Penetapan Sepihak Kartel Venezuela sebagai Organisasi Teroris oleh AS Berdampak Luas

AS menetapkan kartel narkoba Venezuela sebagai organisasi teroris asing. Meskipun belum ada bukti yang dibuka pada publik, penetapan sepihak itu berdampak luas.

24 Nov 2025 10:26 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

Pemerintah Amerika Serikat secara sepihak menetapkan kartel Matahari di Venezuela sebagai organisasi teroris asing atau FTO. Penetapan itu berlaku efektif mulai Senin (24/11/2025). Langkah tersebut menjadi bentuk tekanan Amerika Serikat kepada Pemerintah Venezuela di bawah Presiden Nicolas Maduro. AS mengklaim Maduro mengendalikan kartel itu.

Daftar FTO versi Amerika Serikat ini mencakup kelompok Islam, separatis, gerilyawan, dan yang paling mutakhir adalah geng kriminal dan sindikat narkoba dari Meksiko hingga Kolombia yang diawasi Kementerian Luar Negeri AS.

Daftar FTO versi AS bertambah panjang sejak Senin ini dengan keberadaan kartel Los Soles atau kartel Para Matahari yang disebut AS dijalankan di bawah kendali Presiden Maduro. Akan tetapi, belum ada bukti yang dibuka kepada publik untuk menguatkan tuduhan soal peran Maduro tersebut.

”Kelompok tersebut diklaim atas teror di wilayah Amerika Serikat,” ujar Menlu AS Marco Rubio.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintahan Trump memerangi perdagangan narkoba dan imigrasi ilegal dari Amerika Latin. Sebelumnya, AS disebut berupaya menculik dan membunuh Maduro dengan tentara bayaran, tetapi tanpa membuahkan hasil.

(FILES) The world’s largest aircraft carrier USS Gerald R Ford sails in the North Sea during NATO Neptune Strike 2025 exercise on September 24, 2025. A US aircraft carrier strike group arrived in Latin America on November 11, 2025, escalating a military buildup that Venezuela has warned could trigger a full-blown conflict as it announced its own deployment. The USS Gerald R. Ford, the world's largest aircraft carrier, entered the US Naval Forces Southern Command's area of responsibility, which encompasses Latin America and the Caribbean, the command said in a statement. (Photo by Jonathan KLEIN / AFP)

Kini, dengan kehadiran kapal induk termodern AS, yakni USS Gerald Ford di dekat Perairan Venezuela, penetapan status FTO di Venezuela dijadikan AS sebagai dasar legal untuk lebih jauh menekan Venezuela. AS telah mengerahkan belasan ribu prajurit dan pesawat tempur, helikopter, serta berbagai senjata di kawasan Karibia seiring dengan meningkatnya tekanan AS ke Venezuela yang kaya minyak dan hasil tambang itu.

Sejauh ini, militer AS sudah membunuh 83 orang dengan serangan udara terhadap kapal yang disebut mengangkut narkoba di perairan internasional sejak September 2025. Sejauh ini juga belum ada bukti yang diberikan bahwa kapal–kapal tersebut mengangkut narkoba.

Opsi baru

Presiden Trump pada awal November mengatakan, Maduro sedang menghitung hari akhir. Berbagai media AS menyatakan, Trump telah mengesahkan operasi CIA di Venezuela.

Daftar FTO AS sejatinya tidak disertai penjelasan tentang tindakan militer. Akan tetapi, dalam wawancara pada Jumat (21/11/2025), Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebutkan penetapan klasifikasi FTO membuka berbagai opsi tindakan AS.

”Meningkatnya tekanan memperkuat pandangan rencana serangan segera dilakukan AS,” kata akademisi Meksiko, Juan Manule Trak, kepada AFP.

Namun, akademisi lainnya, Alexis Alzuru, mengatakan, serangan AS hanya akan dilakukan terbatas ke bandara-bandara yang dianggap menjadi tempat operasi kartel narkoba, jauh dari kota–kota berpenduduk padat.

Kehancuran ekonomi

Penetapan FTO membuat berbagai pihak dilarang AS untuk memberikan dukungan pada organisasi-organisasi yang ada dalam daftar itu. Para ekonom menilai, penetapan FTO terhadap kartel Para Matahari di Venezuela itu juga semakin memperkuat sanksi ekonomi AS terhadap rezim penguasa.

Meski demikian, dampak terbesar dirasakan rakyat Venelueza yang mengalami berbagai kesulitan. Salah satu dampak ekonomi sanksi AS adalah Venezuela terpaksa menjual minyak bumi dengan harga murah secara ilegal di pasar gelap.

Kondisi itu dapat mematikan ekonomi Venezuela yang terancam hiperinflasi. Nilai tukar mata uang Venezuela Bolivar kini semakin turun menjadi 238,71 bolivar untuk 1 dollar AS.

After travelling by bus from southern Equador towards Peru, a young Venezuelan national arrives at the border town of Huaquillas on August 24, 2018. - Ecuador opened a "humanitarian corridor" to allow masses of migrants escaping Venezuela's free-falling economy to stream towards the Peruvian border Friday, hours before Lima puts new restrictions on entry into effect. (Photo by CRIS BOURONCLE / AFP)

Sejauh ini, AS masih membiarkan Venezuela menjual minyak di pasar gelap dan tidak mengotak–atik pengoperasian perusahaan migas AS, Chevron, di Venezuela.

”AS belum menangkap atau menahan satu tanker pengangkut minyak Venezuela sejauh ini. Namun, penetapan FTO itu membuka berbagai peluang,” kata pakar perminyakan, Fransisco Monaldi.

Perundingan Maduro

Pada Jumat, Maduro ikut dalam aksi Hari Muda-Mudi dan menyatakan tidak takut menghadapi ”permainan” AS.

”Hari Jumat ini saya akan berpesta bersama para pelajar Venezuela dan tidak ada yang bisa menghentikan kita,” kata Maduro di tengah masa pelajar dan mahasiswa serta mahasiswi.

Pemerintah Venezuela memperlihatkan soliditas dengan berbagai latihan militer. Para komandan militer pun menyatakan setia kepada Maduro. ”Jika jaringan militer dan Pemerintah Venezuela tidak pecah, Maduro tidak bakal berunding dengan AS,” ujar Alzuru.

Meski demikian, Maduro menyatakan siap bertemu empat mata dengan Trump pada kondisi tertentu.

Trak meyakini, kecil kemungkinan Maduro akan jatuh dan oposisi di bawah Maria Corina Machado bakal berkuasa. Nobel perdamaian yang diterima Machado tahun ini menuai banyak kritik terkait rekam jejak kedekatannya dengan kelompok anti-migran dan anti-Islam di Eropa.

”Trump mengincar kekayaan alam Venezuela demi imbal balik mengurangi ancaman militernya di sekitar Venezuela dan selanjutnya mengatur transisi kekuasaan di sana,” kata Trak.

Brasil cemas

Menyikapi perkembangan tersebut, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, Minggu, mengungkapkan keprihatinan. Ia cemas dengan meningkatnya kehadiran kekuatan militer AS di dekat Venezuela.

”Saya sangat cemas dengan penempatan militer AS di perairan Karibia. Saya ingin membahas ini dengan Presiden Trump karena menimbulkan kecemasan bagi kami,” kata Lula setelah pertemuan KTT G20 di Afrika Selatan.

South African Cyril Ramaphosa, foreground, center right, and Brazilian President Luiz Inacio Lula da Silva shake hands as leaders pose for a group photo on the opening day of the G20 Leaders' Summit, in Johannesburg, South Africa, Saturday, Nov. 22, 2025. (Yves Herman/Pool Photo via AP)

”Jangan sampai terjadi perang. Jangan kita mengulangi kesalahan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Sekali tembakan dilepaskan, sulit memperkirakan kesudahannya,” lanjut Lula.

Brasil yang berbatasan darat dengan Venezuela sangat memperhatikan perkembangan situasi dari aksi militer AS di kawasan.

Seiring ancaman AS tersebut, Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan peringatan kepada penerbangan sipil di Venezuela untuk lebih berhati-hati saat terbang karena memburuknya situasi keamanan dan bertambahnya aktivitas militer di dan sekitar Venezuela

Asosiasi Penerbangan Venezuela Marisela de Laoiza mengatakan, sejumlah maskapai menangguhkan penerbangan ke Venezuela. Maskapai tersebut adalah Iberia dari Spanyol, TAP dari Portugal, LATAM dari Chile, Avianca dari Kolombia, dan GOL dari Brasil.

Laoiza tidak menjelaskan berapa lama penangguhan penerbangan diberlakukan.

Adapun maskapai COPA dari Panama, Air Eropa dan Plus Utra dari Spanyol, serta LASER dari Venezuela terus beroperasi. Sementara maskapai Turkish Airlines membatalkan penerbangan pada 24-28 November 2025. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto