Indonesia gagal mendapat gelar lagi dari Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Meski demikian, apresiasi pantas diberikan kepada Amri/Nita yang mencapai semifinal.
22 Agt 2026 18:31 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
NEW DELHI, SABTU — Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah tampil maksimal dalam panggung Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis. Meski demikian, skuad Indonesia tetap tanpa gelar juara, seperti dalam empat penyelenggaraan terakhir.
Tampilnya Amri/Nita dalam semifinal Kejuaraan Dunia di New Delhi, India, menjadi sisi positif skuad bulu tangkis Indonesia dalam ajang yang digelar pada 17-23 Agustus 2026 tersebut. Di sisi lain, hasil negatif didapat Indonesia, yang tak juga mendapat gelar juara sejak terakhir kali Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjadi juara dunia di Basel, Swiss, 2019.
Tak sekadar lolos ke semifinal, Amri/Nita bisa dikatakan tampil dalam performa terbaik sejak mereka berpasangan pada Agustus 2024. Mereka memaksa ganda campuran ranking teratas dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (China), bermain hingga limit kemampuan dalam pertandingan selama 1 jam 37 menit meski akhirnya kalah dengan skor 22-20, 14-21, 20-22.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/22/9f9c5d11dd33e3f7eaeff3bed86c0373-WhatsApp_Image_2026_08_22_at_15.01.46.jpeg)
Selama belum selesai, masih ada kesempatan. Tapi, saat ”setting”, kami kalah nekat dibandingkan lawan.
Hasil tersebut menjadi hasil terbaik Amri/Nita dalam lima pertemuan dengan Feng/Huang, pemilik 23 gelar juara BWF World Tour. Pada empat pertemuan sebelumnya, Amri/Nita bermain tiga gim pada satu pertandingan, yaitu pada babak kedua Malaysia Masters 2025, tetapi kalah dengan skor lebih rendah.
Di New Delhi, Amri/Nita memenangi gim pertama setelah tertinggal 18-20, lalu bermain dengan intensitas persaingan lebih tinggi pada gim ketiga. Selisih skor tak pernah lebih dari dua poin. Hanya pertahanan lebih kuat dari Feng/Huang yang membedakan hasil akhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/22/5dc071d14c12acfb97ae613b366e07f3-India_Badminton_World_Championships_2_.jpeg)
”Gim ketiga berlangsung dengan tensi luar biasa, dengan fokus tinggi. Sayangnya, kami tidak bisa memenanginya,” komentar Amri.
Nita juga menyatakan bahwa dia dan Amri terus berkomunikasi ketika persaingan berlangsung dalam intensitas tinggi pada gim ketiga. ”Selama belum selesai, masih ada kesempatan. Tapi, saat setting, kami kalah nekat dibandingkan lawan,” kata Nita.
Performa dan daya juang Amri/Nita mendapat apresiasi dari lawan. ”Mereka bermain sangat baik, terutama Amri. Level permainan mereka sangat meningkat pada hari ini, tetapi kami sangat siap dan bisa bertahan dengan sangat baik,” komentar Feng, seperti terdapat dalam laman resmi BWF.
Amri bercerita bahwa Feng/Huang memeluk hangat mereka seusai pertandingan. Feng juga meminta maaf karena melakukan protes berlebihan dan Amri/Nita menghargai hal itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/22/ebe15933706eaded81d49f291142005d-WhatsApp_Image_2026_08_22_at_15.01.40.jpeg)
Amri/Nita mencapai semifinal dan meraih medali perunggu dalam debut mereka di Kejuaraan Dunia. Ini menjadi pencapaian terbaik sejak mereka diduetkan pelatih pada Agustus 2024. Sebelumnya, hasil terbaik pada turnamen BWF World Tour adalah ketika mencapai semifinal Thailand dan Korea Terbuka pada 2025 serta perempat final All England tahun ini.
Ganda campuran peringkat ke-20 dunia itu menjadi wakil Indonesia dengan perjalanan terjauh meski tak diunggulkan. Peluang terbesar Indonesia, bahkan peluang untuk meraih gelar juara dari Kejuaraan Dunia edisi ke-30 ini, sebenarnya ada pada Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, ganda putra ranking kedua dunia yang menjuarai Jepang dan China Terbuka, dua turnamen terakhir sebelum Kejuaraan Dunia.
”Medali perunggu ini untuk Indonesia dan untuk semua yang sudah selalu percaya bahwa kami masih bisa bersaing. Untuk keluarga dan pelatih juga,” ucap Nita.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/22/fa866d04322347c0c0ddcd5ccf5f294c-India_Badminton_World_Championships.jpeg)
Sementara Amri berharap hasil di New Delhi menambah rasa percaya diri untuk konsisten pada turnamen-turnamen berikutnya. ”Latihannya harus ditambah lagi supaya bisa lebih baik, supaya podiumnya bisa lebih tinggi lagi,” kata Amri.
Dengan semifinal yang menjadi hasil akhir Amri/Nita, Indonesia pun harus menanti setidaknya setahun lagi untuk Kejuaraan Dunia berikutnya. Sejak Hendra/Ahsan menjadi juara dunia pada 2019, hasil terbaik Indonesia dalam ajang ini adalah final, yang juga dicapai Hendra/Ahsan dalam Kejuaraan Dunia 2022, dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti pada 2023.
Dalam perebutan gelar juara ganda campuran, Feng/Huang akan berhadapan dengan Thom Gicquel/Delphine Delrue yang mengalahkan unggulan kedua, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin (China), 19-21, 21-13, 21-11. Gicquel/Delrue menjadi wakil pertama dari Perancis yang mencapai final Kejuaraan Dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/22/6ff067057f8a12f64162d5f5bb1dd1fd-India_Badminton_World_Championships_1_.jpeg)
”Kami sangat senang bisa bermain dengan baik. Intensitasnya sangat tinggi, juga tekanannya. Kami sangat bangga bisa mencapai final pertama dalam Kejuaraan Dunia,” ujar Delrue, yang mencapai semifinal Kejuaraan Dunia Paris 2025.
Tak hanya final Kejuaraan Dunia, penampilan konsisten Gicquel/Delrue pada tahun ini juga dicapai saat menembus final All England, menjuarai Orleans Masters, serta lolos ke semifinal Indonesia Terbuka dan China Terbuka.
Langkah Gicquel/Delrue diikuti rekannya, Alex Lanier, yang mencapai final tunggal putra. Dalam semifinal sesama pemain berusia 21 tahun, Lanier mengalahkan Victor Lai (Kanada), 16-21, 21-13, 21-14.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti