PERANG AS - IRAN

Ancaman Infrastruktur Energi AS-Israel Vs Iran dan Perang Minyak 2.0

Mampukah ancaman ”obliterate” dari Trump ke Iran menghentikan kekacauan ekonomi global?

24 Mar 2026 06:00 WIB · Internasional

AFP/UGC

Oleh Yohanes Mega Hendarto

Konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki fase yang sangat berbahaya. Serangan udara dan rudal yang saling balas kini tidak lagi hanya menyasar pangkalan militer, melainkan langsung menghantam jantung infrastruktur energi kedua pihak.

Situasi ini mengingatkan dunia pada krisis minyak 1973, tetapi dengan skala dan kecepatan yang jauh lebih mengguncang di medan pertempuran Selat Hormuz.

Pada 20 Maret 2026, pasukan gabungan AS dan Israel melancarkan serangan udara ke kompleks gas South Pars dan Asaluyeh yang menyumbang lebih dari 60 persen produksi gas Iran.

Serangan itu menyebabkan kebakaran hebat dan menghentikan aliran gas alam cair dalam jumlah yang belum pernah tercatat sejak revolusi 1979. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke fasilitas penyimpanan minyak di Qatar dan Arab Saudi sehingga api besar membakar terminal ekspor regional.

Serangan AS-Israel berlanjut keesokan harinya ke fasilitas Bushehr dan penyimpanan minyak di Teheran yang memicu ledakan besar di ibu kota dan kepanikan penduduk setempat.

Pasukan Iran dengan segera menembakkan rudal balistik ke kilang Yanbu di Arab Saudi dan terminal LNG Ras Laffan di Qatar yang menghentikan ekspor sementara. Kapal tanker di Selat Hormuz praktis berhenti beroperasi karena ancaman rudal yang terus meningkat.

Lalu pada 22 Maret 2026, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik tenaga uap Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka penuh dalam 48 jam.

Infografik riset Kronologi Serangan terhadap Fasilitas Energi.

Ancaman tersebut dijawab Iran dengan tegas, seluruh infrastruktur energi di negara Teluk termasuk pabrik air bersih (desalination plant) akan menjadi sasaran balasan.

Eskalasi ini terjadi setelah perang berlangsung hampir empat minggu dan pasokan energi dunia kini berada di ambang krisis yang lebih luas dari sekadar pertempuran militer.

Dari rangkaian serangan cepat itulah muncul strategi baru yang mengubah seluruh kalkulasi perang slama ini. Kedua pihak sengaja menjadikan pipa minyak pembangkit listrik dan terminal ekspor sebagai target strategis utama.

Strategi serangan ini menciptakan efek domino yang lebih besar karena semakin intens serangan ke infrastruktur, semakin besar pula kerusakan ekonomi global jika kalkulasi meleset.

Serangan ke fasilitas energi Iran dan negara Teluk lainnya ini disebut banyak analis sebagai ”Perang Minyak 2.0” yang skalanya melebihi krisis minyak pada 1973.

Selat Hormuz yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia setiap hari kini hampir lumpuh total sehingga produksi minyak Arab Saudi, Irak, dan Kuwait terpaksa disimpan di tangki karena tidak bisa diekspor.

Harga minyak mentah Brent sudah melonjak ke kisaran 100 hingga 108 dolar AS per barel dalam waktu yang sangat singkat.

Sebuah kapal kargo terlihat di lepas pantai kota Fujairah, di Selat Hormuz di utara Uni Emirat Arab, pada 25 Februari 2026.

Gangguan tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Gas alam cair dari Qatar juga terhenti sehingga harga gas dan listrik di Asia serta Eropa ikut melonjak tajam.

Kilang minyak di Teluk yang rusak menyebabkan kekurangan diesel dan bahan bakar jet yang langsung memengaruhi transportasi logistik dan bahkan produksi pupuk global.

Strategi ini menunjukkan bahwa pengendalian pasokan energi kini menjadi instrumen utama dalam konflik modern. Gangguan terhadap produksi minyak dan listrik dapat langsung berdampak pada ekonomi global.

Kondisi ini membuktikan bahwa disrupsi energi mampu melemahkan aktivitas ekonomi dan stabilitas negara tanpa penggunaan senjata nuklir.

Di satu sisi, AS melalui ancaman Trump ingin memaksa Iran membuka Selat Hormuz tanpa harus melakukan invasi darat besar-besaran.

Di sisi lain, Iran menggunakan kekuatan proksi dan rudal untuk membuat seluruh kawasan Teluk menderita bersama. Tujuannya, negara-negara yang terimbas terpaksa menekan AS untuk menghentikan serangan.

Siapa yang unggul?

Dalam konflik antara AS-Israel dan Iran, tidak ada pemenang yang jelas dalam jangka pendek karena tujuan setiap aktor berbeda.

AS menargetkan pelemahan cepat terhadap kapasitas energi Iran tanpa perang terbuka di darat. Keberhasilan strategi ini bergantung besar pada kemampuan AS menekan Iran sebelum dampak ekonomi global membesar.

Iran merespons dengan memperluas dampak konflik ke kawasan Teluk dan bukan hanya mempertahankan wilayahnya. Serangan terhadap fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi serta gangguan di Selat Hormuz meningkatkan biaya ekonomi bagi semua pihak.

Langkah ini memaksa sekutu Amerika Serikat ikut menanggung risiko dan mempersempit ruang tekanan sepihak.

Secara militer, AS dan Israel memiliki keunggulan teknologi, intelijen, dan presisi serangan. Keduanya terbukti mampu merusak target bernilai tinggi dalam waktu singkat dan dengan tingkat akurasi tinggi. Namun, keunggulan ini terbatas pada level taktis dan tidak otomatis menentukan hasil akhir konflik.

Sementara itu, Iran tidak mengandalkan kemenangan militer langsung, tetapi pada kemampuan bertahan dan mengganggu distribusi energi.

Serangan terbatas yang berulang cukup untuk memicu gangguan pasokan dan meningkatkan harga energi global. Dampaknya langsung terasa pada inflasi, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi negara lain.

Infografik riset Sejumlah Krisis dan Dampak Terhadap Harga Minyak Global.

Di atas kertas, sebagian produsen minyak di AS diuntungkan oleh kenaikan harga minyak. Produsen energi memperoleh margin lebih tinggi dalam waktu singkat. Namun, keuntungan ini tidak merata dan tidak menghilangkan risiko geopolitik yang dihadapi pemerintahnya.

Pihak yang paling terdampak adalah negara importir energi di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah membuat mereka rentan terhadap gangguan distribusi. Kenaikan harga energi segera menekan inflasi, nilai tukar, dan anggaran negara.

Dalam jangka menengah, indikator kemenangan bergeser dari hasil militer ke ketahanan energi. Negara dengan sumber energi terdiversifikasi dan cadangan yang cukup memiliki risiko lebih rendah. Negara yang bergantung pada impor menghadapi tekanan berlapis ketika gangguan berlangsung lebih lama.

Kesimpulannya, tidak ada kemenangan cepat dalam konflik kali ini. AS unggul secara militer, tetapi menghadapi risiko eskalasi biaya global.

Iran mampu memperluas dampak konflik, tetapi menanggung kerusakan domestik yang besar. Hasil akhir ditentukan oleh daya tahan ekonomi dan energi setiap pihak, bukan oleh intensitas serangan.

Dampak ke Indonesia

Strategi Perang Minyak 2.0 ini secara jelas menggambarkan, perang energi jauh lebih berbahaya daripada yang tampak di permukaan.

Negara-negara importir besar seperti Indonesia kini merasakan getarannya secara langsung melalui ancaman kenaikan harga BBM dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Dampaknya tidak lagi terbatas pada pompa bahan bakar, tetapi merembes hingga ke kantong rumah tangga.

Sebagai negara yang masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan bahan bakar minyak, Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap gangguan pasokan global.

Situasi perang saat ini membuat jalur distribusi terganggu dan harga melonjak. Tekanan langsung pun muncul pada struktur biaya energi nasional yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas pasar internasional.

Pemerintah Indonesia mulai merespons dengan menyiapkan langkah penghematan anggaran kementerian/lembaga untuk mengantisipasi lonjakan defisit APBN 2026.

Upaya ini mencerminkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada sisi harga, tetapi juga pada kemampuan fiskal negara untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Dalam situasi seperti ini, kebijakan energi dan anggaran menjadi saling terkait erat karena kenaikan harga minyak langsung memperbesar beban subsidi.

Seseorang menunjuk halaman situs MarineTraffic yang menampilkan lalu lintas kapal komersial di tepi Selat Hormuz dekat pesisir Iran, di Paris, Perancis, Rabu (4/3/2026). Jalur perdagangan minyak itu terganggu setelah Iran menutup selat karena perang.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi konsekuensi lanjutan dari situasi ini. Kebutuhan impor energi yang meningkat dalam kondisi harga tinggi memperbesar permintaan valuta asing, sementara ketidakpastian global mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.

Kombinasi ini berpotensi melemahkan rupiah dan pada akhirnya memperbesar biaya impor barang secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, kondisi ini menempatkan masyarakat pada posisi yang semakin rentan terhadap fluktuasi ekonomi global.

Kenaikan harga bahan bakar, tarif transportasi, dan harga pangan dapat terjadi dalam waktu hampir bersamaan dapat menciptakan tekanan ganda terhadap daya beli. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak perang energi terbukti sangat nyata dan langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Respons pemerintah menjadi faktor penentu dalam meredam dampak tersebut. Kebijakan subsidi, pengendalian harga, serta pengelolaan cadangan energi akan menentukan seberapa besar tekanan yang akhirnya dirasakan masyarakat.

Namun, ruang fiskal yang terbatas membuat setiap kebijakan harus diambil dengan perhitungan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan beban jangka panjang bagi perekonomian nasional. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohanes Mega Hendarto
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul