RDF Plant Rorotan digadang sebagai salah satu solusi mengatasi sampah di Jakarta dengan kapasitas pengolahan mencapai 2.500 ton per hari.
13 Feb 2025 09:30 WIB · Metro
Kabar terbaru terkait pengelolaan sampah di Jakarta datang di tengah pekan ini. Tempat pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan di Jakarta Utara telah memasuki tahap persiapan peralatan dan sistem sebelum pengoperasian awal. Fasilitas ini digadang sebagai solusi pengelolaan sampah dengan kapasitas 2.500 ton per hari.
Pembangunan RDF Plant Rorotan dimulai sejak Mei 2024 dengan biaya Rp 1,28 triliun dari APBD DKI Jakarta 2024. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 7,87 hektar.
Menurut rencana, peresmian akan dilakukan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta terpilih, Pramono Anung-Rano Karno, yang kemungkinan akan dilantik pada 20 Februari 2025.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asep Kuswanto mengatakan, RDF Plant Rorotan dilengkapi dengan teknologi pengendalian bau yang canggih. Fasilitas ini memiliki deodorizer untuk menetralkan bau amonia dan hidrogen sulfida melalui proses oksidasi.
Selain itu, terdapat filter karbon aktif untuk menyerap partikel bau yang tersisa. Cyclone dan wet scrubber untuk menyaring gas hasil pembakaran sebelum dilepas ke lingkungan. Dan, sistem pengolahan air limbah untuk mengelola residu cair dari proses pengolahan sampah.
”RDF Plant tidak hanya menjadi solusi pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekitar,” ujar Asep, Kamis (13/2/2025).
Fasilitas ini akan melayani 16 kecamatan di Jakarta, yakni seluruh kecamatan di Jakarta Utara; Jakarta Pusat (Cempaka Putih, Kemayoran, Johar Baru, dan Senen); dan Jakarta Timur (Cakung, Pulogadung, Duren Sawit, Jatinegara, Matraman, dan Makassar).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/13/ae34a800-a3ed-3f4b-b312-d64f86f79a68_jpg.jpg)
Menurut Asep, RDF Plant Rorotan dirancang untuk mengolah 2.500 ton sampah baru per hari. Hasilnya sebagai berikut, 35-40 persen menjadi produk RDF, 1-2 persen berupa material daur ulang, seperti logam, dan 15 persen residu, seperti beling, kerikil, pasir, dan keramik, serta sisanya berupa air lindi dan kadar air yang menguap saat proses pengeringan.
Pada akhir pekan lalu, warga Jakarta Garden City, yang berjarak kurang dari 5 km dari RDF Plant Rorotan, mengeluhkan bau tidak sedap.
Asep menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi karena proses pengaturan unit Advanced Oxidation Process pada deodorizer belum beroperasi penuh. Namun, ia memastikan masalah ini telah diatasi dan tidak akan terulang di masa mendatang.
RDF Plant Rorotan akan melengkapi RDF Plant Bantargebang, yang telah lebih dulu beroperasi. RDF Plant Bantargebang mengolah 2.000 ton sampah per hari, termasuk 1.000 ton sampah lama dari zona tidak aktif TPST Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kedua fasilitas ini bertujuan untuk mengurangi beban TPST Bantargebang, yang setiap harinya menerima 7.200-7.700 ton sampah. Daya tampung TPST tersebut tetap sama sejak mulai beroperasi pada 1989 sehingga pengurangan beban menjadi sangat penting.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/27/804074fb-5dcc-4852-b0bc-d9797582e323_jpg.jpg)
Staf Ahli Bidang Kelestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya Kementerian Lingkungan Hidup Noer Adi Wardojo menyampaikan bahwa setiap wilayah harus memiliki peta jalan pengelolaan sampah yang jelas dan optimal.
Hal itu dikatakannya dalam pertemuan dengan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, perwakilan Asosiasi Bank Sampah Indonesia, Indonesian Packaging Recovery Organization, Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DKI Jakarta, Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia, dan pegiat maggot pada 7 Februari 2025.
Terkait pengelolaan sampah, dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Yuki Wardhana, menekankan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir, termasuk dengan meningkatkan kesadaran warga dalam mengelola sampah rumah tangga.
”Salah satu masalah utama di kota besar seperti Jakarta adalah volume sampah yang terus menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA),” ujar Yuki.
Menurut dia, saat ini 70 persen sampah di TPA berasal dari rumah tangga sehingga umur teknis TPA menjadi lebih pendek. Oleh karena itu, butuh langkah strategis dalam mengurangi beban pengelolaan sampah di Jakarta.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .