Perang AS dan Israel dengan Iran telah kembali menempatkan Selat Hormuz dalam sasaran konflik geopolitik.
20 Mar 2026 11:45 WIB · Internasional
AFP/MARTY MELVILLE
Harga minyak dan gas alam global melonjak pada hari Kamis (19/3/2026) setelah Iran menyerang fasilitas gas alam utama di Qatar serta dua kilang minyak di Kuwait.
Serangan Iran itu menghantam Terminal Ras Laffan untuk pengiriman gas alam cair di Qatar. Selama ini Qatar memasok sekitar 20 persen dari konsumsi LNG dunia, yang diangkut dengan kapal. Fasilitas tersebut ditutup setelah serangan melalui pesawat nirawak
Serangan tersebut semakin menambah kekhawatiran bahwa krisis energi yang sebelumnya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal tanker akan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran lain adalah dampak yang lebih luas akibat kerusakan pada fasilitas-fasilitas produksi minyak dan gas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/0172191f-e976-48df-8e45-91f25fa9d892_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/adac2289-af0e-46e4-9b1c-45bbdba30e51_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/817b214e-31a6-4f8f-8930-ce0457343b69_jpg.jpg)
Bensin menetes dari nosel pompa bahan bakar di SPBU Quezon City, Filipina, Kamis (19/3/2026). (AP/AARON FAVILA)
Harga jual BBM di SPBU Shell di Texas, Amerika Serikat. (AP/JULIO CORTEZ)
Label bertuliskan stok habis terpasang di SPBU New World Fuel di Levin, Selandia Baru, Kamis (19/3/2026). (AFP/MARTY MELVILLE)
Minyak mentah Brent telah naik menjadi 116,38 dolar AS per barel, dari sebelumnya yang berada di bawah 73 dolar AS per barel sebelum perang pecah.
Penutupan Selat Hormuz bagi sebagian besar lalu lintas kapal tanker juga menyebabkan gas tidak dapat didistribusikan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/27104db5-5cef-4042-a678-df3f46ed3df9_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/bdfdae1d-1b78-4f27-8818-cdc500b47bb8_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/49063a92-5853-4fe2-80e1-7aa254daed46_jpg.jpg)
Jika gangguan akibat serangan Iran terhadap infrastruktur energi negara-negara di Teluk Arab terus berlanjut, akan membuat harga minyak dan gas tetap tinggi dalam waktu lama. Hal itu juga dapat menciptakan gelombang inflasi yang melemahkan perekonomian global.
Penutupan Selat Hormuz yang sudah berlangsung selama tiga pekan telah membuat pasokan energi global menjadi kacau. Kepastian ketersediaan bahan bakar dan melonjaknya harga bahan bakar terjadi di sejumlah negara. Tak hanya di Eropa, negara-negara lain di Asia dan Oceania terutama yang tidak mempunyai cadangan dan sumber energi alternatif mulai merasakan kenaikan harga bahan bakar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/c6ba65bb-4e43-4163-841f-599703b00123_jpg.jpg)
Selandia Baru yang sangat bergantung pada impor bahan bakar telah mengalami lonjakan harga bensin hampir 10 persen sejak perang AS-Israel dan Iran meletus. Sementara harga solar naik lebih dari 20 persen,
Dalam perdagangan saham Asia, Nikkei 225 Tokyo turun 3,4 persen menjadi 53.372,53 karena Bank Sentral Jepang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0,75 persen.
Dalam pernyataan kebijakan moneternya, Bank Sentral Jepang mengatakan bahwa ”menyusul meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, pasar keuangan dan modal global telah bergejolak dan harga minyak mentah telah naik secara signifikan; sehingga perkembangan situasi (dampak konflik) perlu mendapat perhatian lebih”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/acbd1d59-fe05-4c36-99d8-498e58eea2dd_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/bead2cba-d8b6-4bc3-bf35-b7c4c6d6e2cf_jpg.jpg)
Harga minyak yang lebih tinggi merupakan beban berat bagi Jepang. Hal serupa juga dialami Korea Selatan dan Taiwan yang sangat bergantung pada impor. Sebagian besar bahan baku untuk industri di negara-negara itu sangat bergantung pada minyak dan turunannya.
Iran telah menghentikan hampir semua lalu lintas di jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan samudra di seluruh dunia, yang menyebabkan tertutupnya jalur penting bagi aliran minyak dunia.
Serangan terhadap kapal komersial dan ancaman serangan lebih lanjut telah menghentikan hampir semua kapal tanker untuk membawa minyak, gas, dan barang lainnya melalui jalur tersebut. Hal ini juga menyebabkan pengurangan produksi dari beberapa produsen terbesar di dunia, karena minyak mentah mereka tidak dapat dikirimkan.
Ini bukanlah pertama kalinya Selat Hormuz dijadikan sebagai senjata. Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut sebagai reaksi atas sanksi yang mereka terima maupun menanggapi ketegangan lainnya di kawasan tersebut selama bertahun-tahun, meskipun tidak sampai memutus lalu lintas sepenuhnya.
Iran dan Oman sama-sama memiliki wilayah di Selat Hormuz. Namun, Iran memegang pengaruh signifikan atas jalur tersebut melalui kehadiran militer dan kendali atas pulau-pulau penting di daerah tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/2bffc944-001a-4d4d-9ccc-2fe31b994cf6_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/6e0a110d-c4c8-40fc-9bc2-49efaae63aca_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/3c3efc2e-a1f9-448d-9969-9c5dcd33c8c6_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/a60ba3e0-9d71-4a62-8d7e-fa350410dc02.jpg)
Antrean di SPBU Star Oil di Luang Prabang, Laos. (AFP)
Pengemudi bajaj dengan bahan bakar gas antre mengisi BBG di Hyderabad, India. (AP/MAHESH KUMAR)
Warga antre membeli bahan bakar di Kolombo, Sri Lanka. (AP/ERANGA JAYAWARDENA)
Petugas mengisi BBM untuk mobil di SPBU BP di Kota Tangerang, Banten.
Sebelum konflik saat ini yang melibatkan AS-Israel dan Iran, Selat Hormuz sudah beberapa kali terganggu karena konflik di kawasan Timur Tengah.
Saat perang selama delapan tahun antara Iran dan Irak pada tahun 1980-an, kedua pihak menyerang kapal tanker dan kapal lain yang berada di Selat Hormuz, menggunakan ranjau laut untuk menutup lalu lintas di beberapa titik. AS saat itu juga terlibat dalam apa yang disebut Perang Tanker. Selat tersebut tidak tertutup sepenuhnya. Dan, selama perang berlangsung, kapal-kapal Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak Kuwait untuk melindungi mereka dari serangan Iran.
Meskipun demikian, jalur tersebut menjadi sangat berbahaya dan pengiriman minyak, gas dan barang lainnya terganggu.
Pada akhir tahun 2011 hingga 2012, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap sanksi baru dari Barat atas program pengembangan nuklirnya. Uni Eropa juga memberlakukan larangan pembelian minyak Iran.
Namun, Iran menarik kembali beberapa ancaman tersebut dan batal menutup Selat Hormuz. Meskipun demikian, gejolak dan perubahan pasokan menyebabkan fluktuasi harga minyak. Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas 100 dolar AS per barel pada Desember 2011 hingga awal 2012. Harga minyak mentah melonjak hingga lebih dari 126 dolar AS per barel pada Maret 2012, sebelum kemudian turun di akhir tahun.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/4f5ba3e1-d6a9-48bd-b8c2-9f74f4f4f63d_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/b452d9cb-d1c6-4306-b9af-3b4c0ca3fc79.jpg)
Kekhawatiran tentang kemungkinan penutupan Selat Hormuz juga meningkat selama perang 12 hari tahun lalu antara Israel dan Iran. Kekhawatiran itu meningkat terutama setelah AS memasuki konflik dengan pengeboman terhadap tiga situs nuklir dan militer Iran.
Selat Hormuz tidak ditutup, dan harga minyak tidak mengalami lonjakan yang berkelanjutan. Meskipun harga sempat melonjak di awal konflik, minyak justru mengalami aksi jual yang signifikan karena kemungkinan gangguan dan serangan terhadap pengiriman minyak mentah sangat kecil. Pada akhir perang, harga Brent diperdagangkan di bawah 67 dolar AS per barel, beberapa dolar lebih rendah dari perdagangan sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/19/870f837f-93d0-4b1d-a051-2844d333a139_jpg.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto