Perang yang terjadi selama 21 bulan telah menewaskan 888 tentara Israel dan menewaskan 57.000 di pihak Palestina.
09 Jul 2025 07:07 WIB · Internasional
Konfirmasi militer Israel yang menyebutkan lima tentaranya tewas dalam sebuah serangan di Gaza, Senin (7/7/2025), menambah panjang perjalanan konflik Israel dan Hamas. Serangan itu bersamaan saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengunjungi Gedung Putih untuk berunding dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang rencana gencatan senjata untuk mengakhiri perang di Gaza.
Seorang pejabat keamanan Israel mengatakan, kelompok bersenjata meledakkan ranjau saat militer Israel melakukan operasi darat di daerah Beit Hanoun di Gaza utara, yang menjadi medan peperangan lama antarmereka.
Kelompok bersenjata itu juga menembaki pasukan yang mengevakuasi tentaranya yang terluka, kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang membahas insiden tersebut dengan media.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/08/f291bd08-899d-4aa2-b29e-fc6d368df925_jpg.jpg)
Selain lima tewas, serangan itu juga melukai 14 tentara. Dua minggu sebelumnya, tujuh prajurit Israel dilaporkan tewas dalam sebuah serangan paling mematikan, ketika seorang penyerang Palestina memasang bom di kendaraan lapis baja. Jumlah korban tewas menjadi 888 sejak perang melawan Hamas yang dimulai 2023.
Dalam sebuah pernyataan, Netanyahu menyampaikan belasungkawa atas kematian tersebut. Ia mengatakan bahwa para prajurit gugur ”dalam sebuah kampanye untuk mengalahkan Hamas dan membebaskan semua sandera kami.”
Di pihak lain, 18 penduduk Palestina tewas dalam serangan Israel pada hari Senin. Pejabat kesehatan Gaza di Rumah Sakit Nasser, tempat para korban serangan Israel dirawat, mengatakan salah satu serangan menargetkan tenda-tenda yang menampung para pengungsi di Khan Younis di Gaza selatan, menewaskan empat orang.
Serangan terpisah di Khan Younis menewaskan empat orang, termasuk seorang ibu, ayah, dan dua anak mereka. Di Gaza tengah, serangan Israel menghantam sekelompok orang, menewaskan 10 orang dan melukai 72 lainnya, menurut pernyataan Rumah Sakit Awda di Nuseirat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/08/0ada649b-104f-4010-a2d9-09ab2a82b1ae_jpg.jpg)
Militer Israel belum memberikan komentar langsung mengenai serangan itu, tetapi mereka menyalahkan Hamas atas segala kerugian yang dialami warga sipil, dan mengatakan kelompok militan itu beroperasi di daerah padat penduduk.
Perang yang terus terjadi juga melumpuhkan sebagian besar sistem perawatan di Gaza. Bulan Sabit Merah Palestina, pada hari Selasa, mengatakan, Klinik Medis Al-Zaytoun di Kota Gaza menghentikan operasinya setelah penembakan di daerah sekitarnya.
Penutupan ini akan memaksa ribuan warga sipil berjalan lebih jauh untuk mendapatkan perawatan medis atau mendapatkan vaksinasi untuk anak-anak.
Genjatan senjata ala Trump
Tawaran genjatan senjata yang diprakarsai Trump selama 60 hari kepada Israel dan Hamas masih belum sepenuhnya ditaati. Trump berambisi menghentikan perang yang telah terjadi selama 21 bulan antara Israel dan Hamas, setelah berhasil ”mendamaikan” perang Israel dan Iran setelah perang 12 hari.
Para pejabat Gedung Putih mendesak kedua belah pihak untuk segera menyegel kesepakatan yang akan menghentikan pertempuran selama 60 hari, mengirimkan bantuan ke Gaza dan di mana 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Perang dimulai saat Hamas menyerbu Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sebagian besar telah dibebaskan dalam gencatan senjata sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/679f7ad61a9f07038b685d7ff73a6d94-AP25188849477196.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/485faae9b91cf38e712a5906fb53ab81-AP25188848784738.jpg)
Israel membalas serangan Hamas dengan serbuan dan serangan ke kubu Hamas yang telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina, di mana lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Kementerian tersebut, yang berada di bawah pemerintahan Hamas di Gaza, tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan.
PBB dan organisasi internasional lainnya menganggap angka-angka tersebut sebagai statistik yang paling dapat diandalkan mengenai korban perang. Perang bukanlah soal angka, tetapi bisa lebih dari itu. Perang adalah tangis dan duka di kedua belah pihak.
(AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase