Penurunan Muka Tanah Makin Nyata di Pesisir Jakarta

Air laut rembes lewat tanggul di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara. Rembesan bikin warga setempat cemas sebab mereka punya pengalaman tak mengenakkan sebelumnya.

26 Nov 2025 10:44 WIB · Metropolitan

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

JAKARTA, KOMPAS — Penurunan muka tanah semakin nyata di pesisir Jakarta. Air laut yang merembes lewat tanggul di Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara, jadi sebagian contohnya. Rembesan air laut itu membuat warga setempat cemas. Apalagi, mereka punya pengalaman tak mengenakkan sebelumnya.

Rembesan air laut itu telah dirasakan oleh warga di Kelurahan Pluit, sejak 2020. Teddy, pengurus RW 16 Kelurahan Pluit, menceritakan jebolnya tanggul di bagian timur kawasan itu pada 2020. Perumahan terendam air setinggi 1,5-2 meter selama seminggu.

Empat tahun sebelumnya tanggul juga jebol di dekat salah satu apartemen. Kejadian tahun 2016 ini merendam seratusan rumah. ”Kalau tanggul timur itu jebol, saya terdampak. Ini akibat penurunan muka tanah sampai 10 sentimeter setiap tahunnya,” kata Teddy, Rabu (26/11/2025).

Wilayah Kelurahan Pluit hanya salah satu dari ratusan titik di Jakarta yang mengalami penurunan muka tanah. Laporan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyebutkan, ada ratusan titik mengalami penurunan muka tanah yang bervariasi hingga 10 cm. Adapun rerata penurunan mencapai 3,9 cm sepanjang tahun.

Hal tersebut diketahui setelah Dinas SDA DKI Jakarta mengamati 255 titik sepanjang 2023. Kepala Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Alam Jakarta Ciko Tricanescoro mengatakan, laju penurunan tanah yang dilaporkan itu merupakan hasil pengukuran dengan metode GPS geodetisk berdasarkan perjanjian kerja sama dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB.

Pembangunan tanggul

Terkait penurunan muka tanah, warga berharap agar segera ditangani. Sebab, jebolnya tanggul tak hanya berdampak pada perumahan warga. Aktivitas lain di kawasan itu juga terganggu. Oleh karena itu, warga meminta pengerjaan pembangunan tanggul pengaman pantai, seperti pada proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Muara Angke dan Muara Baru agar dikebut.

”Karena sekeliling ini harus dibangun tanggul NCICD baru benar-benar kuat. Sekarang air laut pasang pasti sedikit-sedikit melewati tanggul,” kata Teddy.

Menurut Teddy, tidak ada warga yang mau tinggal di area rawan banjir. Namun, pindah tempat tinggal tidak semudah membalikkan telapak tangan di tengah tingginya biaya hidup.

Warga berjalan melintasi genangan air rob di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (6/11/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta memprediksi sepuluh wilayah di Jakarta Utara berpotensi terkena banjir rob hingga 12 November 2025. Adapun 10 wilayah tersebut yakni, Kamal Muara, Kapuk Muara, Pluit, Ancol, Marunda, Cilincing, Priok, Kalibaru, Muara Angke, dan Penjaringan. Ancaman banjir rob itu disebabkan adanya fenomena supermoon dan bulan purnama yang meningkatkan ketinggian air laut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
06-11-2025

NCICD disebut juga tanggul laut raksasa atau giant sea wall. Proyek ini dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta dan pemerintah pusat untuk menghadapi laju penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan permukaan air laut yang bermuara pada banjir rob di pesisir Jakarta.

Banjir rob rutin melanda kawasan pantai utara Jawa dengan tinggi berkisar 5-200 sentimeter. Tidak hanya itu, kualitas hidup warga di pesisir juga buruk lantaran minimnya akses sanitasi dan pengelolaan air limbah yang layak.

Secara keseluruhan, NCICD yang dikerjakan mempunyai total panjang trase kritis 39 kilometer. Jakarta bertanggung jawab atas pembangunan tanggul fase A di area pantai dan muara sungai sepanjang 21 kilometer di Kamal Muara, Muara Angke, Muara Baru, Pantai Mutiara, Sunda Kelapa-Ancol Barat, dan Kali Blencong.

Pembangunan tanggul pantai dan muara sungai sudah mencapai 8,2 kilometer hingga tahun 2023. Selanjutnya, yakni pada 2024, pembangunan kembali berlanjut dengan tiga paket pekerjaan sepanjang 4,8 kilometer.

Respons pemerintah

Ciko Tricanescoro mengatakan, tim lapangan sudah merespons tanggul penahan air laut yang rembes atau bocor di beberapa titik di kawasan Pluit, khususnya di Pantai Mutiara. Selain memeriksa titik-titik rembesan, tim lapangan memetakan seluruh indikasi dan potensi kebocoran di jalur tanggul tersebut.

Untuk penanganan jangka panjangnya, pemerintah akan membangun NCICD di kawasan itu. ”Pembangunan NCICD di Pantai Mutiara dilanjutkan kembali pada tahun 2025. Proyeknya menggunakan skema multiyears (tahun jamak) pada 2025-2027. Sekarang masih dalam proses lelang,” kata Ciko ketika dihubungi terpisah.

NCICD di Pantai Mutiara akan dibangun sepanjang 530 meter. Titik sepanjang 430 meter terletak di sisi timur kawasan dan 100 meter sisanya di sisi barat. Pekerjaan diharapkan dapat terealisasi sesuai target yang ditetapkan, yakni tahun 2027.

Sementara untuk panjang tanggul di kawasan Pluit rencananya mencapai 5,55 kilometer. Hal ini berdasarkan nota kesepakatan tahun 2025. Tanggul ini terdiri dari segmen Pantai Mutiara sisi barat-tengah sepanjang 1,057 kilometer, lalu di Pantai Mutiara sisi timur sepanjang 0,45 kilometer, Pantai Mutiara sisi utara 3,463 kilometer, dan Greenbay Pluit 0,58 kilometer.

”Desain teknis tinggi tanggul +4,8 meter dari kedalaman air surut rendah atau setara dengan lebih kurang 2,5 meter terhadap jalan existing di kawasan Pantai Mutiara,” kata Ciko.

Pekerja menyelesaikan pembuatan tanggul mitigasi banjir rob di Pluit, Jakarta Utara, Rabu (11/6/2025). Pemerintah Kota Jakarta Utara membangun tanggul mitigasi di kawasan Pluit, Penjaringan, sebagai upaya mencegah dan mengantisipasi banjir rob di lokasi tersebut. Tanggul ini dibangun setinggi 3,6 meter untuk mengantisipasi terjadi banjir pasang di lokasi tersebut. Pembangunan tanggul mitigasi ini dimulai sejak 24 Maret 2025. Ditargetkan pengerjaan ini selesai pada 20 Agustus 2025 atau selama 150 hari kerja.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
11-06-2025

Selain itu, ada sejumlah progres pembangunan NCICD berdasarkan daftar lokasi kritis dan pekerjaan tanggul per November 2025. Segmen tanggul di Kamal Muara, misalnya, telah terbangun 0,765 kilometer atau selesai.

Adapun di Muara Angke terbangun 1,802 kilometer dari total target 5,26 kilometer. Kini tersisa pekerjaan sepanjang 3,463 kilometer.

Sementara untuk kawasan Pluit, termasuk Pantai Mutiara, terbangun 0,39 kilometer dari total rencana 5,55 kilometer. Kini tersisa 5,16 kilometer dan terdapat lokasi kritis baru sepanjang 4,043 kilometer berdasarkan nota kesepakatan tahun 2025.

Selanjutnya, tanggul di Muara Baru-Pantai Timur terbangun 4 kilometer atau berarti sudah selesai. Pada area Sunda Kelapa terbangun 1,20 kilometer dari total 2,805 kilometer. Proyek dikerjakan oleh PT Pelindo II.

Kawasan lainnya ialah Ancol dengan segmen terbangun 1,92 kilometer dari total rencana 2,07 kilometer. Pekerjaan ditargetkan rampung tahun 2025.

Di Marunda terbangun 1,58 kilometer dari total 4,55 kilometer. Sekarang tersisa pekerjaan 2,97 kilometer. Sementara di Tanjungan, target pembangunan 3,26 kilometer dan terdapat lokasi kritis baru berdasarkan nota kesepakatan tahun 2025. ”Dengan demikian, total yang sudah terbangun sepanjang 11,67 kilometer,” ujar Ciko.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan