Amerika Serikat, Tuah Rumah Kedua Sepak Bola Brasil

Setiap kali sepak bola berlangsung di Amerika Serikat, tim-tim Brasil menemukan kejayaannya. Ada harapan mereka meruntuhkan dominasi Eropa di Piala Dunia Antarklub.

26 Jun 2025 19:15 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

MIAMI, KAMIS — Sepak bola Brasil dan Amerika Serikat punya catatan sejarah bertintakan emas. Setiap kali tampil di tanah AS, tim-tim Brasil selalu bisa menemukan kejayaan. Itu termasuk prestasi mereka di Piala Dunia Antarklub. Empat wakil Brasil seluruhnya memastikan diri ke babak 16 besar. Fluminense menjadi wakil terakhir Brasil yang meraih tiket fase gugur seusai menahan imbang Mamelodi Sundowns FC, 0-0, di Stadion Hard Rock, Miami, AS, Kamis (26/6/2025) dini hari WIB. 

Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) mengirimkan enam wakil di Piala Dunia Antarklub. Dari enam wakil itu, dua berasal dari Argentina dan sisanya Brasil. Tidak seperti rekan-rekan mereka dari Argentina yang tersingkir secara prematur di fase penyisihan grup; Botafogo, Palmeiras, Fluminense, dan Flamengo mampu berbicara banyak. Keempat tim tersebut bahkan belum tersentuh kekalahan di fase penyisihan grup. 

Keberhasilan mereka menunjukkan betapa AS sudah seperti rumah kedua bagi persepakbolaan Brasil. 

”Ini adalah momen yang luar biasa bagi saya, tim, para penggemar, dan negara kami. Kami memiliki empat tim Brasil di babak 16 besar. Jadi, perasaannya luar biasa. Kami harus menikmatinya sekarang, beristirahat sejenak dan menikmati momen ini karena ini adalah momen yang unik dalam sejarah klub. Bagi kami, ini bukanlah sebuah kejutan (bahwa empat tim Brasil tampil sangat baik di Piala Dunia Antarklub) karena kami sudah mengetahui level permainan dan kualitas kami. Turnamen ini memberi kami kesempatan untuk menunjukkan kualitas Liga Brasil,” tutur Gelandang Fluminense, Nonato, seusai laga, dikutip dari laman FIFA. 

Fluminense bisa dikatakan cukup beruntung bisa memetik satu poin dan lolos ke 16 besar. Mereka bisa memaksakan hasil imbang hingga akhir di tengah gempuran bertubi-tubi Sundowns FC.

Pemain Mamelodi Sundowns Divine Lunga (kiri0 berebut bola dengan pemain Fluminense Jhon Arias pada laga grup F Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Hard Rock, Miami, AS, Kamis (26/6/2025) dini hari WIB. Laga berakhir imbang 0-0.

Sejak pertandingan dimulai, Sundowns tampil agresif dengan melakukan banyak ancaman berbahaya dari sisi sayap karena membutuhkan poin penuh untuk lolos. Adapun Fluminense lebih pasif lantaran satu poin saja cukup membawa mereka ke fase gugur. 

Dari tiga kesempatan emas mencetak gol, seluruhnya gagal dioptimalkan Sundowns FC. Nasib baik Fluminense yang bisa selamat dari gempuran Sundowns mengesankan bahwa mereka ”teberkati” tanah AS. 

Di masa lalu, Brasil punya kenangan manis saat berlaga di AS.  Tim ”Samba” meraih bintang keempat atau menjuarai Piala Dunia saat AS menjadi tuan rumah pada 1994. Pada final yang berlangsung di Stadion Rose Bowl, Pasadena, timnas Brasil mengalahkan Italia lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 0-0 hingga waktu normal berakhir.

Mitos keberuntungan Brasil di tanah AS dimulai dari laga ini. Marcio Santos yang menjadi eksekutor penalti pertama Brasil gagal menjalankan tugasnya. Beruntung bagi Brasil, eksekusi penalti Franchino Baresi kemudian gagal membawa Italia unggul. Setelah itu, tiga penendang Brasil, Romario, Branco, dan Carlos Dunga sukses menjalankan tugasnya. 

Sial bagi Italia, pemain paling berbakat mereka, Roberto Baggio, yang semestinya bisa mencetak gol dengan mudah justru di luar dugaan gagal memasukkan bola. Sepakan Baggio melambung jauh di atas mistar gawang Brasil. Baggio, yang tidak percaya eksekusinya meleset sejauh itu, menampilkan ekspresi tertunduk sedih yang kemudian sangat ikonik bertahun-tahun setelahnya.

Pemain Fluminense Keno (kanan) berebut bola dengan pemain Mamelodi Sundowns FC Marcelo Allende pada laga grup F Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Hard Rock, Miami, AS, Kamis (26/6/2025) dini hari WIB. Laga berakhir imbang 0-0.

Aura nasib baik bagi serupa kembali terpancar dari empat wakil Brasil di Piala Dunia Antarklub kali ini. Keberhasilan lolos ke babak 16 besar semakin menumbuhkan optimisme untuk mengakhiri dominasi para wakil Eropa. Pelatih Botafogo Renato Paiva bahkan sudah sesumbar menyebut Piala Dunia Antarklub sebagai kuburannya tim-tim kuat yang jadi favorit. 

Mereka yakin keajaiban ini bukanlah kebetulan. Gelandang Fluminense, Jhon Arias, percaya timnya akan kembali membuat kejutan dan melaju sejauh mungkin di Piala Dunia Antarklub. 

”Tujuan pertama kami adalah Babak 16 Besar, tetapi itu bukanlah tujuan akhir,” kata Arias. 

Capaian kontras wakil Brasil dan Argentina di Piala Dunia Antarklub terasa ironis mengingat kedua negara punya tradisi kuat di sepak bola. Apa yang membedakan wakil Brasil dan Argentina adalah situasi keuangan. Boca Juniors dan River Plate memang memiliki basis penggemar yang sangat besar, tetapi mengalami finansial akibat krisis keuangan yang sedang berlangsung di Argentina. 

Pendapatan mereka, terutama dari sponsor dan pemasaran, lebih rendah daripada pendapatan klub-klub besar Brasil, yang mampu merekrut dan membayar pemain yang lebih baik. Kondisi inilah yang turut menjelaskan bagaimana klub-klub Brasil lebih berjaya di Piala Dunia Antarklub dibandingkan dengan Argentina.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase