Ibrahim Arief divonis 4 tahun penjara meski terdapat dua hakim yang memiliki pendapat berbeda.
12 Mei 2026 20:57 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/Rony Ariyanto Nugroho
Majelis hakim tipikor akhirnya mengetuk palu vonis terhadap terdakwa Ibrahim Arief dalam kasus Pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ibrahim Arief yang merupakan pihak konsultan teknologi dalam kasus proyek pengadaan Chromebook tahun 2020-2022 ini divonis 4 tahun penjara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/d05ac7b2229efdb1013df4e0be95a0b6-79782.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/6724d72bae32d3f04a61cd752df683f6-79905.jpg)
Putusan ini dibacakan dan diketuk palu oleh Ketua Majelis Hakim Purwanto S Abdullah dalam persidangan ini. Selain penjara 4 tahun, Ibrahim juga didenda Rp 500 Juta. Putusan ini lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa yang menuntut 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, serta uang pengganti Rp 16 miliar.
Dalam vonis ini, dua dari lima hakim yang memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion). Dua pendapat berbeda hakim Eryusman dan Andi Saputra ini justru membebaskan terdakwa dari segala tuntutan karena tidak terbukti memperkaya diri sendiri dan tidak terbukti secara jelas keterlibatan terdakwa terkait unsur tindak kejahatan (mens rea) dalam kasus ini.
Putusan ini dihadiri para pendukung dan sanak keluarga Ibrahim Arief. Selama persidangan mereka mengikuti dan menyimak majelis hakim membacakan poin-poin petitum putusan. Berbagai ekspresi pun mewarnai wajah mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/70cc4edc066095f6b4eaa10646a339c8-79788.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/9228ad72914da9f35269bc8de3727a40-79785.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/264ff3dd0f344ef4cc1680c96ef04a1e-79787.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/db07da5f4173f241c853b4d9f95873f4-79829.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/1ad9055e5290790364acf1cfb6af960c-79789.jpg)
Tangisan mereka pun pecah seketika saat palu vonis diketuk. Suasana sedih dan pelukan pun tak terelakan saat mereka menyambut Ibrahim Arief berjalan meninggalkan ruangan seusai sidang. Mereka tidak menyangkal bahwa sanak keluarganya harus divonis penjara meskipun mereka meyakini tak adanya unsur kejahatan yang dilakukan Ibam dalam kasus ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/fe1ae8ba7bf9b45b9febedb371a26306-79801.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/c6d674eec54487aefb2f5eda7abd8d87-79802.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/12/090651670f533b17696f041ea78c8028-79922.jpg)
Penulis:
Rony Ariyanto NugrohoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim