Ancaman Cuaca Ekstrem Bergeser dari Bali ke Jawa dan Sumatera

Setelah banjir melanda Nusa Tenggara Timur dan Bali, kawasan Indonesia bagian barat, termasuk Jawa dan Sumatera, juga perlu mewaspadai potensi hujan lebat.

11 Sep 2025 08:59 WIB · Lingkungan

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Setelah banjir melanda Nusa Tenggara Timur dan Bali, kawasan Indonesia bagian barat, termasuk Jawa dan Sumatera, juga perlu mewaspadai potensi hujan lebat. Gelombang Ekuatorial Rosby dan Madden Julian Oscillation tengah aktif, selain itu juga muncul bibit siklon tropis di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu.

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III Cahyo Nugroho mengatakan, bencana banjir di beberapa tempat di wilayah Bali pada Selasa (9/9/2025) malam disebabkan oleh akumulasi curah hujan harian berada dalam kategori lebat atau di atas 50 milimeter (mm) per hari hingga kategori ekstrem atau di atas 150 mm per hari.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, curah hujan di Stasiun Klimatologi Bali pada 9-10 September 2025 mencapai 385,5 mm, merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah di kawasan ini. Sementara curah hujan di Stasiun Geofisika Denpasar mencapai 188,4 mm dan Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai 98,7 mm.

Quote

Diprediksi pada 9-15 September Pulau Jawa berpotensi terdampak kelembaban udara tinggi dan hujan.

”Dari analisis dinamika atmosfer terlihat kondisi ektrem ini dipicu oleh aktifnya gelombang ekuatorial Rossby yang berdampak memicu pertumbuhan awan-awan konvektif. Selain itu, juga kondisi kelembaban udara dalam kategori lembab hingga di lapisan 200 mb (12.000 meter), yang mendukung pembentukan awan konvektif dengan puncak awan yang tinggi sehingga menimbulkan hujan lebat disertai kilat/petir,” katanya, Rabu (10/9/2025) malam.

Menurut Cahyo, potensi hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Bali.

Prediksi 9-15 September terlihat Pulau Jawa tertutup warna hijau gelap, berpotensi  mengalami kelembapan udara tinggi. Kombinasi gelombang ekuatorial Rossby dan MJO juga berpotensi meningkatkan hujan.

Sementara itu, peneliti iklim BMKG Siswanto mengatakan, gelombang Rossby bergerak dari timur ke wilayah barat sepanjang sekitar katulistiwa dengan kecepatan relatif lambat, sekitar 5–10 meter per detik. ”Jadi, setelah memicu hujan lebat di NTT lalu Bali, kalau melihat pergerakan Rossby, diprediksi pada 9-15 September Pulau Jawa berpotensi terdampak kelembaban udara tinggi dan hujan,” katanya.

Selain gelombang ekuatorial Rossby, juga ada potensi kombinasi gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang juga aktif bergerak, dengan pola pergerakan dari barat ke timur. Sebagaimana Rossby, MJO juga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.

Analisis cuaca harian yang dirilis BMKG menunjukkan, posisi MJO pada 8 September terpantau pada fase 2 (Samudra Hindia) yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan secara umum di wilayah Indonesia. Secara spasial, MJO ini berada di Samudra Hindia barat Sumatera hingga barat daya Banten, Nias, Sumatera bagian tengah hingga Selatan, Selat Sunda, dan Banten yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan di wilayah tersebut.

Data BMKG juga menunjukkan, suhu muka laut di perairan Indonesia cenderung hangat dengan anomali 0,5-2,5 derajat celsius lebih panas. Kondisi ini juga dapat meningkatkan potensi penguapan yang menambah massa uap air di udara di Samudra Hindia barat Sumatera, Selat Malaka, perairan timur Aceh hingga Riau, Selat Sunda, dan Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Timur.

Posisi bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia.

Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta juga mendeteksi kemunculan bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu. Keberadaan bibit siklon ini berpotensi memicu cuaca ekstrem di Banten, Bengkulu, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Dampak bencana

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, bencana banjir di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (8/9/2025) telah menewaskan empat orang dan satu orang hilang.

”Hasil perkembangan kaji cepat di lapangan, banjir yang dipicu oleh faktor cuaca ditambah topografi berupa lereng perbukitan sampai pesisir ini berdampak pada 14 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Mauponggo, Kecamatan Nangaroro, dan Kecamatan Boawae,” kata Muhari.

Menurut Muhari, kerugian materil akibat banjir bandang ini mencakup satu rumah hanyut dan dua kantor terdampak. Selain itu, tiga ruas jalan juga tertutup longsor yang meliputi 1 jalan provinsi dan 2 jalan kabupaten, 2 jembatan rusak, serta lahan pertanian dan ternak yang terdampak. ”Data kerusakan lainnya masih dalam proses pendataan,” katanya.

Situasi banjir di rumah salah satu warga di Denpasar Barat, Denpasar, Bali, Rabu (10/9/2025)

Sementara itu, tambah Muhari, hasil perkembangan kaji cepat penanganan darurat bencana banjir di Provinsi Bali menunjukkan, sebanyak 9 orang ditemukan dalam kondisi meninggal, 2 orang hilang, dan 202 kepala keluarga atau 620 jiwa terdampak banjir. Wilayah yang terdampak banjir ini mencakup enam kabupaten/kota, yakni Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan.

Di Kota Denpasar terdapat 5 korban meninggal dan 2 orang hilang, di Kabupaten Jembrana 2 orang meninggal dunia dengan total 103 kepala keluarga atau 200 jiwa terdampak, di Kabupaten Gianyar 1 orang meninggal, di Kabupaten Badung 1 orang meninggal, Kabupaten Klungkung tercatat 99 kepala keluarga atau 420 jiwa terdampak, dan Kabupaten Tabanan masih dalam proses pendataan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto