Di Pulau Damer, tanah subur dan laut kaya tak menjamin anak-anak tumbuh sehat. Mi instan jadi santapan harian, gizi buruk pun mengintai generasi masa depan.
12 Okt 2025 07:51 WIB · Kesehatan
Kekayaan lautan dan harum rempah di Pulau Damer, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku, menjanjikan kemakmuran hingga menarik penjajah Belanda. Namun, di balik keindahan, ada banyak tubuh mungil anak-anak meranggas kekurangan gizi.
Kondisi ini terjadi bukan karena orangtua mereka tiada uang, melainkan karena kemiskinan yang diwariskan dalam siklus utang dan kebiasaan yang tak sempat disadari. Berkah alam yang subur seolah hanya mampu menumbuhkan tanaman, tak sampai ke manusianya, terutama anak-anak.
Siang itu, di teras semen depan rumah salah satu warga di Desa Wulur, Kecamatan Damer, seorang anak balita duduk memegang piring menikmati makan siangnya. Saat dilihat lebih dekat, piring itu hanya berisi nasi putih dan mi instan rebus yang mulai mengering sebagai lauk. Tak ada sayur. Tak ada ikan.
Tak hanya kecanduan mi instan, anak-anak juga sangat sering jajan makanan berpemanis buatan yang ada di warung, seperti wafer, agar-agar, hingga permen. Semua ini dilakukan tanpa dilarang, bahkan diberikan langsung oleh orangtuanya.
”Dia sukanya mi, cepat makan kalau begitu,” ujar ibunya tersenyum malu.
Mereka sebenarnya tahu mi instan bukan makanan sehat. Namun, bagi banyak keluarga di Pulau Damer, itu pilihan realistis. Harga sebungkus mi hanya Rp 4.000. Bandingkan dengan ikan segar yang sekitar Rp 30.000 per kilogram atau sayur yang harus dikirim dari pulau lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/11/9dbe519bbb46d1af7c99fe90258bbeba-WhatsApp_Image_2025_10_11_at_11.14.53_PM.jpeg)
Dalam dua hari, pada 10-11 Oktober 2025, para kader dan bidan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Tiga Dara membuat layanannya sejak pukul 08.00 WIT. Tak lama kemudian, ibu-ibu bergegas membawa anaknya ke posyandu. Di antara anak-anak itu ada yang menangis takut diperiksa, ada pula yang antusias tak sabar.
Satu per satu didata nama dan usianya, dilanjutkan dengan pemeriksaan tinggi dan berat badannya, hingga lingkar lengan dan lingkar kepalanya. Setelah itu mereka mendapatkan segelas bubur kacang hijau dan satu butir telur rebus.
Uangnya sedikit sekali yang sampai ke anak.
Pada layanan bulan ini, beberapa anak yang masih berusia di bawah lima bulan ditambah satu tahapan, yakni imunisasi difteri. Bulan ini, mereka baru mendapat vaksin DPT-HB-HiB, sedangkan vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis belum bisa dilakukan karena stoknya kosong.
Marice Yerusa, bidan di Puskesmas Desa Wulur, mengungkapkan, secara fisik kondisi anak-anak terlihat baik. Namun, banyak keluarga tidak memahami pentingnya asupan protein. Mereka hanya makan untuk kenyang, gizi yang seharusnya dipenuhi pada periode emas pertumbuhan anak (0-5 tahun) tidak diberikan.
”Mereka makan lancar dan kenyang, tetapi kadar gizi protein hewani dan nabatinya amat kurang. Petani sayur di sini sedikit, nelayan juga sedikit. Jadi, mereka makan nasi atau pisang, lauknya mi. Baru tiga bulan dikasih gula-gula,” kata bidan yang melayani kesehatan masyarakat Desa Wulur selama 18 tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/11/5d13739e92234f759a2c4cb884647012-20251011_102845.jpg)
Menurut data Puskesmas Wulur, sekitar 40 persen anak balitanya dari 150 anak di Desa Wulur mengalami berat badan di bawah standar. Beberapa di antaranya bahkan sudah termasuk kategori gizi buruk.
Padahal, geografis Pulau Damer termasuk dalam bagian gugusan pulau kecil di Kabupaten Maluku Barat Daya. Namun, sejak dahulu warga hidup dari berkebun pala, kopra, jambu mete, dan cengkeh, komoditas yang harganya bisa membuat orang kota iri.
Wilayah perairan Damer pun termasuk dalam bagian dari segitiga terumbu karang dunia yang kaya akan beragam spesies ikan kaya protein. Namun, sudah sejak dahulu mereka hanya menjadi orang darat.
”Ikan baru ada beberapa tahun terakhir saja karena mulai ada nelayan bubu. Dulu ikan dibeli kalau ada kapal dari Ambon sandar saja. Itu pun mahal,” ungkap Marice.
Hampir setiap hari Marice mengedukasi orangtua tentang pentingnya memperhatikan tumbuh kembang anak. Namun, pola asuh yang diwariskan turun-temurun seperti itu membuat anak menjadi korban.
Program Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif di sini, lanjut Marice, hanya bisa dipenuhi para ibu hingga usia anak tiga bulan. Setelah itu, anak diberi makan bubur nasi tanpa lauk dan dibawa ikut ayah dan ibunya bekerja ke kebun di bawah terik matahari.
”Ada juga yang baru hari ini menghubungi saya, besoknya melahirkan. Ini bagaimana mau kami bantu rawat pantau gizi anak dari nol bulan sampai sembilan bulan kalau hamil tidak lapor,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/11/01c5426bfdf624395df3a503e96e5d52-20251011_092652.jpg)
Masalah ini sejatinya bukan semata kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan struktural. Akses pangan bergizi terbatas dan pengetahuan gizi rendah diperparah dengan tata kelola uang rumah tangga yang rendah.
Hasil dari panen raya pala super setiap tiga bulan sekali dan pala hutan setahun sekali habis untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan hidup keluarga. Tak sedikit pula warga yang terjerat utang yang terus-menerus menjebak mereka dalam lubang yang sama.
”Uang habis buat bayar utang, beli HP baru, rokok juga. Jadi, uangnya sedikit sekali yang sampai ke anak,” kata Rina Letty, kader Posyandu Tiga Dara.
Kondisi ini merupakan potret kecil dari masalah besar kesehatan anak di Maluku. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di Provinsi Maluku naik 2,3 persen dari tahun 2022, yaitu 26,1 persen menjadi 28,4 persen. Khusus Kabupaten Maluku Barat Daya, prevalensi stunting-nya naik dari 25,7 persen menjadi 29,9 persen.
Jika lingkar utang dan pola makan instan tak segera diputus, generasi Damer berikutnya mungkin tumbuh dalam tubuh yang lemah di atas tanah dan laut mereka yang tak pernah miskin.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan