Apresiasi untuk Dedikasi Desa Memajukan Budaya

Apresiasi Desa Budaya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya dari desa sebagai landasan untuk membawa identitas kebudayaan Indonesia.

17 Des 2024 21:43 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

BELITUNG TIMUR, KOMPAS — Sebanyak lima desa meraih Apresiasi Desa Budaya 2024 dari Kementerian Kebudayaan atas dedikasinya pada agenda pemajuan kebudayaan. Hal ini sekaligus menjadi pemantik bagi semua daerah lain untuk terus mengembangkan kebudayaan dari desa sebagai akar identitas Indonesia.

Lima desa tersebut meliputi Desa Air Hitam Laut di Tanjung Jabung Timur, Jambi; Desa Dasun di Rembang, Jawa Tengah; Desa Krikilan di Sragen, Jawa Tengah; Desa Kebondalem Kidul di Klaten, Jawa Tengah; dan Desa Rambutan Masam di Batanghari, Jambi.

Desa-desa tersebut dinilai secara konsisten terus mengembangkan dan memanfaatkan potensi budaya untuk pembangunan inklusif dan berkelanjutan.

Quote

Penghargaan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persatuan dan warisan budaya sebagai landasan untuk melangkah lebih maju.

Apresiasi diberikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada malam Apresiasi Desa Budaya di Desa Lalang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (17/12/2024). Ini sekaligus menjadi peringatan Hari Jadi Ke-148 Desa Lalang yang pernah meraih apresiasi serupa pada tahun 2022.

”Desa-desa ini adalah contoh nyata ketangguhan budaya, mereka membuktikan kebudayaan dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman dan mempertahankan akar sejarah serta nilai-nilai luhur dengan kreativitas dan kerja keras,” kata Fadli Zon.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menyaksikan kirab budaya di Desa Lalang sebagai tuan rumah acara Apresiasi Desa Budaya dari Kementerian Kebudayaan di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (17/12/2024).

Adapun kriteria Apresiasi Desa Budaya 2024 mencakup komitmen desa dalam mengintegrasikan kebijakan budaya ke dalam regulasi desa, keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat termasuk perempuan, anak-anak, generasi muda, dan penyandang disabilitas.

Beberapa kriteria lainnya meliputi kerja sama antardesa, optimalisasi pemanfaatan aset desa untuk kegiatan budaya dan pengembangan ekonomi berbasis budaya, serta inovasi dalam menciptakan produk budaya lokal yang mencerminkan keberagaman budaya.

Fadli menegaskan, apresiasi ini bukan untuk kepala desa sebagai individu, melainkan untuk seluruh warga desa yang selalu terlibat dalam pemajuan kebudayaan. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persatuan dan warisan budaya sebagai landasan untuk melangkah lebih maju.

”Kalau kita lihat kekayaan budaya itu ujung tombaknya adalah di desa-desa Karena itu saya yakin Indonesia ke depan bisa menjadi ibu kota kebudayaan dunia. Kita ingin ke depan tidak hanya 500-an desa budaya, seluruh desa di Indonesia harus menjadi desa budaya,” ujarnya.

Nisaurraidah, Daya Desa Budaya Air Hitam Laut, Tanjung Jabung Timur, Jambi saat ditemui di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (17/12/2024).

Desa Air Hitam Laut di Tanjung Jabung Timur, Jambi diakui atas komitmennya melestarikan tradisi Mandi Shafar, sebuah praktik budaya yang mengedepankan nilai gotong royong masyarakat pesisir dalam menjaga keseimbangan ekologi dan sumber daya alam laut.

Tradisi tersebut diperkuat melalui regulasi desa dan didukung dengan pelibatan aktif generasi muda serta perempuan dalam upaya pelestarian lingkungan.

”Kami memulainya dari sekolah-sekolah agar selalu diselipkan nilai tradisional agar tidak selalu bermain handphone (telepon seluler). Sekarang perlahan anak-anak muda kami mulai mau lagi bermain permainan tradisional,” kata Nisaurraidah, Daya Desa Budaya Air Hitam Laut.

Desa Kebondalem Kidul di Klaten, Jawa Tengah, menginspirasi dengan model desa wisata budaya yang berfokus pada pelestarian seni tradisional seperti wayang kulit dan karawitan.

Komitmen mengintegrasikan kebijakan budaya ke dalam regulasi desa, serta dukungan penuh masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, menjadi alasan utama desa tersebut meraih penghargaan.

”Ini suatu awal untuk terus menggali potensi kebudayaan yang ada di kami. Klaten ini mayoritas warganya petani, dengan kebudayaan yang ada seharusnya bisa semakin berdaya,” kata Sri Nugroho, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Klaten.

Sri Nugroho, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Klaten (tengah) bersama pengurus Desa Kebondalem Kidul di Klaten, Jawa Tengah yang menerima Apresiasi Desa Budaya dari Kementerian Kebudayaan di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (17/12/2024).

Desa Dasun di Rembang, Jawa Tengah, mencuri perhatian berkat inovasi seni rupa berbasis garam yang memadukan tradisi budaya bahari dengan seni kontemporer. Desa ini berhasil mengoptimalkan kolaborasi antara seniman lokal dan masyarakat, menjadikan seni sebagai media penggerak ekonomi kreatif sekaligus identitas budaya bahari.

Desa Krikilan di Sragen, Jawa Tengah, berhasil mengelola destinasi wisata budaya berbasis kearifan lokal. Desa ini memanfaatkan Situs Sangiran, warisan dunia UNESCO, untuk mengembangkan narasi budaya yang mengintegrasikan edukasi sejarah, seni pertunjukan tradisional, dan ekonomi kreatif.

Komitmen inklusif ditunjukkan dengan keterlibatan perempuan dan kelompok rentan dalam pengembangan destinasi tersebut.

Dana desa

Adapun Desa Rambutan Masam di Batanghari, Jambi, menghidupkan kembali tradisi Mujuk Selang sebagai upaya revitalisasi budaya lokal yang terpinggirkan. Tradisi ini berfungsi sebagai pengikat sosial warga sekaligus jadi medium edukasi bagi kaum muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam.

”Kami prioritaskan kebudayaan dalam anggaran kami, pakai dana desa, dana kebudayaan, dan kerja sama, semua digunakan agar anak muda kembali menghidupkan tradisi kami,” kata A Roni, Kepala Desa Rambutan Masam.

A. Roni, Kepala Desa Rambutan Masam, Batanghari, Jambi dan Daya Desa Rambutan Masam, Robi penerima Apresiasi Desa Budaya dari Kementerian Kebudayaan saat ditemui di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (17/12/2024).

Lima desa tersebut dikurasi dan dipilih dewan juri yang terdiri dari akademisi, budayawan, praktisi, dan pemangku kebijakan, seperti Bito Wikantosa (Staf Ahli Kemendes PDTT), Susi Ivvaty (Asosiasi Tradisi Lisan), Redy Eko Prasetyo (Pengajar Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya), dan Aloysius Budi Kurniawan (Jurnalis Harian Kompas).

Apresiasi Desa Budaya merupakan penghargaan tahunan yang diinisiasi sejak tahun 2021 sebagai bagian program Pemajuan Kebudayaan Desa (PKD). Program ini merupakan platform kerja bersama membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan budaya dan kontribusi budaya desa di tengah peradaban dunia.

Berdasarkan Data Kementerian Kebudayaan, hingga saat ini ada lebih dari 500 desa budaya dengan lebih dari 6.000 potensi budaya yang ada di dalamnya.

Semua lapisan masyarakat diharapkan untuk bersama-sama membangun kemandirian, kesejahteraan, dan penghidupan berkelanjutan dengan merawat dan mengembangkan sumber potensi desa dengan berlandaskan pada nilai-nilai kearifan lokal dan keanekaragaman budaya yang ada di desa.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase