Berkat tingginya persentase penamat dan kenaikan pendaftar, Borobudur Marathon punya keleluasaan menaikkan standar waktu. Hal itu bisa memacu kenyamanan dan kualitas lomba.
09 Des 2024 07:17 WIB · Olahraga
Untuk lomba maraton di negara tropis, cuaca selalu menjadi tantangan terbesar. Khusus Borobudur Marathon, yang berlangsung di Magelang, Jawa Tengah, tantangan itu lebih sulit berkali-kali lipat. Siapa pun yang pernah mencoba berlari di ajang itu pasti setuju jika matahari seperti ada dua di Magelang.
Beruntung, cuaca saat Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 cukup bersahabat. ”Mestakung”, semesta mendukung. Langit mendung menyelimuti nyaris sepanjang lomba. Terik matahari baru terasa sekitar pukul 11.00 WIB atau setengah jam sebelum batas waktu lomba berakhir.
Hasilnya sangat positif. Sebanyak 97,5 persen pelari dari kategori maraton, separuh maraton, dan 10K berhasil mencapai garis finis. Angka itu terbilang tinggi.
Tokyo Marathon saja, yang merupakan salah satu lomba lari terbesar di dunia, hanya mencatat 96,6 persen penamat pada ajang tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/f8cf8b86-0a67-4180-a8ab-70e86d9b9095_jpg.jpg)
Namun, ada pertanyaan yang belum bisa terjawab. Apakah cuaca mendung itu kebetulan? Apakah lomba akan dikembalikan lagi ke November pada tahun depan? Adapun untuk pertama kali pada tahun ini Borobudur Marathon digelar pada Desember atau sebulan lebih lambat.
Delegasi Teknis World Athletic, A Hakeem Mohd AM Al-Ameri, sempat memberikan catatan setelah penyelenggaraan Borobudur Marathon. Menurut dia, untuk mengatasi masalah ketidakpastian cuaca pada edisi-edisi berikutnya, waktu penyelenggaraan lomba harus dipangkas.
Kami menjadi saksi, dalam beberapa tahun belakangan, maraton semakin bertumbuh dan atlet bertambah cepat.
Waktu tujuh jam terlalu panjang karena lomba berlangsung dari pukul 04.30-11.30 WIB. ”Pelari elite masih aman karena mereka berlari saat matahari belum terik. Pelari lain dengan catatan waktu di atas tiga jam akan terkena panas lebih. Idealnya lomba berlangsung dalam lima jam,” kata Al-Ameri.
Pengurangan dua jam terbilang tidak realistis. Menurut Runhood Magazine, rerata waktu finis dalam Borobudur Marathon tahun ini adalah 5 jam 50 menit 44 detik. Jika batas lima jam diberlakukan kemarin, hanya 598 dari 1.959 pelari kategori maraton atau 30,5 persen yang akan finis.
Borobudur Marathon mungkin bisa mencoba batas waktu enam setengah jam. Lomba akan selesai pukul 11.00, sebelum matahari benar-benar menyengat dari atas kepala. Adapun 84,7 persen penamat pada edisi lomba terakhir berhasil menyelesaikan lomba di bawah enam setengah jam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/09/84df713542cce92690ac87285e0a4b55-Grafis_Borobudur_Marathon.jpg)
Wakil Manajer Umum Ajang Kompas Budhi Sarwiadi mengatakan, efisiensi lomba akan terus dikaji, mulai dari bulan penyelenggaraan hingga batas waktu lomba. ”Kami membuka peluang perubahan (batas waktu). Itu pernah dilakukan di separuh maraton,” katanya selaku penyelenggara.
Pada 2023, batas waktu lomba separuh maraton dipangkas 15 menit dari 4 jam jadi 3 jam 45 menit. Dampak pengurangan waktu tidak terlalu dirasakan oleh pelari. Seperti pada edisi 2024, misalnya, jumlah penamat di kategori tersebut mencapai 98,4 persen (3.733 dari 3.792 pelari).
Pasti ada kekhawatiran persentase penamat akan berkurang jika batas waktu dipotong. Namun, itu bisa dicegah sejak awal dengan penyaringan lewat kualifikasi waktu. Contoh paling ideal adalah Tokyo Marathon yang mensyaratkan pendaftar minimal punya catatan waktu 6 jam 30 menit.
Padahal, saat lomba, batas waktu yang diterapkan tetap 7 jam atau 30 menit lebih lambat daripada syarat awal. Hal tersebut yang membuat jumlah penamat Tokyo Marathon sangat tinggi, 35.443 dari 36.697 pelari. Hanya 13,6 persen yang menyelesaikan lomba di atas enam jam.
Contoh lain dengan level lebih tinggi adalah Boston Marathon, ajang yang memiliki tantangan elevasi mirip seperti Borobudur Marathon. Mereka menerapkan kualifikasi waktu sangat ketat untuk para pendaftar. Standar waktu dibagi berdasarkan kelompok usia dan gender.
Di kelompok putra usia 18-34 tahun, misalnya, standar waktu mencapai tiga jam pas. Menariknya, tantangan itu meningkat saat lomba. Pada edisi 2024, pelari harus finis dengan catatan 5 menit dan 29 detik lebih cepat dibandingkan dengan standar waktu saat pendaftaran.
Penyaringan dan tantangan terbukti bisa melecut peserta. Penamat Boston Marathon pada edisi terakhir mencapai 96,5 persen. Adapun tantangan batas waktu tersebut akan meningkat pada edisi berikutnya, 2025. Setiap pelari harus lebih baik 6 menit 30 detik dari waktu kualifikasi.
”Kami menjadi saksi, dalam beberapa tahun belakangan, maraton semakin bertumbuh dan atlet bertambah cepat. Pada saat bersamaan, permintaan untuk berpartisipasi di ajang ini semakin tinggi. Kami harus menyeleksi karena tidak bisa menerima semua pelari,” kata Jack Fleming, Presiden Asosiasi Atletik Boston, seperti dikutip di situs resmi Boston Marathon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/e0e82ac9-7cd3-4434-939e-f00d34927e52_jpeg.jpg)
Borobudur Marathon menunjukkan tren serupa. Ada peningkatan kualitas pelari dan jumlah pendaftar. Mereka punya keleluasaan menyaring peserta. Jumlah pendaftar pada 2024 sudah mencapai 44.000 orang atau naik dua kali lipat lebih. Adapun hanya 10.500 peserta yang mendapat jatah berlomba.
Andreas Kansil, Direktur Lomba Borobudur Marathon, tidak menampik tren positif tersebut. Hanya saja, dia belum yakin kualifikasi waktu bisa diterapkan dalam waktu dekat. ”Paling cepat dua atau tiga tahun lagi. Soalnya, di Indonesia, maraton kan baru berkembang. Kami ingin melihat lagi tahun depan seperti apa. Apakah akan konsisten atau tidak,” ucapnya.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra