Anak-anak Korban Banjir Sumatera Mulai Sakit di Pengungsian

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut mendesak pemerintah segera menetapkan banjir di Sumatera menjadi bencana nasional.

01 Des 2025 18:25 WIB · Lingkungan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana banjir bandang di Sumatera. Mereka mulai mengalami sakit saat berada di pengungsian. Dukungan dan respons cepat dari berbagai pihak diperlukan agar meningkatkan kemampuan bertahan pada anak saat bencana.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat sudah ada beberapa penyakit yang dialami anak-anak di pengungsian. Di Sumatera Utara, misalnya, ada 135 anak yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare 36 anak, tinea (infeksi jamur) 46 anak, bacterial dermatitis (infeksi kulit) 27 anak, dan dua anak diduga pneumonia. Mereka tersebar di Kota Binjai, Kota Medan, dan Kabupaten Langkat.

”Penyakit-penyakit umum saat bencana seperti ISPA, diare, dan penyakit kulit itu sudah kami tangani (di pengungsian). Ada dua kasus yang kami rujuk ke rumah sakit dengan gejala pneumonia,” kata Eka Airlangga, Wakil Ketua IDAI Cabang Sumatera Utara saat jumpa pers, Senin (1/12/2025).

Ratnawati (32, tengah), penyintas banjir bandang Padang Panjang, didampingi anak-anaknya bercengkerama dengan kakaknya (kiri) yang juga penyintas di posko pengungsian di Kantor Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025). Selain kehilangan rumah, Ratna juga kehilangan suami dalam banjir bandang yang terjadi di jembatan kembar perbatasan Padang Panjang dan Tanah Datar, Kamis (27/11/2025) siang.

Saat ini tim medis masih membutuhkan obat diare, dermatitis, dan ISPA, kemudian obat tetes untuk bayi, obat sirup kombinasi untuk ISPA, air bersih untuk melarutkan antibiotik, dan sendok obat. Selain itu, orangtuanya juga membutuhkan pembalut, minyak kayu putih, serta makanan anak-anak.

Di Sumatera Barat, ada empat anak yang meninggal akibat banjir bandang. Keempat anak itu teridentifikasi dari Kota Padang sebanyak dua anak, dari Kabupaten Pasaman Barat satu anak, dan satu jenazah anak-anak belum teridentifikasi. Kemudian di Kota Bukittinggi ada tiga anak yang belum ditemukan.

Seperti di Sumut, anak-anak di pengungsian di Sumbar juga mengalami ISPA (80 anak), diare (4 anak), tinea (4 anak), dan infeksi kulit (11 anak). Sementara di Aceh, kondisi anak-anak secara umum sama, tetapi jumlahnya masih belum dapat dipastikan karena keterbatasan jaringan komunikasi dan masih ada daerah yang terisolasi.

Walau banyak dokter anak yang juga menjadi korban dalam bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, mereka menyatakan belum membutuhkan bantuan tenaga medis dari luar provinsi tersebut dan masih bisa membantu sesama warga di sana.

Quote

Kita sebagai praktisi kesehatan, terutama dokter anak, harus menjamin kebutuhan ibu yang memiliki bayi dalam situasi bencana.

”Walau banyak teman sejawat terdampak, termasuk kami, tetapi untuk saat ini kami belum membutuhkan tambahan dokter anak, misalnya diperlukan penambahan untuk lokasi tertentu nanti kita koordinasi lagi, kata Raihan, Ketua IDAI Cabang Aceh.

Tetapkan bencana nasional

Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menyatakan, laporan dari perwakilan IDAI itu tiga provinsi tersebut telah menegaskan bahwa ada risiko besar terhadap kesehatan fisik, mental, nutrisi, hingga keberlangsungan imunisasi anak-anak. Dia mendesak pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional agar penanggulangannya bisa lebih baik dan cepat.

”Kami yakin ini bukan hanya heboh di medsos, memang di alam nyata juga heboh. Mudah-mudahan pemerintah bisa memasukkan ini sebagai bencana nasional,” kata Piprim.

Infografik Korban Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Kurniawan Taufiq Kadafi menambahkan, bencana dapat berdampak berlapis bagi anak. Anak-anak terutama saat bencana banjir berisiko mengalami diare, demam berdarah, leptospirosis, dan infeksi sistem pernapasan.

Walau di pengungsian, anak-anak juga harus mendapatkan nutrisi yang baik. Anak-anak penting mendapatkan asupan makanan dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang cukup, seperti roti, nasi, sereal, biskuit tinggi energi, daging, ayam, ikan, telur, serta makanan segar, seperti sayur dan buah. Menu yang dikonsumsi agar jangan terus-menerus mi instan dan makanan ringan yang tak bernutrisi.

Tetap menyusui

Bagi ibu menyusui, mereka juga harus memastikan bayinya tetap mendapatkan air susu ibu (ASI). Bayi yang tidak disusui mempunyai risiko tinggi terkena penyakit.

Kurniawan menegaskan, seorang ibu tetap dapat menyusui dengan baik dalam keadaan stres akibat bencana sekalipun. Pengeluaran ASI dipengaruhi suatu refleks yang dinamakan letdown reflex yang memang dipengaruhi oleh stres, tetapi tidak demikian halnya dengan produksi ASI.

Cara mengatasi kurangnya pengeluaran ASI adalah dengan meningkatkan isapan bayi pada payudara sehingga meningkatkan pengeluaran hormon oksitosin. Jadi, membantu ibu untuk memulai atau meneruskan menyusui dapat membantu mereka mengurangi stres yang dialaminya.

”Artinya kita harus memberikan kepastian bahwa proses menyusui tetap dapat dilanjutkan di tempat yang nyaman dan terjamin privasi untuk menyusui anak itu dengan optimal,” kata Kurniawan.

Dua balita mengungsi dengan menggunakan sampan di Kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang masih dikepung banjir akibat meluapnya Sungai Batang Serangan, Minggu (30/11/2025). Sebagian warga korban banjir yang rumahnya memiliki loteng lebih memilih bertahan di dalam rumahanya daripada harus mengungsi.

Dia mengingatkan kepada semua dokter di lokasi pengungsian untuk tidak menyalurkan susu formula langsung kepada korban bencana, tetapi dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan setempat.

”Mungkin ini kelihatannya sepele. Namun, kita sebagai praktisi kesehatan, terutama dokter anak, harus menjamin kebutuhan ibu yang memiliki bayi dalam situasi bencana,” ucapnya.

Selain masalah kesehatan fisik, anak yang terpisah dengan keluarganya sangat rentan terhadap eksploitasi, penyiksaan, dan perdagangan. Oleh karena itu, anak-anak membutuhkan perlindungan dan perhatian dari lingkungan sekitar untuk mencegah terjadinya gangguan stres pascatrauma.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Kunta Wibawa Dasa Nugraha, memastikan seluruh kebutuhan logistik prioritas mencakup obat-obatan, pangan tambahan untuk anak balita dan ibu hamil, serta oxygen concentrator, telah dikirimkan dan siap ditambah sesuai kondisi di lapangan.

Kemenkes juga memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan provinsi ataupun kabupaten/kota untuk memastikan layanan kesehatan tetap beroperasi. Pelayanan diberikan melalui posko pengungsian, fasilitas kesehatan, serta unit layanan bergerak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase