Dari Venezuela ke Unjuk Rasa Iran

Dugaan keterlibatan AS dan Israel menguat. Sementara itu, dari pengasingan, putra mahkota terakhir Iran dari Dinasti Pahlavi turut mengobarkan api memperluas aksi.

09 Jan 2026 09:15 WIB · Internasional

AFP

Oleh Irene Sarwindaningrum

Unjuk rasa di Iran kian mematikan. Sedikitnya 27 orang dilaporkan tewas pada hari ke-12, Kamis (8/1/2026). Kerusuhan meluas ke 25 dari 31 provinsi. Dipicu tekanan ekonomi, jatuhnya nilai rial, inflasi, dan kenaikan harga. Akan tetapi, unjuk rasa juga diperkeruh dugaan adanya tangan-tangan asing.

Dugaan keterlibatan Amerika Serikat dan Israel menguat. Sementara itu, dari pengasingan, Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran dari Dinasti Pahlavi, turut mengobarkan api memperluas aksi.

Aksi bermula pada 28 Desember 2025. Awalnya, para pedagang menutup aktivitas di Pasar Raya Teheran sebagai protes terhadap kenaikan harga dan kejatuhan nilai rial. Sejak itu, demonstrasi menyebar ke beberapa kota di Iran.

Aksi telah meluas ke 25 dari 31 provinsi, dengan bentrokan pecah di sejumlah wilayah. Di Kerman, Karaj, Tonekabon, dan Bojnord, dan provinsi-provinsi barat Iran, korban berjatuhan. Puluhan orang dilaporkan tewas, termasuk aparat.

Kelompok hak asasi Hengaw melaporkan setidaknya 27 orang tewas dan lebih dari 1.500 orang ditangkap dalam 10 hari pertama protes. Jaringan aktivis hak asasi manusia HRANA melaporkan angka lebih tinggi, sedikitnya 36 orang tewas dan 2.076 orang ditangkap. Otoritas Iran belum memberikan angka korban demonstran, tetapi mengatakan setidaknya dua aparat keamanan tewas dan lebih dari belasan terluka.

Di lapangan, aparat dilaporkan menggunakan kekerasan, termasuk tembakan. Dolar AS diperdagangkan di atas 1,4 juta rial dan euro di atas 1,7 juta rial menandai ekonomi Iran yang kian terpuruk.

This grab taken on January 6, 2026, from UGC images posted on social media the same day shows Iranian security forces using tear gas to disperse demonstrators in the Tehran bazaar. Iran will offer no leniency to "rioters", though the public has a right to demonstrate, the head of the country's judiciary said on January 5, 2026, following more than a week of sometimes-deadly protests.Protests erupted on December 28 when shopkeepers in capital Tehran staged a strike over high prices and economic stagnation. They have since spread to other cities and expanded to include political demands. (Photo by UGC / AFP) / Israel OUT / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / UGC / ANONYMOUS" - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - NO INTERNET - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - NO RESALE - NO ARCHIVE -NO ACCESS ISRAEL MEDIA/PERSIAN LANGUAGE TV STATIONS OUTSIDE IRAN/ STRICTLY NO ACCESS BBC PERSIAN/ VOA PERSIAN/ MANOTO-1 TV/ IRAN INTERNATIONAL/RADIO FARDA - AFP IS NOT RESPONSIBLE FOR ANY DIGITAL ALTERATIONS TO THE PICTURE'S EDITORIAL CONTENT /

Menurut laporan media Pemerintah Iran, Press TV, Senin (5/1/2026), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan dialog dengan para pengunjuk rasa. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa para perusuh harus dihadapi.

Khamenei mengaitkan gejolak ekonomi dengan campur tangan pihak asing. ”Kenaikan nilai mata uang yang tak terkendali mengandung tangan musuh dan harus dihentikan,” katanya.

Quote

Kenaikan nilai mata uang yang tak terkendali mengandung tangan musuh dan harus dihentikan.

Nada serupa disampaikan Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei. Ia memperingatkan bahwa negara tidak akan memberikan kelonggaran bagi pihak-pihak yang dinilai membantu musuh dan memanfaatkan situasi di dalam negeri.

Ejei secara terbuka menuding keterlibatan aktor luar. ”Israel dan AS menggunakan metode hibrida untuk mengganggu negara ini,” ujarnya.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Abdolrahim Mousavi mengatakan AS dan Israel sedang membajak protes untuk mengompensasi kekalahan mereka dalam agresi 12 hari pada Juni 2025.

Agen Mossad

Press TV melaporkan aparat keamanan Iran menangkap seorang pria yang dituding sebagai agen Mossad. Penangkapan dilakukan saat ia beroperasi di tengah kerusuhan di Teheran.

Pria itu disebut bertindak secara terselubung di antara para pengunjuk rasa yang tengah bentrok dengan aparat atau merusak fasilitas publik. Ia disebut menjadi penghubung dengan para pemimpin kerusuhan dalam beberapa hari terakhir.

Dalam rekaman pengakuan yang dirilis polisi, pria tersebut menjelaskan cara perekrutan dan pelatihan. Ia mengatakan direkrut melalui media sosial dan bekerja untuk sebuah organisasi yang berbasis di Jerman. Perekrutan dilakukan melalui media sosial seperti Instagram dan Telegram.

An employee arranges a shelf at a store in the capital Tehran on January 7, 2026. Iran's economy has been hit hard by tough international sanctions, with the national currency, the rial, losing more than a third of its value against the US dollar over the past year and inflation in double digits. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Ia mengaku diperintahkan meneriakkan slogan, merekam video, dan mengirimkan rekaman itu kepada pengendali. ”Saya sekarang tahu segalanya,” kata pria itu dalam pengakuannya. Tak ada penjelasan apa yang ia maksud.

Kepala Kepolisian Iran Ahmadreza Radan mengatakan, aparat telah menangkap para penghasut kerusuhan, baik di dunia maya maupun di lapangan. Ia menyebut para pelaku menerima bayaran dolar dari luar negeri untuk memprovokasi masyarakat.

Tekanan AS dan Israel

Bukti campur tangan AS dan Israel masih diperdebatkan. Namun, setidaknya, komentar pemimpin dua negara itu secara terbuka bernada provokasi membela warga Iran untuk menentang pemerintahnya sendiri.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Pemerintah Israel mendukung aspirasi rakyat Iran yang menuntut kebebasan dan perubahan. Menurut laporan media Israel Jewish News Syndicate (JNS), Netanyahu mengatakan Israel mengidentifikasi diri dengan perjuangan rakyat Iran untuk kebebasan dan keadilan.

Namun, sejauh ini belum ada tanggapan resmi Israel soal tuduhan keterlibatan Mossad di tengah kerusuhan.

Shopkeepers and traders walk over a bridge during a protest against the economic conditions and Iran's embattled currency in Tehran on December 29, 2025. Some shopkeepers in Tehran closed their stores on December 29 in protest against economic hardships and sharp swings in Iran's embattled currency, Iranian media reported, following similar demonstrations a day earlier. Iran's currency has hit new lows on the unofficial market, with the US dollar trading at around 1.42 million rials on Sunday, compared to 820,000 rials a year ago and the euro nearing 1.7 million rials, according to price monitoring websites. (Photo by HANDOUT / FARS NEWS AGENCY / AFP)

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Trump mengatakan Iran akan mendapat pukulan sangat keras jika lebih banyak pengunjuk rasa terbunuh.

Pemerintah Iran mengecam pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut sikap AS sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri dan menyatakan pernyataan itu bukan didorong kepedulian terhadap rakyat Iran.

Mereka menyebutnya sejalan dengan kebijakan tekanan maksimum, ancaman, dan intervensi. Iran juga menyatakan sanksi AS berperan besar dalam memburuknya kondisi ekonomi nasional.

Tekanan terhadap Iran berlangsung tidak lama setelah AS meluncurkan operasi militer di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Sesaat setelah serangan AS ke Venezuela itu, Khamenei menyatakan tak akan tunduk kepada musuh.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam pernyataan Senator AS Lindsey Graham, yang mengatakan keberpihakan kepada rakyat Iran dalam wawancara kepada media elektronik AS, Fox News. Ia juga melontarkan ancaman kasar kepada Pemimpin Tertinggi Iran.

Dalam foto 9 Oktober 1978 ini, para pengunjuk rasa Iran berdemonstrasi melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi di Teheran, Iran.

Dari pengasingan di AS, Pahlavi juga turut menyerukan perluasan aksi protes. Seruan Pahlavi yang digulingkan pada 1979 itu turut menambah tekanan Pemerintah Iran.

Dalam pesan yang disampaikan melalui media sosial, Pahlavi secara terbuka mengimbau aparat keamanan Iran agar tidak menghadapi demonstran dengan kekerasan.

”Dalam momen-momen menentukan ini, saya berharap Anda kembali ke pelukan bangsa dan menggunakan senjata Anda bukan untuk menembaki rakyat, melainkan untuk melindungi mereka,” katanya.

A protester holds a placard of Iranian opposition leader and son of the last Shah of Iran, Reza Pahlavi, during a demonstration against the Iranian regime's crackdown on protests in central Paris, on January 4, 2026. Several hundred people gathered on January 4, 2026 at two rallies in Paris in support of the week-long protest movement in Iran. (Photo by Blanca CRUZ / AFP)

Dalam pesan lain, Pahlavi mengatakan dirinya menerima laporan bahwa Pemerintah Iran sangat ketakutan dan berusaha, sekali lagi, memutus akses internet untuk menghambat mobilisasi dan penyebaran informasi terkait dengan aksi protes.

Dulu digulingkan, sekarang nama Pahlavi kembali bergaung dalam unjuk rasa. Di lapangan, dukungan terhadap Pahlavi terdengar dalam sejumlah aksi. Demonstran meneriakkan slogan-slogan yang menentang kepemimpinan ulama dan mendukung kembalinya monarki.

Sejumlah slogan seperti ”Ini adalah pertempuran terakhir, Pahlavi akan kembali” dan ”Seyyed Ali akan tumbang”, yang merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Posisi Iran rapuh

Iran kini dinilai berada dalam posisi paling rapuh dalam beberapa puluh tahun terakhir. Tekanan datang bersamaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ekonomi menjadi titik paling lemah. Nilai rial jatuh ke rekor terendah, inflasi melampaui 40 persen, dan harga kebutuhan pokok melonjak. Pemerintah Iran tidak memiliki jalan keluar cepat.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui keterbatasan itu. ”Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya, menjelang pecahnya gelombang unjuk rasa seperti dikutip The Economist, awal Januari 2026.

Kebijakan ekonomi terbaru juga dinilai tidak cukup menahan tekanan. Pemerintah Iran menghapus kurs acuan dolar untuk impor barang pokok dan menggantinya dengan bantuan tunai langsung kepada warga.

Uang negara yang tadinya dipakai menahan harga lewat kurs murah sekarang dibagikan langsung kepada orang. Nilainya sekitar 10 juta rial per orang per bulan. Namun, bantuan tunai dinilai tidak cukup menutup dampaknya.

This photo shows US dollar banknotes, Euro banknotes next to the Iranian Rial, which bears the image of the late supreme leader Ayatollah Ruhollah Khomeini in Tehran on January 7, 2026. Iran's economy has been hit hard by tough international sanctions, with the national currency, the rial, losing more than a third of its value against the US dollar over the past year and inflation in double digits. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Di luar kesulitan ekonomi, Teheran gelisah akan aksi Trump. Sejumlah pejabat Iran dilaporkan mulai mempertanyakan apakah negara mereka bisa menjadi target berikutnya setelah Venezuela.

Dalam kondisi itu, represi dinilai tidak lagi efektif. Penangkapan massal, pembatasan ruang publik, dan pemadaman internet justru memperbesar kemarahan publik. Di saat yang sama, oposisi yang terpecah mulai menemukan simbol perlawanan pada sosok Pahlavi.

Dalam kondisi Iran tertekan dari luar dan dalam itu, mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebutkan Presiden AS, Mossad, dan Iran di cuitannya di X.

”Rezim Iran sedang dalam masalah. Mendatangkan tentara bayaran adalah harapan terakhir terbaik mereka. Kerusuhan di puluhan kota dan Basij berada di bawah tekanan. Mashhad, Teheran, Zahedan. Tujuan berikutnya: Baluchistan. 47 tahun rezim ini; POTUS ke-47. Kebetulan?” cuitnya.

”Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran yang turun ke jalan. Juga untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka,” katanya menutup cuitan.

Entah apa maksud Pompeo. (AP/REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji