Anak Makin Berisiko Kecanduan Gula, Hati-hati Gula Tersembunyi pada Minuman Kemasan

Semakin mudahnya akses pada makanan dan minuman dengan kandungan tinggi gula membuat anak semakin berisiko mengalami kecanduan gula.

26 Nov 2024 18:33 WIB · Nasional

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Anak semakin berisiko mengalami kecanduan gula dengan semakin mudahnya akses pada makanan dan minuman dengan kandungan tinggi gula. Jika tidak dibatasi, risiko penyakit seperti obesitas dan diabetes melitus semakin besar. Orangtua diharapkan lebih bijak dengan membatasi asupan gula pada anak.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso dalam webinar bertajuk ”Mengontrol Sugar Addiction pada Anak” di Jakarta, Selasa (26/11/2024), mengatakan, jumlah kasus penyakit tidak menular pada anak semakin melonjak. Ini salah satunya disebabkan oleh kebiasaan makan yang tidak sehat, termasuk mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.

Tingginya konsumsi produk makanan dan minuman manis dipengaruhi oleh kemudahan akses dalam memperoleh produk tersebut. Ketika berada di minimarket, sebagian besar minuman yang dipajang di rak lemari pendingin merupakan produk minuman yang mengandung gula tambahan.

”Mungkin, 98 persen minuman di minimarket kita itu mengandung gula atau pemanis yang berupa sirup fruktosa, high fructose corn syrup atau sirup jagung tinggi fructosa. Pemanis ini luar biasa dahsyatnya dalam merusak kesehatan anak-anak kita apabila diberikan terus dan terus dan terus,” kata Piprim.

Meski dampak kesehatannya bisa berbahaya, menurut Piprim, banyak masyarakat yang tidak menganggap gula tambahan tersebut berbahaya. Bahkan, informasi berupa peringatan dari bahaya mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula juga tidak dicantumkan.

Quote

Pemanis ini luar biasa dahsyatnya dalam merusak kesehatan anak-anak kita apabila diberikan terus dan terus dan terus.

Padahal, ketika seorang anak terlalu banyak mengonsumsi gula tambahan, itu dapat mempercepat penyerapan karbohidrat yang memicu lonjakan kandungan gula dalam darah. Kadar gula darah yang melonjak tersebut kemudian akan menurun tajam hingga terjadi kondisi sugar rush pada anak.

”Sugar rush inilah yang memicu anak menjadi mudah lapar, cranky, ngamuk, dan akan reda dengan diberikan gula lagi. Begitu terus sehingga terjadi lingkaran setan yang akhirnya membuat anak jadi adiksi, over nutrition, over calorie yang memicu berbagai penyakit, seperti obesitas, diabetes melitus, dislipidemia, hipertensi, dan ginjal,” ujar Piprim.

Adiksi gula

Untuk itu, ia berharap agar masyarakat semakin menyadari bahaya dari kondisi adiksi gula pada anak. Upaya untuk menurunkan tingkat adiksi gula pada anak punya dampak panjang dalam mencegah berbagai penyakit tidak menular yang menjadi beban kesehatan masyarakat.

Upaya untuk membatasi konsumsi gula ini dinilai semakin mendesak karena tingginya tingkat konsumsi di masyarakat. Data pun menunjukkan bahwa tingkat konsumsi makanan dan minuman manis pada masyarakat cukup tinggi.

Kandungan gula dalam makanan Infografik

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan, sebanyak 56,2 persen penduduk usia lebih dari 3 tahun mengonsumsi makanan manis 1-6 kali per minggu dan 33,7 persen mengonsumsi lebih dari 1 kali dalam sehari. Sementara yang mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari mencapai 47,5 persen dan 43,3 persen minum manis 1-6 kali per minggu.

Pada kelompok anak, sekitar separuh anak umur 3-9 tahun makan makanan manis lebih dari sekali per hari. Lebih dari separuh anak umur 3-14 tahun minum minuman manis lebih dari sekali setiap hari.

Sebagian besar masyarakat menilai makanan dan minuman berisiko yang manis, asin, berlemak, dan lain-lainnya lebih disukai karena enak rasanya (96,2 persen) dan mudah didapatkan (91,3 persen). Namun, sebanyak 43,3 persen tidak tahu bahaya dan risiko dari makanan dan minuman tersebut.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Siska Mayasari Lubis menyampaikan, minuman manis dapat meningkatkan kalori dalam tubuh, tetapi tidak memberikan rasa kenyang. Hal itu yang membuat anak terus ingin mengonsumsinya.

Pedagang melayani pembeli yang memesan minuman saset berpemanis di salah satu warung di kawasan Setiabudi, Jakarta, Senin (29/7/2024). Kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis telah menjadi bagian gaya hidup modern. Sejauh ini, konsumsi minuman berpemanis berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 29-07-2024

Paparan minuman ataupun makanan manis yang berulang dengan jumlah yang besar dapat mendorong ketergantungan. Kemampuan tubuh untuk mengatur tingkat konsumsi tersebut akan berkurang. Biasanya, anak yang sudah kecanduan gula cenderung memiliki nafsu makan yang tidak terkontrol serta memiliki keinginan berlebih dalam mengonsumsi gula.

Gula tersembunyi

Siska mengatakan, orangtua sebaiknya lebih bijak dalam mengatur konsumsi gula pada anak. Konsumsi gula pada anak harus dibatasi secara tegas. Seringkali orangtua tidak sadar terhadap makanan ataupun minuman yang diberikan tinggi kandungan gula.

Minuman kemasan yang biasa dijual di pasaran yang mengandung gula tinggi sering ditemui antara lain pada produk jus buah, susu dengan perisa, dan yogurt rasa buah. Minuman-minuman yang terkesan sehat tersebut sebenarnya mengandung gula yang tinggi.

”Orangtua perlu lebih mengenali, gula tersembunyi ini adalah gula tambahan yang tidak jelas terlihat pada label atau nama bahan makanan dan sumber utama dari makanan dan minuman olahan yang sering dianggap sehat,” ujarnya.

Pada kemasan produk minuman dan makanan, gula tersembunyi biasa ditulis sebagai sukrosa, fruktosa, glukosa atau dekstrosa. Selain itu, gula tambahan dapat ditulis pula sebagai sirup jagung tinggi fruktosa (HFCS), madu, molase, maltosa, serta jus buah terkonsentrasi.

Asupan gula

Siskan mengatakan, konsumsi gula tambahan pada anak harus dibatasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan rekomendasi batas konsumsi gula kurang dari 10 persen dari total asupan energi per hari.

Pada anak di bawah usia 2 tahun, selama pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bahkan tidak dianjurkan untuk mendapatkan gula tambahan. Kebutuhan energi dari gula bisa diperoleh dari gula alami yang terdapat di sayuran dan buah-buahan.

Batasan konsumsi gula pada anak menurut WHO

Sementara pada anak usia 2-4 tahun dianjurkan hanya mendapatkan gula tambahan maksimal 16 gram per hari atau sekitar empat sendok teh. Pada usia 4-7 tahun maksimal lima sendok teh, usia 7-10 tahun maksimal 5,5 sendok teh, usia 10-13 tahun maksimal 6,5 sendok teh, usia 13-15 tahun maksimal 8 sendok teh, dan usia 15-19 tahun maksimal 9 sendok teh gula.

”Batasi konsumsi gula dan ganti minuman manis dan camilan gula dengan buah segar, air putih, atau yogurt tanpa pemanis. Dorong pula anak untuk bisa aktif secara fisik dengan intensitas sedang hingga berat setidaknya 60 menit setiap hari,” kata Siska yang juga staf divisi endokrin Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan