Jenama-jenama mode Eropa tidak memproduksi barang di China. Namun, produsen barang ”aspal" di China berkat perang dagang dengan AS berani berjualan dengan terbuka.
15 Apr 2025 15:15 WIB · Internasional
Sedang viral di pelantar Tiktok orang-orang yang mengaku sebagai pemilik pabrik di China. Mereka mengklaim bahwa tas dan kosmetik jenama Eropa ataupun Amerika Serikat umumnya dibuat di China. Setelah barang selesai dibuat, dikirim ke Perancis atau Italia untuk dilabeli ”buatan Perancis” atau ”buatan Italia”, dibungkus, lalu dijual di butik dengan harga selangit.
Para pengunggah di Tiktok ini mengatakan, di tengah perang dagang yang dikobarkan oleh Presiden AS Donald Trump, lebih baik konsumen AS langsung memesan barang-barang mewah itu ke pabriknya di China. ”Modal membuat tas (Hermés) Birkin itu cuma 1.000 dollar AS. Di butik, harganya minimal 10.000 dollar AS. Ayo, sini, beli sama saya saja,” kata akun @NewsNexus yang diakses pada Selasa (15/4/2025).
Demikian pula video-video dari orang-orang yang mengaku membuat tas untuk jenama Christian Dior, Prada, Chanel, dan Yves Saint Laurent. Selain itu, ada video yang mengaku dari para pemilik pabrik pembuat kosmetik, antara lain untuk MAC dan Dior.
Tidak ada yang bisa membuktikan apakah China secara resmi memproduksi barang-barang dari jenama eksklusif. Pasalnya, jika melacak ke perusahaan-perusahaan yang memegang jenama itu, memang diproduksi di Eropa.
Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH) adalah perusahaan induk untuk 75 jenama, antara lain Celine, Givenchy, Louis Vuitton, Fendi, Kenzo, Loewe, dan Marc Jacobs. Tercatat di laman resmi perusahaan dan bursa saham bahwa pabrik pembuatan tas mereka ada di Saint-Pourçain-sur Sioule, Perancis, dan Firenze, Italia.
Kantor berita Reuters pada 10 April 2025 melaporkan, LVMH juga memiliki pabrik di Texas, AS. Pabrik ini diresmikan oleh Trump pada 2019 sebagai bentuk komitmen LVMH untuk berinvestasi di AS. Akan tetapi, setelah enam tahun beroperasi, kinerjanya yang terburuk di antara semua pabrik LVMH.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/15/b1ea8eaf-21f9-45c1-8fed-d67f4fd129eb_jpg.jpg)
Kering, korporasi Perancis, adalah induk dari Yves Saint Laurent, Bottega Veneta, Gucci, dan Balenciaga. Menurut jurnal bisnis mode MDS edisi 24 Mei 2019, pabrik-pabrik di bawah Kering berada di Swiss dan Italia. Pabrik terbaru mereka ada di New Jersey, AS.
Sementara Hermés lebih ketat. Mereka memusatkan produksi di Perancis. Tepatnya di kota-kota Pantin, Lyon, Ardenne, dan Normandy. Berdasarkan liputan Newsweek, Hermés memproduksi dari awal sampai akhir, yaitu dari menyamak kulit sampai membuat produk jadi.
Butuh waktu 15 hingga 40 jam untuk membuat satu tas Hermés, baik model Birkin, Kelly, maupun Constance. Perajinnya harus mengikuti pelatihan selama lima tahun sebelum dipercaya memegang produksi.
Terkait ucapan di Tiktok bahwa para jenama Eropa ini hanya menempel label ”buatan Perancis” atau ”buatan Italia” patut disikapi secara skeptis. Uni Eropa memiliki peraturan ketat mengenai pemasangan label. Aturan ini bisa diakses secara daring dengan nomor EU Regulation 952/2013.
Bagi Perancis dan Italia, aturan untuk produk mode sangat ketat karena merupakan sektor unggulan dan bersejarah. Cap Origine France Garantie (OFG) di Perancis berarti mayoritas bagian produk dibuat di Perancis dan mayoritas biayanya datang dari Perancis.
Ini serupa dengan cap ”buatan AS”. Komisi Perdagangan Federal AS mewajibkan pembuatan bagian yang signifikan dari suatu produk sampai ke penyelesaiannya dilakukan di AS.
Lantas, jika tidak satu pun jenama Eropa itu diproduksi di China, kenapa video-video itu beredar di Tiktok? Salah satu kemungkinannya ialah trolling atau menyindir psikologis kelas menengah yang terobsesi dengan jenama. Apalagi, banyak unggahan di media sosial bahwa warganet hanya membeli tas karena berjenama terkenal dan mewah tanpa mengerti cita rasa seni dan keahlian yang diperlukan untuk menciptakan tas itu.
Kedua, video-video itu mempreteli setiap proses pembuatan tas mewah. Betul, tas Kelly dibuat dari kulit sapi bermutu tinggi dengan jahitan kuat yang dikreasikan oleh tangan-tangan terampil di Perancis. Akan tetapi, layakkah tas itu dihargai 60.000 dollar AS (Rp 1 miliar) seperti tas yang dipamerkan penyanyi Cardi B di media sosial?
Video di Tiktok─apabila benar─membedah harga per komponen. Hasilnya, produksi satu tas Hermés hanya 1.000 dollar AS (Rp 16,8 juta). Akan tetapi, patut kita pahami bahwa itu harga apabila diproduksi massal. Rumah mode selalu memproduksi dengan jumlah terbatas guna menjaga agar produk mereka tidak pasaran. Ini yang membuat ongkos produksi lebih mahal, selain upah pekerja di Eropa lebih tinggi daripada di China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/04/01/954e5c76-c258-452f-a77f-a9862173ab60.jpg)
”Kalian itu membeli karena logonya. Jika kalian mau produk dari bahan yang sama, dengan harga sepersepuluh, bahkan kurang, silakan ke kami,” kata salah satu video yang diedarkan ulang di X oleh akun @realnorma_kay. Orang di dalam video menjelaskan, tas itu tidak diberi logo Hermés, Dior, Chael, atau apa pun.
Video-video ini ditanggapi dengan humoris oleh warganet AS. Umumnya, mereka memuji China tidak tunduk kepada pukulan tarif 145 persen dari Trump. Warganet juga menertawai diri sendiri yang menyukai produk karena jenama dan logo.
”Boleh juga cara China mengejek kita,” cuit seorang warganet AS.
Bukan rahasia dunia bahwa China memproduksi barang-barang ”aspal” atau asli tapi palsu. Barangnya dibuat dengan bahan yang sama dengan produk asli, tetapi di pabrik yang bukan dilisensi oleh jenama terkait. Kadang-kadang, produsen melabeli produk dengan nama yang meleset dari jenama asli, misalnya Adiads, Neki, Cnovesre, dan Birkinstick.
Kamar Dagang dan Industri AS mendata, 86 persen barang palsu global berasal dari China. Kajian Pusat Antipemalsuan dan Perlindungan Produk (ACAPP) Universitas Michigan mendata, barang palsu menguasai 3,3 persen perdagangan di dunia. Artinya, dari bisnis ini, China mengendalikan 818,4 miliar dollar AS dari total 1,023 triliun dollar AS.
Daxue Consulting dalam laporannya menjelaskan, meskipun di China ada undang-undang perlindungan hak cipta, penegakannya sulit. Rantai pasok produksi barang palsu sangat luas. Selain itu, permintaan dari pasar domestik ataupun internasional sangat tinggi.
”Munculnya produk palsu ini sejalan dengan psikologis konsumen yang menyandingkan suatu jenama dengan kemewahan ataupun gaya hidup keren. Mereka menginginkan tampilan dan logo tanpa menghabiskan isi dompet,” tulis lembaga tersebut.
Business of Fashion edisi 9 September 2020 melaporkan, kepolisian Shanghai merazia 62 pabrik pembuatan barang palsu. Mereka menyita 2.000 tas dan bahan baku dengan total harga 14,6 juta dollar AS. Mereka membuat tas-tas contekan Louis Vuitton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/26/0cbc3ce3-7a6d-4062-ba03-fb680c9f738b.jpg)
Penggerebekan itu berdasarkan hasil penyelidikan Herry Luo dari Roy IP Legal Consultant Limited. Lembaga itu disewa oleh LVMH untuk menyelidiki berbagai praktik pemalsuan produk mereka di China. Menurut Luo, pandemi Covid-19 membuat banyak jenama tidak memiliki cukup dana untuk menyewa jasa para detektif swasta ini.
”Akibatnya, bisnis pemalsuan barang mewah meledak di pasaran,” kata Luo.
Sekarang, dengan perang dagang, ada kemungkinan pasar barang palsu kembali meningkat. Bukan karena mau bergaya dengan harga minim. Akan tetapi, konsumen sengaja membeli sebagai bentuk protes kepada penetapan tarif yang unilateral.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto