TIMUR TENGAH

Apache, Sang Pemburu ”Drone” yang Jatuh oleh Buruannya

Ibarat dongeng ”Timun Mas”, Shahed yang kecil dan murah diduga menjatuhkan Apache, helikopter tempur canggih yang selama ini memburu ”drone” Iran di kawasan Teluk.

10 Jun 2026 16:14 WIB · Internasional

AFP/SAM YEH

Oleh Irene Sarwindaningrum

”Sejarah dipenuhi militer negara besar yang setiap hari becermin dan mengatakan mereka adalah yang terbaik di dunia—sampai mereka dihantam,” kata Michael Horowitz, mantan pejabat Pentagon.

Penulis David Wallace-Wells menceritakan ucapan Horowitz itu dalam kolomnya di The New York Times, 15 April 2026. Ia menyoroti perubahan keseimbangan perang ketika sistem persenjataan mahal Amerika Serikat menghadapi pesawat nirawak (drone), rudal, dan ranjau murah Iran.

Kurang dari dua bulan kemudian, Senin (8/6/2026) malam, helikopter serang Apache milik Angkatan Darat AS diduga dijatuhkan pesawat nirawak Iran jenis Shahed saat berpatroli di kawasan Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache AS yang sangat canggih. ”Meskipun para awak tidak terluka, Amerika Serikat, karena keadaan mengharuskannya, harus menanggapi serangan ini,” kata Trump.

Insiden ini adalah jatuhnya Apache oleh pesawat nirawak pertama yang dilaporkan. Sebelumnya, Apache pernah ditembak jatuh dengan rudal dan senjata dari darat, serta hilang dalam berbagai kecelakaan.

Two US-made AH-64E Apache attack helicopters release flares during the annual Han Kuang military drills in Taichung on July 16, 2020. – The five-day “Han Kuang” (Han Glory) military drills starting on July 14 aimed to test how the armed forces would repel an invasion from China, which has vowed to bring Taiwan back into the fold — by force if necessary. (Photo by Sam Yeh / AFP)

Penyebab jatuhnya Apache masih diselidiki. Seorang pejabat AS hanya mengatakan, helikopter tersebut jatuh setelah ditabrak dengan pesawat nirawak sekali jalan milik Iran. Belum diketahui apakah benturan itu disengaja.

Jatuhnya Apache oleh pesawat nirawak seperti dituduhkan AS cukup mengejutkan. Dari sisi ukuran dan senjata, helikopter itu jauh lebih unggul. Apache seri terbaru dilengkapi berbagai peralatan canggih untuk menghancurkan pesawat nirawak.

Quote

Status negara adidaya tampaknya tidak lagi sepenting apakah negara itu memiliki kemampuan untuk meluncurkan ’drone’ atau merancang senjata sendiri dengan biaya yang relatif kecil.

Kemampuan Apache pernah dipamerkan Uni Emirat Arab (UEA) pada 8 Maret 2026 lewat video yang dirilis di media sosial X. Kementerian Pertahanan UEA merilis rekaman delapan Shahed yang dihancurkan di udara, tanpa menyebut jenis helikopter yang digunakan.

Namun, analisis situs berita dan penerbangan militer The Aviationist menyebutkan, Apache menembak dengan meriam rantai M230 kaliber 30 milimeter (mm). Dalam rekaman, seorang awak terdengar mengatakan, ”Sasaran dihancurkan.”

FILE - An Iranian Shahed exploding drone launched by Russia flies through the sky seconds before it struck buildings in Kyiv, Ukraine, on Oct. 17, 2022. (AP Photo/Efrem Lukatsky, File)

Pesawat-pesawat nirawak itu meledak atau terpecah di udara sebelum jatuh. ”Rekaman memperlihatkan pertahanan udara UEA mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak Iran yang berupaya menargetkan negara ini. Tidak ada kompromi dalam hal keamanan dan kedaulatan negara. Angkatan Bersenjata UEA siap menangkal setiap ancaman,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan UEA di X.

Sebelumnya, Israel menggunakan Apache untuk misi serupa. Pada November 2024, Apache Israel dilaporkan menggunakan meriam M230 untuk menghancurkan pesawat nirawak Hizbullah.

Dikutip dari Forbes, video-video yang memperlihatkan Apache Israel mengejar dan menembak jatuh pesawat nirawak serang Iran dengan meriam 30 mm. Sejumlah drone itu telah menembus lapisan pertahanan rudal Israel sehingga harus dicegat dari jarak dekat.

Dalam rekaman video yang belum terkonfirmasi di X, empat Apache disebut mengejar satu drone selama 30 menit. Sampai akhir rekaman video, pesawat nirawak itu masih berhasil menghindari kejaran mereka.

Apache dan Shahed

Pertempuran Apache dan Shahed ibarat dongeng Raksasa dan Timun Mas. Apache seri AH-64E memiliki panjang 14,7 meter, diameter rotor 14,6 meter, dan bobot 6,8 ton dalam konfigurasi misi utama. Bobot operasi maksimumnya mencapai 10,4 ton.

Adapun Shahed-136, jenis drone yang kerap digunakan, sekitar 34 kali lebih kecil. Panjangnya 3,3-3,5 meter dengan bentang sayap 2,5-3 meter. Bobotnya sekitar 200 kilogram.

This handout photo released by US Central Command via their X account (@CENTCOM) on April 18, 2026 shows AH-64 Apaches flying above the Strait of Hormuz during a patrol on April 17, 2026. Iran's military declared the Strait of Hormuz closed again on April 18, prompting ships to abandon attempts to transit and President Donald Trump to warn Tehran against trying to "blackmail" the United States. On April 17, Tehran had declared the strait, which usually carries a fifth of the world's oil and liquefied natural gas, open after a ceasefire was agreed in Israel's war with Iran's ally Hezbollah in Lebanon. (Photo by US Central Command (CENTCOM) / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  US CENTRAL COMMAND " - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS
A SPIKE Non-Line of Sight (NLOS) missile is fired from an AH-64 Apache helicopter piloted by an aircrew from the 101st Combat Aviation Brigade on Aug. 27, 2025. This marks the first live shoot of the SPIKE NLOS by a conventional aviation unit in the United States Central Command theater. The SPIKE NLOS provides Apache crews with an extended-range precision strike capability, allowing engagement of targets obscured by terrain or distance. The live fire validates the integration of the system.

Dari sisi persenjataan, Apache AH64 dapat membawa 16 rudal Hellfire, 76 roket berdiameter 2,75 inci, serta 1.200 peluru untuk meriam rantai M230 kaliber 30 mm.

Sementara Shahed tidak menembakkan peluru atau rudal. Badannya bisa membawa bahan peledak berkisar 20-50 kilogram. Tugasnya hanya sampai di sasaran dan meledakkan diri.

Namun, seperti dongeng ”Timun Mas”, badan kecil dan lincah itulah ini yang terkadang menguntungkan pesawat nirawak. Biaya produksinya murah dengan daya hancur lumayan membuat Shahed menjadi senjata yang ditakuti lawan.

Lembaga kajian kebijakan yang berbasis di Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan biaya satu Shahed-131 atau Shahed-136 berkisar 20.000-50.000 dolar AS. Dengan biaya tersebut, Iran dapat meluncurkannya dalam jumlah besar untuk membebani pertahanan udara lawan.

Infografik Estimasi Biaya Perang Iran Membalas AS dan Israel
Infografik Estimasi Biaya Perang AS Menyerang Iran

Sebagai perbandingan, Boeing pada 2025 menerima kontrak hampir 4,7 miliar dolar AS untuk membangun 106 unit AH-64E baru. Jika dirata-ratakan, nilai kontraknya 44 juta dolar AS per helikopter atau 900-2.200 kali biaya satu Shahed.

Biaya menembak jatuh satu Shahed juga menjadi senjata lain yang membuat musuh harus pusing berhitung. Untuk menjatuhkan satu Shahed, biayanya ditaksir 4.000 dolar AS hingga 4 juta dolar AS, tergantung senjata yang digunakan.

Forbes memperkirakan satu rentetan meriam Apache berisi sekitar 20 peluru menelan biaya 4.000 dolar AS. Adapun saat menggunakan rudal Patriot, CSIS menaksir biaya satu peluncuran mencapai 4 juta dolar AS.

Perhitungan biaya meriam belum mencakup penerbangan, bahan bakar, perawatan, dan pengerahan helikopter. Meski demikian, penggunaan meriam tetap jauh lebih murah daripada rudal Patriot. Hal ini membuat Apache semakin banyak dipakai untuk memburu Shahed.

Seluruh dunia

Mulai digunakan sejak 1984, Apache merupakan helikopter tempur buatan Boeing. Saat ini, varian terbarunya, AH-64E, menjadi tulang punggung armada helikopter serang Angkatan Darat AS.

Pada November 2025, lebih dari 1.300 Apache tercatat beroperasi di 19 negara, termasuk Amerika Serikat, Indonesia, Israel, UEA, Arab Saudi, Qatar, dan Inggris. Helikopter dua awak itu dilengkapi radar, sensor elektro-optik dan inframerah, sistem penentuan sasaran, jaringan komunikasi, serta kemampuan berbagi data secara langsung.

A flight of U.S. Army AH-64 Apache attack helicopters, armed with rockets and Hellfire missiles, taxi out to conduct a scheduled flight in the U.S. Central Command area of responsibility. In addition to rockets and missiles, the Apache is additionally armed with a 30mm chain gun. (U.S. Army photo)

Bahkan, jenis AH-64E dapat menerima tayangan dan mengendalikan pesawat nirawak untuk memperluas jangkauan pengamatan. Apache diproyeksikan tetap digunakan Angkatan Darat AS dan negara mitra hingga dekade 2060-an.

Sementara Shahed terbang berdasarkan koordinat yang dimasukkan sebelum peluncuran. Shahed kemudian terbang menuju titik yang telah ditentukan dengan bantuan sistem navigasi satelit dan inersial.

Shahed-131 pertama kali digunakan dalam serangan terhadap fasilitas minyak Abqaiq dan Khurais di Arab Saudi pada September 2019. Namun, pengenalannya secara terbuka baru dilakukan dalam latihan Great Prophet 17 pada Desember 2021.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan pesawat nirawak LUCAS yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. AS mengakui, LUCAS adalah tiruan dari pesawat nirawak Shahed buatan Iran

Shahed adalah keluarga pesawat nirawak buatan Iran yang terdiri atas sejumlah tipe. Untuk serangan sekali jalan, tipe yang paling dikenal ialah Shahed-131, Shahed-136, dan Shahed-238. Daya jangkaunya hingga 2.500 kilometer, tergantung tipe.

Model terbaru, Shahed-238, menggunakan mesin jet. Model tersebut lebih cepat dibandingkan Shahed-136 yang bermesin baling-baling.

AS terus mengembangkan kemampuan Apache menghadapi pesawat nirawak. Dalam uji tempur yang digelar Angkatan Darat AS, Agustus 2025, Apache AH-64E Versi 6 berhasil menghancurkan 13 pesawat nirawak dalam 14 penyergapan.

”Kemampuan Apache menghadapi drone kecil dan besar dengan berbagai jenis amunisi menegaskan fleksibilitas operasional dan relevansinya dalam pertempuran,” kata Kepala Penerbang Lima Daniel York dari tim pelatihan peralatan baru Apache saat itu, dikutip dari situs resmi Angkatan Darat AS.

Infografik ”Drone” Iran Shahed 136

Dalam uji coba, meriam M230 yang memakai peluru standar M789 mencatat keberhasilan pada jarak kurang dari 300 meter. Hasil tersebut menguatkan bahwa Apache dapat menghancurkan pesawat nirawak, tetapi harus mendekati sasaran ketika memakai meriam.

Perang Iran memperlihatkan kekuatan militer tak lagi bergantung pada sistem persenjataan mahal. ”Kita mulai melihat bentuk zaman baru perang rudal dan drone. Salah satu hal yang kita lihat terjadi di Iran adalah batas-batas kekuatan militer,” kata Paul Scharre dari lembaga kajian keamanan dan pertahanan yang berbasis di Washington, Center for a New American Security.

Audrey Kurth Cronin dari Carnegie Mellon University menilai, kekuatan udara tidak lagi menjamin lawan kehilangan kemampuan membalas. ”Status negara adidaya tampaknya tidak lagi sepenting apakah negara itu memiliki kemampuan untuk meluncurkan drone atau merancang senjata sendiri dengan biaya yang relatif kecil,” ujarnya.

Maka, untuk kali ini, dongeng ”Timun Mas” seolah berulang di langit Selat Hormuz. Shahed yang kecil dan murah diduga menjatuhkan Apache, sang raksasa yang dibangun untuk memburunya. (Reuters/AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto