Piala Dunia 2026 kian menarik dengan adanya sejumlah peraturan baru. Timnas Jepang menjadi yang pertama mengambil keuntungan
04 Jun 2026 12:33 WIB · Olahraga
AP Photo/Charlie Riedel
Selain jumlah peserta yang bertambah, hal yang membuat Piala Dunia 2026 berbeda kontras dengan edisi sebelumnya adalah soal aturan permainan. Badan Asosiasi Sepak Bola Internasional atau IFAB mengimplementasikan banyak aturan baru. Seperangkat aturan baru itu bertujuan memastikan pertandingan berjalan lebih adil. Lebih utamanya lagi, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
”IFAB telah menyetujui serangkaian perubahan penting pada peraturan permainan. Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi turnamen besar pertama yang menggunakannya,” kata Kepala Petugas Perwasitan FIFA Pierluigi Collina dalam konferensi pers, Senin (1/6/2026).
Perubahan aturan itu, antara lain, mencakup penyesuaian asisten wasit video (VAR), durasi pergantian pemain, pengambilan tendangan gawang dan lemparan ke dalam, serta pemain cedera.
Ada pula aturan yang melarang pemain menutup mulut saat berbicara dengan lawan pada waktu terjadi keributan. Aturan yang terkesan membatasi kebebasan pemain itu untuk mencegah ucapan-ucapan rasial seperti yang menimpa Vinicius Junior saat berkonflik dengan Gianluca Prestianni.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/cc0b96dfe7fb727cbc48193157e31c4f-Argentina_WCup_Soccer_1_.jpeg)
Dari sekian banyak aturan baru itu, semangat utamanya tetap sama, yakni memastikan pertandingan berlangsung dengan adil. Selain itu, hal yang paling penting adalah IFAB berupaya semaksimal mungkin agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia atas tindakan pemain.
”Perubahan ini bertujuan untuk mengatasi diskriminasi, mengurangi pemborosan waktu, meningkatkan tempo pertandingan, dan meningkatkan pengalaman pemain dan penggemar,” ucap Collina.
Contoh paling konkret terlihat dari aturan jeda pergantian pemain. Dalam sepak bola, pergantian pemain menjadi cara umum bagi tim-tim yang sedang unggul untuk memperlambat tempo permainan atau membuang-buang waktu. Pemain yang diganti akan berjalan pelan ke tepi lapangan agar waktu terus berjalan. Tidak jarang perseteruan terjadi akibat tim yang sedang mengejar ketertinggalan merasa pemain lawan membutuhkan waktu yang lama untuk diganti keluar.
Dalam aturan baru, IFAB memutuskan pemain yang diganti hanya punya waktu 10 detik untuk meninggalkan lapangan di titik keluar terdekat. Jika tidak, pemain yang akan masuk harus menunggu setidaknya satu menit hingga jeda permainan berikutnya dan diizinkan masuk oleh wasit. Itu berarti tim yang gagal memenuhi aturan baru harus bermain dengan 10 pemain.
Jepang menjadi tim pertama yang mendapat keuntungan dari implementasi aturan baru itu. Saat menjalani laga uji coba kontra Eslandia pada Minggu (31/5/2026), Isak Thorvaldsson tidak dapat segera memasuki lapangan akibat Kristian Hlynsson tidak segera keluar lapangan dalam 10 detik. Thorvaldsson pun dicegah masuk lapangan sehingga Eslandia hanya bermain dengan 10 orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/a8f30de56b1416d5c5eacec5332f9494-Brazil_WCup_Soccer.jpeg)
Keunggulan jumlah pemain itu dimanfaatkan maksimal oleh Jepang yang mencetak gol lewat sundulan Koki Ogawa tiga menit jelang waktu normal usai. Gol Jepang itu tercipta 1 menit 54 detik setelah Thorvaldsson dicegah masuk lapangan. Berkat gol Ogawa, Jepang sukses mengamankan kemenangan tipis, 1-0.
Seusai laga, Pelatih Jepang Hajime Moriyasu memperingatkan para pemainnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti Eslandia pada Piala Dunia nanti. Dia mengungkapkan, para pemainnya sudah mempelajari beberapa aturan baru sehingga tidak ada masalah berarti dalam adaptasinya.
”Dengan aturan baru ini, pemain mungkin tidak bisa kembali ke lapangan secepat sebelumnya. Itu sesuatu yang perlu kita perhatikan. Baik saat pergantian pemain maupun di momen lain, kami perlu menghindari menciptakan celah yang memberi lawan kesempatan,” kata Moriyasu, dikutip dari BBC Sport.
Poin aturan berikutnya yang berkaitan dengan waktu adalah aksi lemparan ke dalam dan tendangan gawang (goal kick) yang dibatasi hanya lima detik. Sebagaimana pergantian pemain, lemparan ke dalam dan tendangan gawang kerap dipakai tim yang sedang unggul untuk membuang-buang waktu.
Dalam aturan baru, lemparan ke dalam dan tendangan gawang harus dilakukan dalam waktu maksimal lima detik. Wasit nanti akan mengangkat tangan untuk menghitung. Jika melewati lima detik, lemparan ke dalam akan diberikan kepada lawan. Adapun tendangan gawang yang melewati lima detik berbuah tendangan sudut untuk tim lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/7e21e06d2e1e68f0f4d817fdf24de939-Australia_Training_Camp_Ahead_of_FIFA_World_Cup_2026_1_.jpeg)
Aspek menarik dari perubahan aturan ini ialah waktu penanganan pemain cedera yang turut diatur. Pemain yang cedera dan dirawat oleh staf medis harus meninggalkan lapangan selama satu menit. Pengecualian bisa berlaku untuk cedera yang dialami kiper, cedera parah, atau benturan. Namun, pemain outfield sudah pasti harus mematuhi ketentuan tersebut.
Menjadi menarik karena IFAB juga menyasar waktu yang terbuang selama pemain mendapat perawatan saat cedera. Pada edisi Piala Dunia sebelumnya, risiko kehilangan banyak waktu akibat penanganan pemain cedera sudah dikompensasi dengan memperpanjang waktu tambahan (injury time) sesuai dengan lamanya waktu yang hilang. Inilah yang membuat waktu tambahan di Piala Dunia Qatar 2022 bisa hingga 10 menit dari biasanya satu hingga lima menit.
Di sisi lain, intervensi VAR turut diperluas. Jika selama ini VAR lebih sering digunakan untuk meninjau ulang pelanggaran atau gol, wasit kini diperkenankan mengecek VAR untuk hal baru, seperti tendangan sudut yang diberikan secara tidak benar, kartu merah yang dikeluarkan sebagai akibat dari kartu kuning kedua yang jelas-jelas tidak sah, dan kasus salah identifikasi ketika seorang pemain dihukum dengan kartu kuning atau merah karena pelanggaran yang dilakukan oleh pemain lain.
Dalam permainan yang sangat dinamis seperti sepak bola, teori efek kibasan sayap kupu-kupu (butterfly effect) sangat berlaku. Satu perubahan kecil pada akhirnya sangat mungkin menimbulkan dampak besar. Jadi, sudah siapkah Anda dengan Piala Dunia yang lebih menarik?
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar