AUSTRALIA TERBUKA

Alcaraz dan Djokovic, Para Pejuang di Melbourne Park

Final tunggal putra Australia Terbuka mempertemukan petenis muda terbaik dengan legenda. Carlos Alcaraz menantang sepuluh kali juara, Novak Djokovic.

30 Jan 2026 23:03 WIB · Olahraga

AP

Oleh Yulia Sapthiani

MELBOURNE, JUMAT — ”Spanish never die”. Carlos Alcaraz menggambarkan dirinya seperti itu setelah kalah tiga set dari Novak Djokovic pada final ATP Masters 1000 Cincinnati 2024. Karakter itu pula yang membawa Alcaraz ke final Grand Slam Australia Terbuka 2026 untuk berhadapan dengan Djokovic.

Alcaraz memenangi semifinal melawan Alexander Zverev dengan skor 6-4, 7-6 (5), 6-7 (3), 6-7 (4), dan 7-5 di Rod Laver Arena, Melbourne Park, Jumat (30/1/2026). Dalam pertandingan selama 5 jam 27 menit, yang menjadi semifinal terlama dalam sejarah Australia Terbuka, kemampuan teknis, serta ketangguhan fisik dan mental didorong hingga batas tertinggi.

Semifinal kedua yang dimenangi Djokovic tak kalah epik. Petenis berusia 38 tahun memperlihatkan ”api” dalam dirinya belum padam dengan mengalahkan juara Australia Terbuka dalam dua tahun terakhir, yakni Jannik Sinner, dengan skor 3-6, 6-3, 4-6, 6-4, dan 6-4. Pertandingan ini berlangsung 4 jam 9 menit dan berakhir pada Sabtu sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Alcaraz memenangi set kedua setelah tertinggal 2-5. Saat unggul 5-4 pada set ketiga, performanya terganggu rasa sakit pada bagian atas paha kanan hingga menjalani perawatan medis. Setelah itu, Zverev bangkit dengan memenangi set ketiga dan keempat, lalu unggul 5-3 pada set kelima.

Namun, momentum berubah lagi. Alcaraz memenangi pertandingan dengan merebut empat gim beruntun. Tak banyak energi yang tersisa, Alcaraz telentang di lapangan seusai memenangi poin terakhir melalui passing shot.

Petenis Spanyol Carlos Alcaraz merayakan kemenangannya atas petenis Jerman Alexander Zverev dengan skor 6-4, 7-6 (5), 6-7 (3), 6-7 (4), 7-5 pada laga semifinal Australia Terbuka di Rod Laver Arena, Melbourne Park, Jumat (30/1/2026).

”Percaya pada diri sendiri sepanjang pertandingan,” kata Alcaraz kepada mantan petenis nomor satu dunia, Jim Courier. Courier bertanya bagaimana cara Alcaraz memenangi pertandingan.

”Saya selalu berkata, Anda harus percaya diri, tidak peduli seberapa berat Anda harus berjuang atau seperti apa perjalanan yang harus dilalui. Ini adalah pertandingan berat. Namun, saya sudah sering mengalaminya sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Saya bermain dengan sepenuh hati,” tutur Alcaraz.

Tak hanya Alcaraz, Zverev mengatakan bahwa dia dituntut mengeluarkan semua kemampuan dalam pertandingan tersebut. ”Saya senang bisa tampil seperti tadi meski tidak melakukan tugas dengan baik saat ada kesempatan. Tentu saja, saya kecewa dengan hasilnya, tetapi ini masih awal tahun. Saya akan melanjutkan kerja keras saya,” katanya.

Pertandingan yang membuat semifinal kedua, Sinner melawan Djokovic, mundur sekitar 1,5 jam tersebut merupakan ulangan di tempat yang sama pada 2024, tetapi dengan hasil berbeda. Dua tahun lalu, Zverev mengalahkan Alcaraz dalam empat set pada babak perempat final.

Datang ke Melbourne Park pada tahun ini, Alcaraz berstatus sebagai petenis nomor satu dunia dengan enam gelar Grand Slam. Dia pun membawa lebih banyak pengalaman dalam menghadapi tekanan, baik dengan hasil positif maupun yang berakhir dengan kekalahan.

Petenis Serbia Novak Djokovic merayakan kemenangan atas petenis Italia Jannik Sinner pada laga semifinal Australia Terbuka, Sabtu (31/1/2026) waktu setempat di Melbourne, Australia. Djokovic menang dengan skor 3-6, 6-3, 4-6, 6-4, 6-4.

Di AS Terbuka 2024, misalnya, Alcaraz tersingkir pada babak kedua setelah menjuarai Grand Slam lain secara beruntun, yakni Perancis Terbuka dan Wimbledon. Saat menjuarai Perancis Terbuka 2025, Alcaraz mengalahkan Sinner di final setelah kehilangan dua set awal.

Selain selalu lebih baik dalam kemampuan teknis, Alcaraz mengatakan bahwa dia juga selalu berusaha berjuang sepenuh hati di lapangan. ”Spanish never die,” kata Alcaraz kepada Djokovic setelah mereka bersaing dalam final Cincinnati Masters 2023.

Ketika itu Alcaraz kalah, tetapi Djokovic memuji performanya. Pertandingan tersebut hanya berlangsung tiga set, tetapi Djokovic harus bertahan selama 3 jam 49 menit untuk menang 5-7, 7-6 (7), 7-6 (4). Laga best of three sets dengan durasi terlama pada turnamen ATP itu menjadi pertandingan ATP terbaik pada tahun tersebut.

Pertaruhan sejarah

Final pertama Australia Terbuka yang akan dijalani Alcaraz, pada hari Minggu, bisa mengantarkannya menjadi tunggal putra termuda yang meraih ”Career Grand Slam”. Ini adalah pencapaian ketika petenis bisa menjuarai semua turnamen Grand Slam.

Di tunggal putra hanya ada delapan atlet yang memiliki prestasi Career Grand Slam, salah satunya adalah Djokovic. Petenis lainnya yaitu Fred Perry, Don Budge, Roy Emerson, Rod Laver, Andre Agassi, Roger Federer, dan Rafael Nadal.

Petenis Spanyol Carlos Alcaraz mengembalikan bola ke petenis Jerman Alexander Zverev pada laga semifinal Australia Terbuka di Rod Laver Arena, Melbourne Park, Jumat (30/1/2026). Alcaraz menang dengan skor dengan skor 6-4, 7-6 (5), 6-7 (3), 6-7 (4), 7-5.

”Saya sangat senang akan menjalani final pertama di Melbourne. Ini sudah lama saya perjuangkan,” ujar Alcaraz yang tak pernah melewati perempat final Australia Terbuka dari empat keikutsertaan sebelumnya.

Satu tantangan terakhir yang harus dijalaninya adalah pertandingan melawan Djokovic, penguasa Melbourne Park. Petenis Serbia ini berada dalam misi, juga, untuk menciptakan sejarah, yaitu menjadi petenis pertama yang memiliki 25 gelar Grand Slam.

Djokovic telah menantikan momen ini sejak meraih gelar ke-24 di AS Terbuka 2023. Setelah itu, dia hanya lolos ke final Wimbledon 2024 dari delapan Grand Slam karena kalah bersaing dengan Sinner dan Alcaraz. Tak pelak, Djokovic kesulitan menggambarkan perasaannya setelah memenangi semifinal.

”Saya kehilangan kata-kata. Rasanya seperti tidak nyata. Saya pernah mengatakan bahwa mengalahkan Jannik dan Carlos pada saat in sangat sulit. Namun, bukan berarti tidak mungkin,” ujarnya. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto