Analisis Pidato Presiden: Ekonomi dan Demokrasi Jadi Kunci Atasi Persoalan Bangsa

Presiden Prabowo Subianto, dalam pidato kenegaraan perdananya pada HUT Ke-80 RI, menempatkan penguatan ekonomi dan demokrasi sebagai fondasi utama pemerintahan.

16 Agt 2025 08:27 WIB · Politik & Hukum

Oleh Arita Nugraheni

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-80 Republik Indonesia. Pidato tersebut disampaikan di hadapan Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung MPR, Jakarta, pada Jumat, 15 Agustus 2025, pagi.

Ini menjadi pidato kenegaraan pertama Prabowo sejak dilantik sebagai Presiden ke-8 RI pada 20 Oktober 2024. Pidato disampaikan di mimbar yang sama saat ia mengucapkan sumpah jabatan dalam Sidang Paripurna MPR.

Pidato Prabowo diawali dengan penayangan video capaian kepemimpinannya berdurasi kurang lebih delapan menit. Tayangan tersebut memuat selayang pandang keberhasilan presiden-presiden sebelumnya, dilanjutkan rangkuman 11 capaian pada 299 hari pertama kepemimpinannya.

Hal itu meliputi, misalnya, penyediaan akses permodalan untuk UMKM, petani, dan nelayan; ketahanan pangan; peningkatan fasilitas sekolah; layanan cek kesehatan gratis; program Makan Bergizi Gratis (MBG); hingga pembentukan badan pengelolaan investasi nasional Danantara.

Presiden Prabowo menyampaikan pidatonya selama 75 menit. Kurang lebih setara dengan pidato perdana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Agustsus 2005 yang berdurasi 78 menit. Adapun pidatonya lebih panjang dibandingkan pidato perdana Presiden Joko Widodo pada 14 Agustus 2015 yang total hanya 49 menit.

Berdasarkan naskah pidato resmi yang dirilis Kementerian Sekretariat Negara, pidato Presiden Prabowo kali ini berisi 3.910 kata. Melalui analisis diksi sederhana, ditemukan sejumlah kata kunci terkait program pemerintah yang mendominasi, yaitu ekonomi (27 kali), sekolah (14 kali), demokrasi (12 kali), serta beras dan hakim yang masing-masing disebutkan 8 kali.

Ekonomi

Berangkat dari diksi ekonomi, ditemukan bahwa kata tersebut mencakup pembahasan kebijakan, capaian, ataupun agenda pemerintah ke depan. Aspek ekonomi menjadi payung bagi berbagai upaya pemerintah untuk menguatkan kedaulatan, pemerataan kesejahteraan, dan ketahanan nasional.

Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kedaulatan ekonomi dan penegakan Pasal 33 UUD 1945. Ia menyampaikan adanya distorsi sistem yang memicu anomali, seperti kelangkaan minyak goreng pada saat Indonesia merupakan negara produsen sawit terbesar ataupun harga pangan yang tetap tinggi meski disubsidi.

Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah akan melakukan berbagai upaya, di antaranya mengalihkan Rp 300 triliun anggaran APBN yang rawan korupsi ke sektor produktif, menjaga pertumbuhan ekonomi 5,12 persen pada kuartal II-2025, dan menarik investasi Rp 942 triliun yang menyerap 1,2 juta tenaga kerja. Presiden turut memperingatkan akan kebocoran kekayaan nasional (net outflow of national wealth) yang berpotensi melemahkan ekonomi negara.

Penguatan ekonomi juga tecermin dari kebijakan di sektor pangan. Pemerintah mendorong ekstensifikasi dengan membuka 2 juta hektar sawah baru dan melakukan intensifikasi melalui distribusi pupuk langsung kepada petani serta menaikkan harga beli gabah menjadi Rp 6.500 per kg.

infografik Frekuensi Kata Kunci Penting dalam Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto

Selain penguatan, pemerataan ekonomi turut menjadi isu penting dalam pidato ini. Pemerintah merencanakan pembentukan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), pembangunan sekolah rakyat, renovasi rumah tidak layak huni, serta peningkatan kuota pembiayaan perumahan.

Pada saat yang sama, akan dibentuk 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan didirikan Danantara untuk memperkuat hilirisasi sumber daya alam (SDA).

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo turut menegaskan komitmennya memberantas praktik serakahnomics, yakni pengusaha yang memanipulasi pasar demi keuntungan besar dengan mengorbankan rakyat, melalui regulasi, penegakan hukum, dan penguasaan negara atas sektor strategis.

Analisis diksi menunjukkan, kata-kata seperti sekolah (15 kali), beras (8 kali), desa (7 kali), lapangan kerja (5 kali), investasi (4 kali), koperasi (3 kali), dan danantara (3 kali) turut membangun narasi penguatan ekonomi. Potret ini menegaskan bahwa Presiden Prabowo menempatkan penguatan sekaligus pemerataan ekonomi sebagai langkah awal strategis dalam melanjutkan pemerintahan ke depan.

Demokrasi

Kata demokrasi menjadi kata kunci kedua yang paling sering disebut dalam pidato. Presiden Prabowo menegaskan, demokrasi Indonesia harus dijalankan dengan semangat persatuan, gotong royong, dan budaya kekeluargaan, bukan saling menjatuhkan atau membenci.

Presiden menyoroti keberhasilan transisi kepemimpinan dari Presiden Joko Widodo ke pemerintahannya yang berlangsung damai dan lancar sebagai bukti kematangan demokrasi. Menurut dia, demokrasi yang sehat memerlukan transparansi dan pengawasan untuk mencegah korupsi karena kekuasaan absolut cenderung korup secara absolut.

Prabowo juga menolak pandangan bahwa pemikiran para pendiri bangsa sudah usang, menegaskan relevansi nilai-nilai tersebut dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Ia menyatakan bahwa pemahaman yang benar atas UUD 1945 tidak hanya dapat menyelamatkan demokrasi, tetapi juga memperkuat ekonomi nasional.

Infografik RAPBN 2026

Dalam hal ini, Presiden mengapresiasi peran lembaga negara, seperti MPR, DPR, dan DPD, yang terus menyosialisasikan nilai-nilai dasar kebangsaan dan menjaga kedaulatan rakyat. Kata kunci yang terkait penguatan demokrasi melalui peran lembaga negara juga banyak muncul, seperti lembaga (10 kali), pemerintahan (7 kali), dan korupsi (4 kali).

Dalam konteks penguatan demokrasi dan membangun bangsa yang menyejahterakan rakyat, Presiden Prabowo juga menyatakan keterbukaannya terhadap kritik. Dalam pidatonya, ia menyampaikan, ”Kita butuh koreksi, kita butuh kritik.”

”Walaupun kadang kritik itu menyesakkan juga. Tapi enggak ada masalah, jangan berhenti kritik,” ujarnya. Pernyataan ini menarik karena tidak tercantum dalam naskah resmi pidato. Harapannya, ini merupakan itikad tulus Presiden untuk melibatkan semua pihak dalam proses pembangunan bangsa.

Telaah

Jika digabungkan, video capaian yang diputar sebelum pidato dan isi pidato menunjukkan kesinambungan narasi, dengan ekonomi ditempatkan sebagai sektor utama yang diyakini mampu mengatasi persoalan bangsa lainnya. Pidato ini pun masih selaras dengan visi, misi, dan program kerja yang telah menjadi program prioritas nasional, terutama dengan fokus pada ketahanan pangan.

Dari sisi penyampaian, pidato berlangsung cukup natural dan tidak sepenuhnya terpaku pada teks sehingga memunculkan kesan otentik. Hal ini turut disampaikan pengamat politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, dalam wawancara di Kompas TV, Jumat (15/8/2025). Kunto menilai, gaya berpidato Prabowo natural dan meyakinkan sehingga patut dibanggakan.

Meski demikian, capaian yang disampaikan tetap memerlukan sikap kritis. Belakangan, muncul keraguan publik terhadap angka pertumbuhan ekonomi 5,12 persen di tengah lesunya kondisi ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kritik terhadap klaim capaian bukanlah hal baru.

Presiden Prabowo Subianto berjalan keluar bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan Ketua DPR Puan Maharani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di pengantar Nota Keunagan dan RAPBN 2026 menargetkan defisit anggaran negara pada 2026 mencapai Rp638,8 triliun. Sementara itu, pemerintah menetapkan asumsi pendapatan negara pada 2026 sebesar Rp 3.147,7 triliun dan belanja negara ditargetkan mencapai Rp3.786,5 triliun.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-08-2025

Pada pidato kenegaraan 2006, misalnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mendapat sorotan serupa ketika klaim pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan justru dibantah persepsi publik, dengan 51,7 persen responden menilai kemiskinan semakin parah dalam setahun terakhir (Kompas, 26/8/2006).

Sebagai penutup, pidato kenegaraan perdana Presiden Prabowo tidak hanya menjadi ajang penyampaian capaian dan agenda kerja, tetapi juga penegasan arah kebijakan yang menempatkan ekonomi dan demokrasi sebagai fondasi pemerintahan.

Namun, sebagaimana pengalaman terdahulu, efektivitas kebijakan dan keakuratan klaim capaian akan sangat ditentukan oleh bukti nyata yang dirasakan masyarakat. Dengan demikian, transparansi, konsistensi, dan keterbukaan terhadap kritik menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik. (Litbang Kompas)


Kerabat Kerja

Penulis:

Arita Nugraheni
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul