APEC: Ketidakpastian Ekonomi Merusak Kepercayaan Pebisnis

Ekonomi kawasan APEC diproyeksikan tumbuh 2,6 persen pada 2025 dan 2,7 persen pada 2026. Angka itu turun tajam dari pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang 3,6 persen.

15 Mei 2025 13:41 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Kendati perang tarif Amerika Serikat dan China sedikit mereda, perekonomian global masih penuh ketidakpastian. Kondisi itu merusak kepercayaan pebisnis di kawasan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).

Hal itu menyebabkan banyak perusahaan menunda investasi dan peluncuran produk baru. Aktivitas perdagangan di 21 negara anggota APEC juga telah melambat signifikan.

”Saat ini kita tengah menyaksikan perdagangan global berada di lingkungan yang tidak kondusif. Kenaikan tarif dan tindakan balasan, penangguhan prosedur fasilitasi perdagangan, dan menjamurnya hambatan nontarif tengah terjadi,” kata Direktur Unit Dukungan Kebijakan (PSU) APEC Carlos Kuriyama di Jeju, Korea Selatan, Kamis (15/5/2025).

Kuriyama menyampaikan hal itu kala meluncurkan laporan Analisis Tren Kawasan APEC edisi Mei 2025. Laporan tersebut mengawali Pertemuan Para Menteri yang Mengampu Sektor Perdagangan (MRT) APEC yang digelar di Jeju pada 15-16 Mei 2025.

APEC merupakan forum kerja sama ekonomi 21 negara di lingkar Samudra Pasifik. Anggota APEC adalah Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Kanada, Chile, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Papua Niugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Quote

Saat ini kita tengah menyaksikan perdagangan global berada di lingkungan yang tidak kondusif.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan APEC dan dunia

Dalam laporan itu, PSU APEC memperkirakan volume ekspor dan impor di kawasan APEC pada 2025 hanya tumbuh masing-masing 0,4 persen dan 0,1 persen. Angka itu turun tajam dibandingkan pertumbuhan volume ekspor dan impor pada 2024 yang masing-masing 5,7 persen dan 4,3 persen.

Ekonomi kawasan APEC juga diproyeksikan tumbuh 2,6 persen pada 2025 dan 2,7 persen pada 2026. Angka itu turun tajam dari pertumbuhan ekonomi pada 2024 yang sebesar 3,6 persen.

Menurut Kuriyama, meningkatnya proteksionisme dan praktik perdagangan tidak adil telah menciptakan lingkungan yang membuat perusahaan menunda keputusan dan menahan aktivitas lintas batas. Yang paling mengkhawatirkan, situasi itu dapat memengaruhi sektor ketenagakerjaan.

Pasar keuangan global juga telah bereaksi terhadap ketidakpastian ekonomi tersebut. Indeks Volatilitas Global pada April 2025 melonjak menjadi 52 atau lebih dari tiga kali lipat rerata indeks pada 2023–2024.

”Sementara harga emas dunia melonjak hingga 3.200 per troy ons pada awal Mei 2025, karena investor beralih ke aset investasi safe haven,” katanya.

Salah satu dudut pabrik pembuatan kulkas di LG Smart Park, Changwon, Busan, Korea Selatan, Rabu 23/4/2025). Pabrik tersebut memadukan tenaga kerja manusia dengan teknologi revolusi industri manufaktur 4.0, seperti kecerdasan buatan, robotik, dan data raksasa.

Analis PSU APEC, Rhea C Hernando, menambahkan, perdagangan dunia telah terfragmentasi. Meskipun beberapa negara mereformasi kebijakan yang memfasilitasi perdagangan, reformasi itu kerap kali diimbangi proteksionisme yang berorientasi ke dalam negeri.

Hal itu justru akan membuat kondisi ekonomi global menjadi sangat rapuh di tengah sejumlah tantangan lainnya. Total utang negara-negara kawasan APEC, misalnya, diproyeksikan mencapai 110 persen dari produk domestik bruto (PDB) hingga 2030.

”Pada saat yang sama, kita menghadapi pergeseran demografi jangka panjang, termasuk menyusutnya tenaga kerja dan populasi yang menua. Tekanan fiskal dan struktural itu nyata,” kata Hernando.

Oleh karena itu, negara-negara anggota APEC kembali berkomitmen pada kerja sama dan menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Memulihkan kepercayaan dalam perdagangan tidak hanya perihal meredakan ketegangan, tetapi juga memperluas pasar baru, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta meningkatkan transparansi aturan dan prosedur perdagangan.

Proyeksi pertumbuhan volume ekspor dan impor di kawasan APEC

Transformasi perdagangan

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso yang menghadiri APEC MRT di Jeju juga berpendapat senada. Forum itu merupakan wadah penting mendorong transformasi sistem perdagangan kawasan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi dan tantangan keberlanjutan ekonomi global.

”Dalam forum itu, Indonesia akan menyerukan pentingnya memperkuat sistem perdagangan yang adil dan berbasis aturan, reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), akal imitasi (AI) untuk fasilitasi perdagangan, dan penguatan rantai pasok,” kata Budi melalui siaran pers, Rabu (14/5/2025) malam.

Di sela-sela APEC MRT 2025, Budi dijadwalkan bertemu dengan menteri perdagangan Korea Selatan, Selandia Baru, Jepang, Peru, Singapura, Chile, dan direktur jenderal WTO. Topik yang akan dibahas terkait isu-isu strategis yang menjadi kepentingan bersama, seperti kerja sama perdagangan, perluasan akses pasar, dan hubungan dagang antarnegara.

APEC MRT akan membahas sejumlah topik penting. Beberapa di antaranya adalah inovasi AI untuk fasilitasi perdagangan, konektivitas melalui sistem perdagangan multilateral, dan pencapaian kesejahteraan melalui perdagangan berkelanjutan.

APEC MRT juga diyakini bakal menjadi ajang pertemuan bilateral negara-negara anggota APEC dengan AS. Perwakilan Dagang AS (USTR) Jamieson Greer bakal datang dalam forum itu.

Sebelumnya, pada 13 Mei 2025, Komite Perdagangan dan Investasi APEC juga telah mengeluarkan penyataan bersama mengenai perkuatan kerja sama perdagangan dan investasi. Salah satu poin utamanya ialah mengintegrasikan Perjanjian Fasilitasi Investasi untuk Pembangunan (IFD) APEC dalam aturan dan sistem perdagangan WTO.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji