Hanya beberapa jam setelah Trump menggertak akan meluncurkan serangan kedua, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan pesan kooperatif kepada AS.
05 Jan 2026 15:13 WIB · Internasional
AP
Nada keras Caracas mendadak melunak setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hanya beberapa jam setelah Trump menggertak akan meluncurkan serangan kedua, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan pesan kooperatif dan undangan kepada Washington.
”Kami mengundang Pemerintah AS untuk berkolaborasi dengan kami dalam sebuah agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama dalam kerangka hukum internasional guna memperkuat kehidupan bersama yang berkelanjutan,” tulisnya di unggahan Instagram, Senin (5/1/2026).
Rodriguez juga menulis pesan langsung kepada Trump. ”Presiden Donald Trump, rakyat kami, dan kawasan kami berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang,” tulisnya.
Unggahan itu ditutup dengan Rodriguez yang menyatakan sebagai presiden sementara Venezuela. Padahal, dalam pidato televisi sebelumnya, ia menyebut pemerintahan Trump sebagai ekstremis dan mengecam penangkapan Maduro.
”Apa yang dilakukan terhadap Venezuela adalah kekejaman yang melanggar hukum internasional,” katanya, dikelilingi pejabat sipil dan pimpinan militer saat itu.
Bahkan, ia juga sempat menyatakan seluruh Venezuela hanya mengakui Maduro sebagai presiden. Sikap itu berbalik arah setelah gertakan Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/04/d59c58a3-38bc-4a8a-b282-3e5673b94a92.jpg)
Berbaliknya sikap itu hanya beberapa jam setelah Trump mengancam melancarkan serangan militer kedua ke Venezuela jika Rodriguez tak segaris dengan agenda Washington.
Dari dalam pesawat Air Force One, Trump menyatakan pemerintahannya ingin memperbaiki Venezuela, termasuk menata ulang industri minyak negara kaya minyak tersebut.
Ia bahkan memperluas ancamannya ke kawasan. Trump menyinggung kemungkinan menyerang Kolombia dan Meksiko jika kedua negara itu dinilai gagal membendung aliran narkotika ke AS.
”Operasi Kolombia terdengar bagus bagi saya,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa Kuba, sekutu dekat Venezuela, tampaknya siap runtuh tanpa perlu intervensi militer AS.
Presiden Donald Trump, rakyat kami, dan kawasan kami berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang.
Di Caracas, Mahkamah Agung Venezuela memerintahkan Rodriguez mengambil alih kekuasaan sebagai presiden sementara. Keputusan itu didukung militer Venezuela. Rodriguez telah menjabat sebagai Wakil Presiden Venezuela sejak 2018.
Dalam wawancara dengan The Atlantic, Trump menuntut akses penuh terhadap fasilitas minyak dan infrastruktur Venezuela. Ia mengaitkan operasi penangkapan Maduro dengan arus migran Venezuela ke AS, yang menurut dia termasuk mantan narapidana dan pelaku kejahatan.
Konstitusi Venezuela mengharuskan pemilu digelar dalam 30 hari jika presiden dinyatakan tidak dapat menjalankan tugas secara permanen. Namun, Mahkamah Agung yang loyal pada rezim sosialis menyebut absennya Maduro bersifat sementara sehingga pemilu tidak diwajibkan.
Hal ini memungkinkan Rodríguez memegang kekuasaan hingga 90 hari, bahkan diperpanjang sampai enam bulan. Belum jelas berapa lama Rodríguez akan memimpin dan sejauh mana ajakan dialognya kepada Washington akan dijawab.
Rodriguez (56) merupakan salah satu figur tangan besi dalam politik Venezuela. Media Barat kerap menggambarkan dia sebagai penganut kebijakan ekonomi ortodoks.
Ia dilukiskan sebagai sosok yang berupaya membangun hubungan dengan sektor swasta serta punya selera tinggi. Dalam berbagai penampilan publik, Rodriguez kerap terlihat mengenakan busana dari merek-merek mewah.
Selama lebih dari 10 tahun berada di kehidupan publik, Rodriguez membangun pengaruh yang sangat besar. Ia pun memperoleh julukan ”tsarina”. Tsarina berasal dari kata tsar atau penguasa perempuan dalam bahasa Rusia.
Adapun Maduro menyebut dia sebagai harimau betina. Hal ini karena pembelaannya terhadap pemerintahan sosialis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/05/87fc5108-ebb0-48a1-96a7-96a5834fb2a6.jpg)
Selama menjabat sebagai wakil presiden, Rodriguez secara bersamaan memegang jabatan strategis, mula-mula sebagai menteri keuangan kemudian sebagai menteri perminyakan. Sebelumnya, ia pernah menjabat menteri komunikasi, menteri luar negeri, serta memimpin lembaga legislatif propemerintah.
Dalam menjalankan perannya, Rodriguez bekerja sangat dekat dengan sang adik, Jorge Rodriguez, yang kini menjabat ketua Majelis Nasional. Keduanya merupakan anak dari Jorge Antonio Rodriguez, pejuang gerilya kiri yang mendirikan Partai Liga Sosialis.
Jorge Antonio Rodriguez ditangkap pada 1976 atas dugaan keterlibatan dalam penculikan seorang pengusaha AS. Ia meninggal dalam tahanan polisi, diduga karena penyiksaan. Maduro memuji Jorge Antonio Rodriguez sebagai pahlawan kiri Venezuela.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/04/49528525-3ec9-4060-be3f-ea2c9356cd2f.jpg)
Rodriguez adalah pengacara dengan spesialisasi hukum ketenagakerjaan. Ia menghabiskan sekitar sembilan tahun di Perancis dan Inggris untuk menempuh studi pascasarjana.
Di luar aktivitas politik, ia kerap mengikuti kompetisi tenis meja bersama sang adik. Mereka sering membagikan momen itu di media sosial.
Sebagai wakil presiden, Rodriguez berperan penting dalam penerapan kebijakan ekonomi, setelah bertahun-tahun Venezuela didera hiperinflasi di tengah sanksi AS. Kebijakannya mencakup pemangkasan belanja publik, pembatasan kredit, serta penerapan nilai tukar tetap antara bolivar dan dollar AS. Langkah-langkah tersebut membantu menurunkan inflasi dari level tiga digit.
Di sektor energi, kantor berita Reuters mencatat Rodríguez berhasil menjaga produksi minyak Venezuela pada rata-rata 1,1 juta barrel per hari sepanjang tahun 2025. Peran itu menempatkannya dalam kontak dekat dengan perusahaan minyak asing, termasuk Chevron.
Selain pengelolaan domestik, Rodriguez berperan dalam diplomasi energi internasional. Ia disebut sebagai pejabat Venezuela yang paling sering melawat ke China, Rusia, dan Turki. Ketiganya negara sekutu utama Caracas dan mitra penting dalam sektor energi. (REUTERS/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra