BerandaKesehatanAntisipasi Ebola, Sistem ...

Antisipasi Ebola, Sistem Surveilans Penyakit Tak Boleh Kendur

21 Mei 2018 04:00 WIB · Kesehatan

Oleh ADHITYA RAMADHAN

 Simulasi Penanganan Ebola - Petugas medis mengikuti simulasi penanganan korban virus ebola yang dilakukan di Dermaga Nusantara, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (4/12/2014). Simulasi tersebut dilakukan untuk melaksanakan prosedur yang aman karena virus ebola sangat mematikan dan mudah penularannya.Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

JAKARTA, KOMPAS – Sistem surveilans penyakit di Indonesia tidak boleh lengah terhadap berbagai kemungkinan munculnya penyakit infeksi baru. Kemampuan untuk mencegah, mendeteksi, dan merespon setiap kemungkinan munculnya wabah penyakit infeksi baru harus terus ditingkatkan.

Direktur Lembaga Biologi Molekular Eijkman Prof Amin Soebandrio, menyampaikan hal itu, Jumat (18/5/2018), menanggapi munculnya kasus ebola di Republik Demokratik Kongo dalam sepekan terakhir. “Suveilans pada manusia maupun hewannya harus tetap kuat dan melibatkan berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, juga kehutanan,” ujarnya.

Amin menambahkan, Indonesia perlu memperkuat kapasitas mencegah, mendeteksi, dan merespons jika muncul penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases). Selain itu, kapasitas laboratorium harus sesuai. Pemeriksaan patogen penyakit infeksi baru seperti ebola memerlukan laboratorium dengan tingkat keamanan biologis level 3 (Bio Security Level 3/ BSL 3). Terdapat beberapa laboratorium BSL 3 di Indonesia. Satu yang paling aktif dioperasionalkan ialah laboratorium BSL 3 di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Menurut Amin, di beberapa tempat di Afrika kasus ebola masih saja terjadi secara sporadis. Jika muncul kasus, maka responsnya harus cepat sehingga tidak menyebar luas. Pasien yang terinfeksi pun harus diobati dengan baik.

Meskipun Afrika jauh dari Indonesia, mobilitas penduduk melalui transportasi udara dan migrasi hewan yang menjadi vektor harus tetap diwaspadai. Oleh karena itu, sistem surveilans tidak boleh lengah. Karantina kesehatan di pintu-pintu masuk negara harus tetap waspada. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga perlu melaksanakan surveilans vektor.

Pemerintah Republik Demokratik Kongo mengumumkan munculnya wabah ebola di Bikoro, Provinsi Equateur, Selasa (8/5/2018). Hal ini didasari atas hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan dua dari lima sampel dari pasien di the Institut National de Recherche Biomedicale (INRB) di Kinshasa positif ebola. Kini tambahan sampel sedang di kumpulkan untuk diperiksa.

Hal itu merupakan wabah ebola kesembilan yang terjadi di Republik Demokratik Kongo sejak penyakit tersebut ditemukan tahun 1976. Dalam lima minggu terakhir terdapat 21 kasus yang dicurigai sebagai demam berdarah akibat virus termasuk 17 kasus kematian.

Sejak itu, WHO dan pemerintah Republik Kongo bekerja sama memperluas penanganan ebola dan memobilisasi sumber daya seperti yang dilakukan saat wabah ebola terjadi tahun 2017 lalu. Tim dengan berbagai latar belakang dari WHO, dokter lintas batas (Medecins Sans Frontieres), dan tim kesehatan provinsi langsung terjun ke lapangan untuk memperkuat koordinasi dan investigasi.

Respons komprehensif

“Kami sadar, untuk mengatasi wabah ini memerlukan respons komprehensif dan terkoordinasi. Untuk itu, WHO akan bekerja sama dengan pemerintah setempat dan lembaga mitra. Kami akan mengumpulkan lebih banyak sampel, melacak riwayat kontak, menyosialisasikan pesan pencegahan dan pengendalian penyakit, dan membuat metode pengumpulan data,” kata Matshidiso Moeti, Direktur WHO Regional Afrika seperti dirilis di laman www.who.int.

Quote

Kami akan mengumpulkan lebih banyak sampel, melacak riwayat kontak, menyosialisasikan pesan pencegahan dan pengendalian penyakit, dan membuat metode pengumpulan data.

Bikoro berada di Provinsi Equateur di tepian Danau Tumba di bagian Barat Laut Kongo dekat dengan Republik Kongo. Semua kasus dilaporkan dari fasilitas kesehatan di ilkoko Iponge sekitar 30 kilometer dari Bikoro. Fasilitas kesehatan di Bikoro sangat bergantung pada bantuan lembaga internasional.

WHO menyalurkan dana kontijensi dan darurat sebesar 1 juta dollar AS untuk mendukung operasional tim di lapangan selama tiga bulan ke depan. Hal yang menjadi target adalah menghentikan wabah ebola agar tidak menyebar ke provinsi lain atau negara lain.

Perkembangan terakhir menunjukkan, ada satu kasus ebola muncul di Wangata, zona kesehatan di Mbandaka, kota dengan populasi hampir 1,2 juta jiwa di Provinsi Equateur. Fakta ini berbeda dari kasus sebelumnya yang muncul di Bikoro, sekitar 150 kilometer dari Mbandaka. Hal ini memunculkan kekhawatiran terjadinya penyebaran yang pesat.

“Ini adalah perkembangan yang mengkhawatirkan. Namun, sekarang kami memiliki mekanisme lebih baik untuk melawan ebola,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhenom Ghebreyesus saat berkunjung ke Republik Demokratik Kongo. Per 15 Mei 2018 ada 44 kasus ebola yang dilaporkan, terdiri dari 3 kasus positif, 20 kasus kemungkinan positif, dan 21 kasus dicurigai positif.


Kerabat Kerja

Penulis:

ADHITYA RAMADHAN
 | 

Editor: