dicky menuturkan, susu akan digantikan dengan menu lain yang dianggap punya kadar gizi yang sama, yaitu telur. ”Jadi, nanti, ada menu substitusi yang gizinya sama dengan susu, seperti telur, supaya siswa bisa mengonsumsi menu dengan gizi yang lengkap,” katanya.

Program Makan Bergizi Gratis di SMP Negeri 19 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (6/1/2025).

Gizi sudah cukup

Walau susu akan diganti dengan telur, berdasarkan pantauan Kompas, belum ada telur dalam menu MBG di Palembang dua hari terakhir. Pada hari pertama, menu yang diberikan kepada siswa TK dan SD, terdiri dari nasi putih, lauk tahu isi olahan daging ikan, tempe goreng, sayur buncis, dan pisang. Sebaliknya, menu siswa SMP adalah nasi putih, tahu isi/pentol ikan, tempe orek, sayur buncis, dan pisang.

Pada hari kedua, Dicky mengatakan, menu yang diberikan kepada siswa TK, SD, dan SMP tidak jauh berbeda, yakni nasi putih, ayam masak asam manis, tahu goreng, sayur capcay, dan semangka. ”Hari ini, menu untuk TK, SD, dan SMP semuanya sama. Yang berbeda hanya gramasinya saja,” ungkapnya.

Menurut Dicky, menu MBG yang disajikan dua hari terakhir sudah memenuhi angka kecukupan gizi sebagaimana diatur oleh pusat. ”Angka pasti kecukupan gizinya saya lupa yah, tetapi menu itu sudah sesuai pedoman dari pusat, kandungan karbohidrat, protein, dan sebagainya sudah cukup,” tuturnya.

Quote

Angka pasti kecukupan gizinya saya lupa yah, tetapi menu itu sudah sesuai pedoman dari pusat, kandungan karbohidrat, protein, dan sebagainya sudah cukup.

Saat ditanya fenomena ada siswa yang tidak suka dengan menu yang disajikan, Dicky menyampaikan, itu menjadi bahan evaluasi. Mereka akan mengamati menu apa yang banyak bersisa yang mengindikasikan tidak disukai siswa. ”Nantinya, kami akan menggantinya dengan menu lain yang lebih disukai,” ucapnya.

Secara keseluruhan, Dicky menuturkan, pihaknya akan menyajikan menu yang terus berubah-ubah agar siswa tidak bosan. Bahkan, mereka sudah menyiapkan siklus menu untuk sebulan ke depan tetapi tidak bisa diungkapkan kepada awak media.

Dicky pun mengaku tidak ada tantangan berarti, kecuali memikirkan menu dengan makanan khas daerah sebagaimana arahan pusat. ”Pada hari pertama, kami sudah menyediakan tahu isi olahan daging ikan gabus yang khas Palembang. Tetapi, hari ini, tidak ada menu khas daerah. Besok (Rabu, 8/1/2025) juga rencananya belum. Itu karena kami harus memikirkan makanan khas daerah yang cocok untuk siswa, khususnya memikirkan tingkat kepedasannya,” ujar Dicky.

Seorang siswa tidak menyukai lauk tahu tempe pada menu program Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 25 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (6/1/2025).

Di samping itu, praktis tantangan yang dihadapi adalah anggaran yang terbatas sehingga penyelenggara program MBG harus berpikir matang. Anggaran menu siswa TK dan SD sebesar Rp 6.000 untuk bahan makanan dan Rp 5.000 untuk operasional di setiap porsinya. Anggaran menu SMP sebesar Rp 10.000 untuk bahan makanan dan Rp 5.000 untuk operasional di setiap porsinya. ”Tetapi, sejauh ini, anggara yang ada sudah mencukupi,” kata Dicky.

Siswa kecewa

Adapun para siswa kecewa karena tidak ada susu dalam menu MBG yang diterima mereka. Pasalnya, sejak jauh-jauh hari, mereka mendengar bahwa Presiden Prabowo Subianto akan menyediakan susu dalam menuh MBG. Nyatanya, tidak ada susu ataupun minuman penggantinya.

Salah satu siswa yang kecewa adalah Vathan Kusuma Dinata (11), siswa kelas 5B SD Negeri 25 Palembang. Menurut Vathan, menu MBG yang disediakan kurang lengkap karena tidak ada susu. Padahal, yang dia dengar, menu MBG akan dilengkapi susu. ”Saya kecewa karena menunya tidak sesuai janji. Katanya ada susu, kok tidak ada. Pak Prabowo, tolong menunya dilengkapi susu,” tuturnya.

Kekecewaan serupa dirasakan oleh Zaki Sya’ban (14), siswa kelas 9.6 SMP Negeri 19 Palembang. Zaki menyampaikan, sejak jauh-jauh hari, dia mendapatkan kabar dari berita, orangtua, dan guru-guru bahwa sekolahnya akan menerima menu MBG, termasuk ada susu yang disediakan. Ternyata, saat dia menerima menu MBG, tidak ada susu ataupun minuman lainnya sama sekali.

”Saya kaget pas melihat isi menu tadi karena tidak ada susunya. Kan kemarin-kemarin, beritanya heboh kalau kami akan diberikan susu gratis. Aneh saja ini karena tidak sesuai dengan apa yang diberitakan. Menunya juga biasa saja, rasanya kurang nendang dan porsinya kurang banyak,” terang Zaki.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 25 Wiwin Purwanti mengatakan, pihaknya mengira kalau susu diganti dengan tahu dan tempe. Boleh jadi, kadar gizi susu dianggap sama dengan tahu dan tempe. ”Tetapi, kalau ada susu, itu tentunya akan jauh lebih baik karena gizi yang diterima oleh siswa bakal jauh lebih lengkap,” katanya.

Siswa tidak terlalu suka menu program Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 25 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (6/1/2025).

Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 19 Mety Susiani maklum kalau tidak ada susu dalam menu MBG kali ini. Pasalnya, anggaran yang disediakan sangat terbatas. ”Yang saya dengar, susu tidak ada karena anggarannya kurang. Awalnya, anggara untuk menu MBG siswa SMP sebesar Rp 15.000 (tanpa potongan Rp 5.000 untuk biaya operasional), tetapi belakangan justru turun menjadi Rp 10.000 (tanpa Rp 5.000 biaya operasional). Jadinya, susu tidak bisa disediakan,” tuturnya.

Meski demikian, Mety berharap, ke depan, susu diganti dengan menu lain yang kadar gizinya sama. Namun, menunya diharapkan bisa variatif agar siswa tidak bosan. ”Untuk anggaran yang ada sekarang, menu yang disediakan sebenarnya cukup lengkap. Tetapi, kalau bisa, ada pengganti susu agar siswa dapat gizi yang lebih lengkap,” pungkas Mety.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Irma Tambunan