Kompas.id Brief
KOMPAS BRIEF

Apa yang Menjadi Ganjalan Perundingan AS-Iran?

Perundingan AS dan Iran masih alot. Baik AS maupun Iran sama-sama keberatan dengan tuntutan masing-masing. Apa saja yang menjadi ganjalan itu?

17 Feb 2026 17:00 WIB · Internasional

USS Frank E Petersen Jr

Oleh Irene Sarwindaningrum

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Apa saja ganjalan dalam perundingan AS dan Iran?
  2. Bagaimana Israel menambah parah ganjalan itu?
  3. Apa yang dilakukan AS untuk menekan Iran?
  4. Menolak tunduk pada tekanan AS, bagaimana sikap Iran?
  5. Kenapa AS tak juga menyerang Iran?

Apa saja tuntutan yang diajukan AS dan Iran?

copy title

Iran siap berkompromi untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, termasuk mengurangi kandungan uranium yang diperkaya. Namun, ada syaratnya. AS harus mencabut sanksi terhadap Iran terlebih dahulu.

Kantor berita Associated Press, Senin (16/2/2026), melaporkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan delegasinya bertolak ke Geneva, Swiss, untuk perundingan tidak langsung dengan AS. Ini merupakan pembicaraan kedua setelah pertemuan di Oman, pekan lalu. Oman akan menjadi mediator perundingan di Geneva.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan, sebenarnya ”bola” sekarang berada di tangan AS. AS harus membuktikan ingin mencapai kesepakatan dengan Iran. ”Jika mereka tulus, saya yakin kita bisa mencapai kesepakatan,” kata Takht-Ravanchi dalam laporan hasil wawancara BBC yang dipublikasikan pada Minggu (15/2/2026).

In this photo released by the Iranian Foreign Ministry, Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi, right, and International Atomic Energy Agency (IAEA) Director-General Rafael Grossi, left, hold a meeting in Geneva, Switzerland, Monday, Feb. 16, 2026. (Iranian Foreign Ministry via AP)

Pada 2018, Trump menarik AS dari pakta yang melonggarkan sanksi terhadap Iran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. AS lalu menerapkan kembali sanksi ekonomi yang keras pada Iran.

Kesediaan Iran untuk berunding dan kompromi kali ini menyusul pernyataan dari Menlu AS Marco Rubio yang menyebutkan, Presiden AS Donald Trump sebenarnya lebih suka mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi sangat sulit melakukannya.

Proposal lain yang sebelumnya dilaporkan di media mencakup tawaran dari Iran untuk menangguhkan sementara pengayaan uranium. Salah satu tuntutan utama Iran adalah agar pembicaraan fokus pada masalah nuklir. Jika dikonfirmasi, ini menjadi langkah maju yang penting bagi Iran.

”Ketika kami diserang Israel dan Amerika, rudal kami menyelamatkan kami. Jadi, bagaimana mungkin kami melepaskan kemampuan pertahanan kami sendiri,” kata Takht-Ravanchi kepada BBC. 

Bagaimana Israel menambah parah ganjalan itu?

copy title

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali meminta Amerika Serikat agar pembicaraan dengan Iran tidak berhenti pada isu nuklir. Dari Teheran, pejabat tinggi Iran menolak agenda di luar nuklir dan menyebut Israel mencari celah untuk merusak proses negosiasi.

Kunjungan Netanyahu ke Washington semula dijadwalkan pada 18 Februari 2026. Kunjungan itu mendadak dimajukan menjadi Rabu (11/2/2026). Ia datang selepas pertemuan AS-Iran di Muscat, Oman, Jumat pekan lalu, yang dinyatakan berjalan baik.

Fokus pernyataan Trump belakangan yang hanya menyoroti isu nuklir dinilai memantik kecemasan Israel. Trump tak menyebut hal lain, di antaranya persediaan rudal atau dukungan senjata Iran kepada Hamas dan Hizbullah.

Dalam wawancara yang disiarkan Fox Business, Trump menyebut kesepakatan yang baik dengan Iran berarti tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal. Trump mengatakan bahwa memasukkan program nuklir Iran dalam kesepakatan adalah sesuatu yang jelas. Adapun kemungkinan membahas persediaan rudal Iran dinilainya mungkin saja.

US President Donald Trump (R) and Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu shake hands as they arrive to speak to journalists during a joint press conference at Trump’s Mar-a-Lago residence in Palm Beach, Florida, on December 29, 2025. US President Donald Trump hosted Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu in Florida on December 29 for crucial talks on moving to the next stage of the fragile Gaza truce plan.The two leaders also discussed Iran, with Trump saying that if Tehran rebuilt its nuclear facilities the United States would "knock them down." (Photo by Jim WATSON / AFP)

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menegaskan bahwa pembicaraan dengan AS tidak mencakup isu di luar nuklir. Teheran juga belum menerima proposal konkret dari Washington.

Ia sekaligus menuduh Israel berupaya mengganggu jalannya diplomasi. ”Israel mencari alasan untuk menyalakan perang dan tidak hanya menargetkan Iran, tetapi juga stabilitas seluruh kawasan,” ujarnya.

Apa yang dilakukan AS untuk menekan Iran?

copy title

Perlahan tapi pasti, Amerika Serikat mulai menumpuk kekuatannya di Timur Tengah. Setelah menghadirkan gugus tempur pengiring kapal induk USS Abraham Lincoln, kini Washington mengirim armada kapal induk kedua, yaitu USS Gerald R Ford.

Kekuatan pemukul itu bersiaga di sekitar perairan Laut Arab untuk sewaktu-waktu dikerahkan. Begitu Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke Iran, militer AS sudah siap.

Informasi ini diperoleh dari dua pejabat AS yang menjadi sumber kantor berita Reuters dan tak mau disebut namanya, Jumat (13/2/2026). Menurut keduanya, perencanaan kali ini jauh lebih kompleks. Dalam operasi jangka panjang, militer AS tidak hanya menargetkan infrastruktur nuklir Iran. Kali ini sasarannya mencakup fasilitas dan keamanan Iran.

Jika AS betul-betul menyerang, Washington telah berhitung, konfliknya akan jadi jauh lebih serius daripada yang pernah terjadi sebelumnya di antara kedua negara. AS yakin, Iran akan membalas sehingga pasti akan terjadi saling serang selama periode waktu tertentu.

Untuk itu, selain mengerahkan armada kapal induk tambahan, AS juga menambah ribuan anggota pasukan bersama pesawat tempur, kapal perusak rudal berpemandu, serta armada lain yang mampu menyerang dan bertahan melawan Iran. Terkait informasi itu, Departemen Pertahanan AS menolak berkomentar.

Sebelumnya, di pangkalan militer Carolina Utara, AS, Trump mengatakan, sangat sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Trump telah berulang kali mengancam akan mengebom Iran karena program nuklir dan rudal balistiknya serta penindasan terhadap perbedaan pendapat internal.

Pada Juni 2025, AS mengirimkan dua kapal induk ke wilayah Timur Tengah. Pada waktu itu, AS bersama Israel menyerang situs nuklir Iran. Namun, operasi Midnight Hammer pada dasarnya adalah serangan tunggal AS.

Pesawat pengebom siluman terbang dari AS untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Sebagai balasan, Iran menembakkan sejumlah rudal balistik ke pangkalan AS di Qatar. 

Menolak tunduk pada tekanan AS, bagaimana sikap Iran?

copy title

Iran merespons langkah AS yang menambah kekuatan militernya di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran latihan di Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan energi dunia.

Saat Amerika Serikat menambah kekuatan militernya di Timur Tengah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai berlatih di Selat Hormuz. Ketegangan ini berlangsung menjelang pertemuan tak langsung kedua negara di Geneva, Swiss, untuk membahas program nuklir Iran, Selasa (17/2/2026).

Latihan Garda Revolusi Iran juga digelar menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan melancarkan aksi militer ke Iran jika perundingan gagal mencapai kesepakatan. Dalam beberapa waktu terakhir, AS meningkatkan kekuatan militernya di sekitar Iran. Hal ini sebagai antisipasi jika terjadi perang.

”Latihan perang di Selat Hormuz yang durasinya tidak ditentukan bertujuan untuk mempersiapkan Garda Revolusi menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di selat tersebut,” lapor kantor berita Iran, IRNA.

This handout photo released by Iran's Revolutionary Guards Corps (IRGC)'s official website Sepanews on February 16, 2026, shows members of the IRGC and navy taking part in a military exercise in the Gulf. Iran's Islamic Revolutionary Guard Corps on February 16 began a series of military exercises in the Strait of Hormuz, state media reported, on the eve of talks with the United States. (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / SEPAHNEWS" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Selat Hormuz merupakan perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Perairan strategis ini merupakan jalur perdagangan energi dunia. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Para politisi Iran telah berulang kali mengancam akan memblokade Selat Hormuz. Jika hal ini terjadi, pasokan energi dunia akan terganggu. Sejumlah negara di Timur Tengah pun berharap perang AS-Iran tidak terjadi.

Latihan Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz menjadi demonstrasi kekuatan militer merespons langkah AS yang menambah kekuatannya di sekitar Iran. Sejak Januari lalu, sedikitnya 163 pesawat angkut militer strategis C-17 dan C-5 milik AS telah bergerak dari AS dan Jepang ke Timur Tengah melalui Eropa.

Kenapa AS tak juga menyerang Iran?

copy title

Sudah 1,5 bulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengancam akan kembali menyerang Iran. Sayangnya, Washington belum punya kekuatan memadai di sekitar Teheran sampai sekarang. Selain itu, serangan sebesar apa pun tetap nyaris mustahil memicu pergantian pemerintahan di Iran.

AS kini mengoperasikan 20 kapal perang dan kapal pendukung di Teluk Persia dan Laut Arab. Gugus tempur laut (guspurla) itu dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln.

Lalu, kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald Ford, diperintahkan bergerak dari Karibia mendekati Iran. Guspurla USS Gerald Ford akan bergabung dengan guspurla USS Abraham Lincoln paling cepat.

Perintah yang diketahui pada Jumat (13/2/2026) itu akan membuat dua kapal induk AS kembali berada di dekat Iran. Juli 2025, AS menempatkan USS Nimitz dan USS Carl Vinson di Timur Tengah. USS Gerald Ford bisa melaju sampai 56 kilometer per jam atau 1.344 kilometer per hari.

Kini, kapal itu setidaknya hampir 15.000 kilometer dari Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab. Dengan kecepatan maksimum, butuh paling tidak 12 hari untuk memindahkan USS Gerald Ford dari Karibia ke sekitar Selat Hormuz.

TOPSHOT - In this handout photograph released by the US Navy on February 6, 2026, an F/A-18F Super Hornet, attached to Strike Fighter Squadron (VFA) 41, makes an arrested landing on the flight deck of Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln in the Arabian Sea on January 30, 2026. On February 6, 2026, Iran's foreign minister led a delegation in indirect nuclear talks with the US Middle East envoy in Muscat. The talks followed threats from Washington and its recent deployment of an aircraft carrier group to the region following Iran's deadly crackdown on anti-government protests last month. (Photo by Hannah Tross / US NAVY / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE – MANDATORY CREDIT: “AFP PHOTO / US NAVY / Mass Communication Specialist Seaman Hannah Tross” – NO MARKETING – NO ADVERTISING CAMPAIGNS – DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Jika lancar, guspurla USS Gerald Ford paling cepat tiba di dekat Iran di tengah Ramadhan. Di Karibia, guspurla itu diperkuat hingga 75 pesawat yang antara lain F-35. Ada juga kapal perusak dan kapal penjelajah dalam guspurla itu. ”Pengerahan aset militer tambahan ke Timur Tengah menandakan keseriusan dan keteguhan,” kata analis Institut Kajian Keamanan Nasional (INSS) Israel, Danny Citrinowicz.

Dalam ulasan pada 12 Februari 2026, The Atlantic menulis AS dan mitranya di kawasan akan menanggung risiko amat besar kalau menyerang Iran sekarang. AS tak punya cukup aset militer di sekitar Iran untuk saat ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Kris Mada