Madison Keys membuat kejutan dengan mengalahkan Iga Swiatek pada semifinal Australia Terbuka. Ia akan menantang Aryna Sabalenka pada partai final.
24 Jan 2025 11:00 WIB · Olahraga
MELBOURNE, JUMAT — Kekalahan sudah di depan mata Madison Keys pada set terakhir pertandingan semifinal Australia Terbuka melawan Iga Swiatek di Melbourne Park. Pada pertandingan yang berlangsung hingga Jumat (24/1/2025) dini hari WIB tersebut, Swiatek mendapatkan match point sehingga hanya butuh satu poin saja untuk melaju ke babak final.
Swiatek melakukan servis pada gim terakhir pada kedudukan 6-5 dan 40-30. Namun, petenis Polandia ini melakukan kesalahan dengan pukulan backhand yang gagal melewati net dan kemudian double fault yang membuat pertandingan harus berlanjut ke tiebreaker.
Saat tiebreak, Keys menunjukkan determinasi tinggi, terus mengayunkan raketnya, menjangkau setiap pukulan Swiatek. Keys bangkit dengan cemerlang, ia melakukan pukulan paling destruktif dan berani yang ditunjukkan sepanjang turnamen.
Meski penuh risiko, petenis berusia 29 tahun ini memukul dengan penuh keyakinan hingga berhasil mengontrol pertandingan lewat pukulan groundstrokes yang membuat Swiatek kesulitan. Keys menunjukkan ketangguhan dan ketahanan mental, dari tertinggal kemudian bangkit.
Ia tak hanya berhasil menyelamatkan match point, tetapi secara dramatis berhasil mengalahkan Swiatek dengan skor 5-7, 6-1, 7-6(8). Ini adalah final pertama petenis Amerika Serikat ini di Australia Terbuka.
Keys akan menjalani final keduanya di turnamen Grand Slam menghadapi Aryna Sabalenka, sang juara bertahan dan unggulan pertama turnamen, Sabtu (25/1/2025). Final Grand Slam lainnya terjadi pada Amerika Serikat Terbuka 2017 ketika Keys kalah dari rekannya, Sloane Stephens.
Peringkat pertama dunia Sabalenka melaju ke final setelah mengalahkan teman baiknya, Paula Badosa, 6-4, 6-2, pada semifinal, Kamis (23/1/2025). Petenis berusia 26 tahun ini memenangi Australia Terbuka dua musim terakhir dan berusaha menjadi petenis putri pertama yang melakukan threepeat (juara tiga kali beruntun) sejak 1999.
Final ideal antara peringkat pertama dunia dan peringkat kedua dunia pun gagal karena Keys, yang masih belum percaya mampu bangkit setelah nyaris kalah di semifinal. ”Saya masih mencoba memahami apa yang terjadi. Saya merasa seperti hanya mencoba untuk terus bertarung dan bertahan. Begitu naik turun, dan begitu banyak poin penting,” kata Keys seusai pertandingan.
Untuk memastikan, Keys bahkan sempat bertanya apakah Swiatek memang hanya satu poin dari kemenangan karena dia tidak menyadarinya saat pertandingan. ”Pada suatu saat saya merasa pingsan, berlarian di luar sana (lapangan),” ujar Keys.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/0f58f4c3a73e7bb43e254c18e63a81a9-wires_photo_65_.jpg)
Apa pun yang dilakukan Keys pada pertandingan semifinal terbukti berhasil. ”Ini masalah satu atau dua bola. Madison sangat berani,” kata Swiatek, yang juga kalah pada semifinal Australia Terbuka dua tahun lalu.
Ini adalah performa terbaik Keys yang dikenal dengan pukulan-pukulan kerasnya sepanjang turnamen. Petenis yang akan berusia 30 tahun bulan depan ini atas saran dari pelatih yang juga suaminya, Bjorn Fratangelo, memutuskan mencoba raket baru agar lebih mudah mengeluarkan tenaga, sekaligus mengurangi tekanan pada pundak kanannya.
Entah kebetulan atau tidak, hal itu memang langsung membuahkan hasil di lapangan. Keys saat ini tengah dalam rentetan 11 kemenangan beruntun, termasuk juara turnamen jelang Australia Terbuka di Adelaide.
Ia membuktikan punya kemampuan dan ketangguhan mental untuk menjalani pertarungan ketat nan dramatis, seperti yang terjadi saat lawan Swiatek. ”Pada akhirnya, saya merasa kami berdua bertarung melawan rasa gugup. Tinggal menentukan siapa yang dapat memperoleh poin terakhir dan siapa yang dapat lebih baik dibandingkan lainnya. Dan saya senang itu saya,” ujar Keys.
Pada pertandingan semifinal lainnya, Sabalenka sempat tertinggal 2-0, tetapi segera bangkit, terutama setelah atap Rod Laver Arena ditutup pada set pertama karena gerimis. Dia memperbaiki pukulannya dan mengalahkan Badosa, yang menyingkirkan unggulan ketiga Coco Gauff untuk mencapai semifinal turnamen mayor pertamanya.
”Dia mengawalinya dengan sangat agresif. Semuanya berjalan dengan baik,” kata Badosa.
Sebagai teman dekat yang harus berseteru di lapangan, Sabalenka dan Badosa berusaha keras untuk tidak saling bertemu pandang selama bertanding. Akan tetapi, setelah pertandingan, mereka berpelukan cukup lama di lapangan.
Saat wawancara seusai pertandingan, untuk menghibur Badosa, Sabalenka bercanda dengan menyatakan akan mengajak Badosa berbelanja apa pun yang diinginkan sahabatnya tersebut. ”Itu akan sangat mahal,” timpal Badosa.
Badosa yakin Sabalenka akan tampil sebagai juara untuk yang ketiga kalinya beruntun. ”Jika ia bermain seperti ini. Maksud saya, sudah berikan saja trofinya kepadanya,” kata Badosa.
Meski tidak diunggulkan melawan Sabalenka, Keys tentu saja tidak mau menyerah. Tetapi, tentu saja Sabalenka adalah lawan yang berbeda dengan Swiatek.
Sabalenka memenangi gelar mayor pertamanya di Melbourne Park pada 2023, dan sejak itu menambah dua lagi di Australia Terbuka dan AS Terbuka tahun lalu. Petenis putri pertama yang mampu mencapai tiga final beruntun pada Australia Terbuka adalah Serena Williams, menang dua kali dari 2015-2017. Martina Hingis adalah petenis terakhir yang memenangi tiga gelar beruntun di Melbourne, pada 1997-1999.
”Saya merinding. Saya sangat bangga pada diri saya,” kata Sabalenka, yang unggul rekor head to head 4-1 melawan Keys, termasuk kemenangan di semifinal AS Terbuka 2023. Mampukah Keys melanjutkan kejutannya melawan Sabalenka?
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari