Dari artikel ini, Anda bisa mendapatkan informasi tentang:
- Seperti apa kota global yang dimaksud?
- Bagaimana posisi Jakarta dibandingkan dengan kota global lain?
- Apa yang harus dilakukan Jakarta agar menjadi kota global?
- Bagaimana perkembangannya?
1. Seperti apa kota global yang dimaksud?
Istilah kota global sudah hadir dalam diskursus akademik sejak tahun 1990. Definisinya kota yang menjadi pusat penting dalam mengatur pengorganisasian ekonomi global. Contohnya, New York, London, dan Tokyo.
Kriterianya berbeda-beda, tetapi umumnya bertumpu pada sektor jasa global (keuangan, manajemen, dan hukum) dan menjadi lokasi kantor pusat perwakilan bagi banyak perusahaan transnasional. Selain itu, kota global harus pula didukung infrastruktur penghubung global, seperti bandara dan pelabuhan skala internasional.
Kota global juga bisa berarti kota penyelenggara kegiatan internasional di bidang perdagangan, investasi, bisnis, pariwisata, kebudayaan, dan pendidikan. Kota ini juga menjadi pusat produksi produk strategis internasional menciptakan nilai ekonomi yang besar bagi warga dan daerah sekitar.
Agar bisa menjadi kota global, kota itu juga harus berbudaya, bisa menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal, inklusif, dan bisa mengakomodasi banyak kepentingan warga yang tinggal di dalamnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Atika Nur Rahmania mengatakan, slogan Jakarta Kota Global dan Berbudaya merepresentasikan wajah baru Jakarta sebagai kota global yang inklusif, kreatif, dan penuh semangat kolaborasi.
2. Bagaimana posisi Jakarta dibandingkan dengan kota global lain?
Jakarta telah melepas status ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Pada 2024 Jakarta berakselerasi menjadi pusat perekonomian nasional dan kota global.
Peran Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Pada tahun yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan bergabung dalam World Cities Culture Forum.
Forum ini menjadi wadah menghadapi tantangan abad ke-21, mulai dari menumbuhkan ruang kerja yang terjangkau di kota, mengembangkan strategi budaya pariwisata dan perekonomian informal, hingga meningkatkan keberagaman di ruang publik dan menempatkan budaya sebagai jantung perencanaan kota dan investasi.
Hal tersebut mau tidak mau harus ditempuh karena Global Power City Index menempatkan Jakarta pada peringkat ke-45 dari 48 negara. Peringkat ini lebih rendah daripada kota sekawasan, seperti Kuala Lumpur (41), Bangkok (40), dan Singapura (5).
Jakarta memiliki peringkat yang cukup baik pada kualitas hidup (29). Akan tetapi pada dimensi lingkungan masih berada di peringat bawah (46), dimensi ekonomi (40), penelitian dan pengembangan (45), interaksi budaya (42), serta aksesibilitas (45).
3. Apa yang dilakukan Jakarta agar bisa menjadi kota global?
Untuk menjadi kota global, Jakarta harus memenuhi parameter ekonomi yang mapan dan terkoneksi secara global. Parameter itu antara lain riset dan inovasi berkapasitas, pariwisata dan budaya menarik kunjungan wisatawan, lingkungan bersih dan nyaman, serta akses memadai agar tetap dilihat oleh penilai kota-kota besar dunia.
Associate professor School of Social Sciences Waseda University, Riela Provi Drianda menuturkan, kota-kota di dunia punya ambisi untuk berdaya saing dan menjadi paling menarik di mata warganya, wisatawan, dan investor. ”Biasanya destinasi pertama dari suatu kota adalah museum. Museum itu jendela untuk melihat perkembangan kota dan penduduknya, interaksi satu dan lainnya,” kata Riela.
Statistik Kebudayaan 2020 yang dikeluarkan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, ada 254 cagar budaya dan 61 museum di Jakarta. Dari segi kuantitas tergolong cukup, tetapi kualitas masih kurang.
Jakarta disarankan memanfaatkan sejarah panjangnya, termasuk budaya Betawi, dan mengakomodasi berbagai kalangan dalam pemanfaatan ruang kota dan inklusif.
Jakarta juga harus terkoneksi di setiap sudutnya. Konektivitas itu antara lain menyediakan transportasi umum yang nyaman dan bisa menjangkau setiap sudut kota.
Jakarta juga masih memiliki sejumlah kekurangan yang mesti dibenahi. Kekurangan itu adalah rendahnya investasi bidang pendidikan dan sedikit pembangunan infrastruktur. Kemudian, belum optimalnya titik temu antara talenta dan kekuasaan yang sering disebut pemerintah, serta terbatasnya daya saing.
Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan Indonesia, juga menyoroti penanaman modal asing (PMA) yang sudah bagus, tetapi masih kalah dari negara serumpun. PMA di Jakarta mencapai 1,4 miliar dollar AS. Masih di bawah Singapura 192 milliar dollar AS, Bangkok 164 miliar dollar AS, dan Kuala Lumpur 9,8 miliar dollar AS (Kompas, 28 Mei 2025).
4. Bagaimana perkembangannya?
Bappeda DKI Jakarta telah melakukan kajian untuk menyusun langkah strategis menuju kota global. Tim penyusun dibantu tenaga ahli dengan standar internasional dari firma konsultan manajemen global yang menerbitkan salah satu Indeks Kota Global (Global City Index), yaitu AT Kearney.
Penyusunan kajian juga akan melibatkan partisipasi kementerian/lembaga, organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan asosiasi profesi terkait.
Sebagai salah satu implementasinya adalah pengembangan kawasan dan konektivitas. Blok M disiapkan sebagai hub utama Jakarta menuju kota global. Salah satu pusat kegiatan warga itu ditata kembali agar menjadi kawasan terintegrasi dan inklusif.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretariat Daerah DKI Jakarta Sri Haryati, tahun lalu, mengatakan, ada akselerasi Jakarta sebagai kontributor terbesar pada perekonomian Indonesia dan sebagai kota global. Caranya ialah memperkuat sektor-sektor seperti industri teknologi tinggi, UMKM, ekonomi biru, serta ekspansi pasar dan area ekonomi baru berupa revitalisasi.
Untuk itu butuh strategi yang fokus pada membuat iklim investasi yang atraktif, membina kemitraan forum bisnis, meningkatkan dan integrasi sistem perizinan, mempromosikan pembangunan kota hijau berkelanjutan, membangun infrastruktur berkelanjutan, dan memberdayakan UMKM.
Lebih lanjut, Jakarta juga membuka ruang publik seluas-luasnya untuk warga, yakni membuka taman hingga 24 jam, membuka perpustakaan lebih lama hingga pukul 22.00, serta merencanakan memperluas car free day dan menginisiasi car free night. Semua hal itu agar warga terpenuhi kebutuhannya akan ruang publik hingga berekspresi.
Bappeda menghelat banyak acara untuk memperkuat partisipasi publik dalam perencanaan pembangunan daerah. Hajatan ini sekaligus menjaring ide-ide inovatif dari berbagai elemen warga.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan bahwa Jakarta punya ruang dan peluang untuk naik kelas menjadi kota global. Namun, ini bisa terwujud dengan sistem pemerintahan yang terbuka dan transparan.
Dari artikel ini, Anda bisa mendapatkan informasi tentang:
- Seperti apa kota global yang dimaksud?
- Bagaimana posisi Jakarta dibandingkan dengan kota global lain?
- Apa yang harus dilakukan Jakarta agar menjadi kota global?
- Bagaimana perkembangannya?
1. Seperti apa kota global yang dimaksud?
Istilah kota global sudah hadir dalam diskursus akademik sejak tahun 1990. Definisinya kota yang menjadi pusat penting dalam mengatur pengorganisasian ekonomi global. Contohnya, New York, London, dan Tokyo.
Kriterianya berbeda-beda, tetapi umumnya bertumpu pada sektor jasa global (keuangan, manajemen, dan hukum) dan menjadi lokasi kantor pusat perwakilan bagi banyak perusahaan transnasional. Selain itu, kota global harus pula didukung infrastruktur penghubung global, seperti bandara dan pelabuhan skala internasional.
Kota global juga bisa berarti kota penyelenggara kegiatan internasional di bidang perdagangan, investasi, bisnis, pariwisata, kebudayaan, dan pendidikan. Kota ini juga menjadi pusat produksi produk strategis internasional menciptakan nilai ekonomi yang besar bagi warga dan daerah sekitar.
Agar bisa menjadi kota global, kota itu juga harus berbudaya, bisa menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal, inklusif, dan bisa mengakomodasi banyak kepentingan warga yang tinggal di dalamnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Atika Nur Rahmania mengatakan, slogan Jakarta Kota Global dan Berbudaya merepresentasikan wajah baru Jakarta sebagai kota global yang inklusif, kreatif, dan penuh semangat kolaborasi.
2. Bagaimana posisi Jakarta dibandingkan dengan kota global lain?
Jakarta telah melepas status ibu kota ke Nusantara di Kalimantan Timur sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Pada 2024 Jakarta berakselerasi menjadi pusat perekonomian nasional dan kota global.
Peran Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Pada tahun yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan bergabung dalam World Cities Culture Forum.
Forum ini menjadi wadah menghadapi tantangan abad ke-21, mulai dari menumbuhkan ruang kerja yang terjangkau di kota, mengembangkan strategi budaya pariwisata dan perekonomian informal, hingga meningkatkan keberagaman di ruang publik dan menempatkan budaya sebagai jantung perencanaan kota dan investasi.
Hal tersebut mau tidak mau harus ditempuh karena Global Power City Index menempatkan Jakarta pada peringkat ke-45 dari 48 negara. Peringkat ini lebih rendah daripada kota sekawasan, seperti Kuala Lumpur (41), Bangkok (40), dan Singapura (5).
Jakarta memiliki peringkat yang cukup baik pada kualitas hidup (29). Akan tetapi pada dimensi lingkungan masih berada di peringat bawah (46), dimensi ekonomi (40), penelitian dan pengembangan (45), interaksi budaya (42), serta aksesibilitas (45).
3. Apa yang dilakukan Jakarta agar bisa menjadi kota global?
Untuk menjadi kota global, Jakarta harus memenuhi parameter ekonomi yang mapan dan terkoneksi secara global. Parameter itu antara lain riset dan inovasi berkapasitas, pariwisata dan budaya menarik kunjungan wisatawan, lingkungan bersih dan nyaman, serta akses memadai agar tetap dilihat oleh penilai kota-kota besar dunia.
Associate professor School of Social Sciences Waseda University, Riela Provi Drianda menuturkan, kota-kota di dunia punya ambisi untuk berdaya saing dan menjadi paling menarik di mata warganya, wisatawan, dan investor. ”Biasanya destinasi pertama dari suatu kota adalah museum. Museum itu jendela untuk melihat perkembangan kota dan penduduknya, interaksi satu dan lainnya,” kata Riela.
Statistik Kebudayaan 2020 yang dikeluarkan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, ada 254 cagar budaya dan 61 museum di Jakarta. Dari segi kuantitas tergolong cukup, tetapi kualitas masih kurang.
Jakarta disarankan memanfaatkan sejarah panjangnya, termasuk budaya Betawi, dan mengakomodasi berbagai kalangan dalam pemanfaatan ruang kota dan inklusif.
Jakarta juga harus terkoneksi di setiap sudutnya. Konektivitas itu antara lain menyediakan transportasi umum yang nyaman dan bisa menjangkau setiap sudut kota.
Jakarta juga masih memiliki sejumlah kekurangan yang mesti dibenahi. Kekurangan itu adalah rendahnya investasi bidang pendidikan dan sedikit pembangunan infrastruktur. Kemudian, belum optimalnya titik temu antara talenta dan kekuasaan yang sering disebut pemerintah, serta terbatasnya daya saing.
Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan Indonesia, juga menyoroti penanaman modal asing (PMA) yang sudah bagus, tetapi masih kalah dari negara serumpun. PMA di Jakarta mencapai 1,4 miliar dollar AS. Masih di bawah Singapura 192 milliar dollar AS, Bangkok 164 miliar dollar AS, dan Kuala Lumpur 9,8 miliar dollar AS (Kompas, 28 Mei 2025).
4. Bagaimana perkembangannya?
Bappeda DKI Jakarta telah melakukan kajian untuk menyusun langkah strategis menuju kota global. Tim penyusun dibantu tenaga ahli dengan standar internasional dari firma konsultan manajemen global yang menerbitkan salah satu Indeks Kota Global (Global City Index), yaitu AT Kearney.
Penyusunan kajian juga akan melibatkan partisipasi kementerian/lembaga, organisasi nonpemerintah atau lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan asosiasi profesi terkait.
Sebagai salah satu implementasinya adalah pengembangan kawasan dan konektivitas. Blok M disiapkan sebagai hub utama Jakarta menuju kota global. Salah satu pusat kegiatan warga itu ditata kembali agar menjadi kawasan terintegrasi dan inklusif.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretariat Daerah DKI Jakarta Sri Haryati, tahun lalu, mengatakan, ada akselerasi Jakarta sebagai kontributor terbesar pada perekonomian Indonesia dan sebagai kota global. Caranya ialah memperkuat sektor-sektor seperti industri teknologi tinggi, UMKM, ekonomi biru, serta ekspansi pasar dan area ekonomi baru berupa revitalisasi.
Untuk itu butuh strategi yang fokus pada membuat iklim investasi yang atraktif, membina kemitraan forum bisnis, meningkatkan dan integrasi sistem perizinan, mempromosikan pembangunan kota hijau berkelanjutan, membangun infrastruktur berkelanjutan, dan memberdayakan UMKM.
Lebih lanjut, Jakarta juga membuka ruang publik seluas-luasnya untuk warga, yakni membuka taman hingga 24 jam, membuka perpustakaan lebih lama hingga pukul 22.00, serta merencanakan memperluas car free day dan menginisiasi car free night. Semua hal itu agar warga terpenuhi kebutuhannya akan ruang publik hingga berekspresi.
Bappeda menghelat banyak acara untuk memperkuat partisipasi publik dalam perencanaan pembangunan daerah. Hajatan ini sekaligus menjaring ide-ide inovatif dari berbagai elemen warga.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan bahwa Jakarta punya ruang dan peluang untuk naik kelas menjadi kota global. Namun, ini bisa terwujud dengan sistem pemerintahan yang terbuka dan transparan.