Council on Foreign Relations, menyebut Taiwan adalah mitra ekonomi dan keamanan vital bagi AS. Taiwan adalah salah satu tolok ukur relevansi Washington di kawasan.
28 Nov 2024 07:23 WIB · Editorial
Memang, sejak tahun 1979, Amerika Serikat memutuskan hubungan resmi dengan Taiwan. Akan tetapi, AS tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Setelah menarik pasukan dari Taiwan dan menegaskan kebijakan satu China, Kongres AS kala itu mengesahkan ketentuan yang berisi dukungan militer untuk Taiwan. Dukungan perlu agar Taiwan mampu mempertahankan diri. Kebijakan AS itu dikenal luas sebagai ”ambiguitas strategis”.
Tidak mengherankan apabila saat ini AS merasa perlu menyusun rencana operasi kedaruratan dengan menempatkan tentara di Jepang dan Filipina jika terjadi situasi darurat di Taiwan. Merujuk pada kantor berita Jepang, Kyodo, jika kondisi di Taiwan sangat darurat, AS akan mendirikan pangkalan sementara di sepanjang rangkaian Kepulauan Nansei, Jepang. Rencana itu akan dimasukkan ke dalam rencana operasi gabungan pertama Tokyo dan Washington (Kompas.id, 25/11/2024).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/24/da88646c-d2a8-408f-9c28-9cdb761e6aac_png.png)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/74828317-63b9-4e21-9828-ac2da95e1eb9_jpg.jpg)
Ada sejumlah faktor mengapa Taiwan begitu penting bagi AS. Lembaga kajian AS, Council on Foreign Relations (CFR), menyebut Taiwan adalah mitra ekonomi dan keamanan vital bagi AS. Bila China mengokupasi Taiwan, tindakan itu dapat memicu runtuhnya kekuatan AS di Pasifik dan mendestabilisasi tatanan internasional yang lebih luas.
Menurut CFR, meskipun tidak lagi memiliki hubungan diplomatik formal, AS menggambarkan Taiwan sebagai mitra utama di Indo-Pasifik. Ada empat faktor yang menjelaskan mengapa Taiwan sangat penting bagi AS, yaitu keamanan, ekonomi, politik, dan tatanan internasional.
Jika China ”menaklukkan” Taiwan, hal itu berpotensi besar menggerus relevansi AS sebagai kekuatan utama di kawasan. Tidak bisa dimungkiri, selain untuk Taiwan, hingga saat ini AS adalah penyokong utama sejumlah negara di kawasan, terutama untuk menanggapi sikap China yang kian asertif. Negara yang mendapat dukungan AS antara lain Filipina dan Jepang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/23/032e18c7-46d6-4aff-bb8d-8ee60216b8a4_jpg.jpg)
Yang lebih menarik diperhatikan adalah jika China meniru langkah Rusia menginvasi Ukraina, hal itu menurut CFR secara signifikan dapat merusak pilar tatanan internasional. Praktik itu bakal melanggengkan impunitas dan mempertebal situasi ketidakpastian.
Selain itu, kini, Rusia telah pulih dari luka akibat runtuhnya Uni Soviet. Sementara itu, China kian tegak berdiri menjadi sosok yang tidak hanya sekadar kaya, tetapi juga digdaya. Seiring dengan itu, AS yang sebelumnya menjadi ”satu-satunya” kekuatan justru perlahan tertinggal seiring dengan beralihnya pendulum dari AS dan Barat/Eropa ke Asia.
Seperti Moskwa, Beijing kini pun turut mengendalikan percaturan dunia, tak lagi hanya di bidang ekonomi, tetapi juga militer dan teknologi. Kini, AS memiliki kompetitor kuat.
Perubahan lanskap geopolitik itu membuat AS tampaknya harus memainkan ”ambiguitas strategisnya” demi mempertahankan dan mempertebal pengaruh, setidaknya menjaga keseimbangan. Bila perlu, mengembalikan lagi kontrol ke tangan Washington.
Penulis:
redaksiEditor:
Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari