Pada awal musim kompetisi tenis 2025, siapa pun bisa menjadi juara. Salah satunya adalah petenis putri berusia 17 tahun, Mirra Andreeva.
23 Feb 2025 15:18 WIB · Olahraga
Juara tunggal putri turnamen tenis profesional datang dan pergi. Wajah baru sang juara bisa petenis yang sudah bertahun-tahun menanti mendapat trofi, bisa juga remaja yang belum lama bersaing di arena tenis profesional, seperti Mirra Andreeva.
Andreeva adalah petenis Rusia kelahiran 9 April 2007. Dia memulai karier di arena tenis profesional pada 2022 ketika mendapat wildcard untuk bermain di turnamen WTA 250 Tunisia. Namun, perjalanannya begitu singkat karena kalah dari Anastasia Potapova pada babak pertama.
Meski sudah mendapatkan kesempatan bermain di WTA Tour, Andreeva masih bisa bermain di kategori yunior hingga berusia 18 tahun. Pada 2023, misalnya, dia bermain pada level yunior dalam Grand Slam Australia Terbuka dan mencapai final.
Namanya mulai dikenal lebih banyak orang pada tahun tersebut saat menjalani debut di arena Wimbledon, turnamen yang juga mengangkat nama Cori ”Coco” Gauff pada 2019. Andreeva dan Coco mencapai babak keempat dengan status sama, yaitu sebagai petenis yang harus melalui fase kualifikasi terlebih dulu.
Coco menjadi fenomena di Wimbledon 2019 saat mengalahkan Venus Williams pada babak pertama sebelum kalah dari Simona Halep pada babak keempat dalam usia 15 tahun. Meski setelah itu langkahnya dalam persaingan tenis profesional tak begitu cepat, Coco bisa menjadi bagian dari juara ajang besar (WTA 1000 dan Grand Slam) dalam usia muda. Dia meraih gelar pertama dari level WTA 1000 di Cincinnati, diikuti dengan menjadi juara Grand Slam Amerika Serikat Terbuka pada 2023 dalam usia 19 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/e913d6704db75e84cbb554ee3503620d-wires_photo_2025_02_23T145328.109.jpg)
Empat tahun setelah fenomena Coco di Wimbledon 2019, Andreeva menciptakan momen yang sama di lapangan rumput All England Club, London, Inggris. Dia menyingkirkan petenis unggulan pada dua babak, salah satunya juara Perancis Terbuka 2021, Barbora Krejcikova, di babak kedua.
Kejutan dari Andreeva, yang berusia 16 tahun, akhirnya dihentikan Madison Keys pada babak keempat. Momen tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Andreeva mendapat penghargaan petenis pendatang baru terbaik 2023 dari WTA.
Setahun kemudian, sang remaja kembali membuat kejutan di ajang Grand Slam dengan menembus semifinal Perancis Terbuka. Dia menyingkirkan juara Grand Slam, Victoria Azarenka, dan Aryna Sabalenka pada babak kedua dan perempat final.
Pada 2024 pula, Andreeva meraih hal-hal pertama dalam kariernya, salah satunya menjuarai turnamen WTA, yaitu di WTA 250 Iasi, Romania. Dia juga mencapai perempat final pada tiga turnamen WTA 1000, di Madrid, Cincinnati, dan Beijing.
Selain itu, Andreeva mencatatkan diri sebagai Olimpian peraih medali, prestasi yang jarang dicapai petenis lain. Dalam debutnya pada ajang multicabang terbesar di dunia itu, Andreeva meraih perak ganda putri bersama Diana Shnaider di Paris 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/afd652e9807e03780335083960d86989-wires_photo_2025_02_23T145342.697.jpg)
Perkembangannya sebagai atlet muda yang bersaing dengan petenis-petenis top dunia dijalani bersama Conchita Martinez, mantan petenis Spanyol yang melatihnya sejak April 2024. Tak hanya menjadi pendamping untuk memberi masukan teknis, Martinez menjadi teman bagi Andreeva yang mengakui bahwa dia masih sering bersikap seperti anak-anak.
Saat tampil di Melbourne Park untuk Australia Terbuka, pada Januari, misalnya, Andreeva bercerita bahwa dia masih menjadi sosok yang mudah marah. Selain itu, dia pun adalah orang yang senang berbagi berbagai cerita pada orang lain, termasuk pada Martinez.
”Saya tidak tahu, apakah dia ingin mendengar setiap cerita saya atau tidak, tetapi, saya sangat nyaman bercerita berbagai hal padanya. Kami juga sering bercanda, tetapi tetap menjalin hubungan profesional sebagai atlet dan pelatih,” tutur Andreeva dalam laman resmi WTA.
Berkat bantuan Martinez, yang juga pernah melatih Garbine Muguruza dan Karolina Pliskova, Andreeva meraih gelar pertama dari ajang WTA 1000. Dia menjuarai WTA 1000 Dubai, Uni Emirat Arab, setelah mengalahkan Clara Tauson dengan skor 7-6 (1), 6-1, di final, Sabtu (22/2/2025). Maka, jadilah gelar tersebut sebagai pencapaian tertinggi, setidaknya hingga saat ini.
Kedua finalis tersebut mencatatkan perjalanan fenomenal dalam karier masing-masing selama sepekan di Dubai dengan menyingkirkan juara Grand Slam. Tauson mengalahkan tiga kali juara Grand Slam yang juga petenis nomor satu dunia, Sabalenka, pada babak ketiga. Adapun Andreeva memulangkan tiga juara Grand Slam, yaitu Marketa Vondrousova pada babak kedua, Iga Swiatek (perempat final), dan Elena Rybakina (semifinal).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/29/aus38_1580277463_jpg.jpg)
Perjalanan itu membuat Andreeva menjadi petenis termuda yang mengalahkan tiga juara Grand Slam dalam satu turnamen setelah Maria Sharapova di turnamen Final WTA 2004. Sharapova, yang berusia 17 tahun 7 bulan, mengalahkan para seniornya, Svetana Kuznetsova, Anastasia Myskina, dan Serena Williams di final. Adapun Andreeva berusia 17 tahun 10 bulan ketika menjuarai WTA 1000 Dubai.
Meski demikian, Andreeva dipastikan menjadi juara WTA 1000 termuda sejak turnamen level ini diperkenalkan pada 2009. Tak hanya itu, dalam usia 17 tahun 301 hari, pada Senin (24/2/2025), dia menjadi petenis termuda sejak Nicole Vaidisova (2007) yang menembus ranking sepuluh besar dunia. Andreeva akan berada pada peringkat kesembilan.
”Saya bermimpi menjalani konferensi pers dengan trofi WTA 1000 di sisi saya. Dan, itu akhirnya terjadi,” kata Andreeva dalam konferensi pers. ”Biasanya, petenis juara minum champagne untuk merayakan, sayangnya, saya tidak bisa karena masih 17 tahun,” lanjutnya.
Selain Martinez, ada dua sosok yang secara tak langsung berperan mengantarkan Andreeva menjadi petenis terbaik di WTA Dubai, yaitu para atlet terbaik (greatest of all time/GOAT) di cabang masing-masing: LeBron James dan Roger Federer.
Andreeva mengakui tak tampil baik saat menjalani final hingga tertinggal lebih dulu dari Tauson. Pada momen sulit, dia mengingat perkataan James, empat kali juara NBA bersama tiga klub, tentang bagaimana sang juara bisa menemukan jalan untuk menang meski tanpa penampilan terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/23/933a3027cad51a233cc5a5dcfb42cd62-wires_photo_2025_02_23T145445.192.jpg)
”Dia mengatakan, saat semuanya terjadi sesuai keinginan, kita pasti percaya diri. Akan tetapi, yang membuat seseorang lebih hebat adalah ketika kita tetap berusaha memberikan yang terbaik pada saat kondisi tak ideal. Saya pun mengingatkan diri sendiri untuk tak berpikir negatif yang bisa membuat performa saya bertambah rusak. Saya bisa memilih jalan lain, yaitu berjuang untuk setiap poin. Itu yang saya lakukan hari ini,” tutur Andreeva.
Petenis yang mengidolakan Andy Murray dan Ons Jabeur itu juga teringat akan penampilan Federer saat menjalani final Australia Terbuka 2017. Federer juara setelah mengalahkan Rafael Nadal dalam lima set dan itu menjadi gelar pertamanya di ajang Grand Slam dalam lima tahun.
”Saya menonton cuplikan pertandingannya dan berpikir, ’Gila, bagaimana dia bisa melakukan itu?’ Apa yang dilakukan Federer adalah luar biasa,” katanya.
Walaupun yang dicapainya di Dubai tergolong luar biasa, Andreeva tak butuh waktu lama tersadar bahwa tantangan di depannya akan semakin besar. Apalagi, banyak petenis yang tak bisa konsisten bersaing di level tinggi meski telah menjuarai ajang besar. Momen terdekat adalah ketika Amanda Anisimova tersingkir pada babak pertama di Dubai setelah menjuarai WTA 1000 Doha dalam selang tiga hari.
”Setelah masuk ranking sepuluh besar, akan butuh waktu lama dan perjalanan yang lebih pelan untuk terus naik. Persaingannya lebih ketat,” kata petenis yang menargetkan bisa berada pada peringkat lima besar di akhir 2025 tersebut. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari