Keamanan jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb kini yang terancam. Apa jadinya nasib perdagangan dunia jika Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb mampat bersamaan?
21 Jul 2026 09:46 WIB · Internasional
AP/Osamah Abdulrahman
RIYADH, SENIN — Kelompok Houthi di Yaman membuka babak baru konflik di Timur Tengah. Mereka mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi, Senin (20/7/2026). Arab Saudi langsung membalas dengan ancaman akan menggunakan kekuatan untuk melindungi kapal-kapalnya. Ketegangan antara kedua pihak itu dikhawatirkan berpotensi mengganggu keamanan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan, kelompok yang didukung Iran itu akan segera memberlakukan embargo maritim terhadap Arab Saudi untuk membalas Arab Saudi yang mengepung pelabuhan, bandara, dan wilayah yang mereka kuasai di Yaman. Ini dianggap Houthi sebagai ”mata ganti mata” atas perbuatan Arab Saudi itu.
Beberapa jam kemudian, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam Houthi sekaligus membantah sudah mengepung rakyat Yaman. Arab Saudi kembali menegaskan dukungannya terhadap Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan berkedudukan di Aden. Arab Saudi akan melakukan apa saja untuk melindungi kapal-kapalnya.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman juga memperingatkan ancaman terhadap kapal-kapal komersial Arab Saudi akan langsung dibalas tegas. Koalisi juga mengumumkan sudah mulai menerapkan langkah-langkah perlindungan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan antara Laut Merah dan Teluk Aden serta menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez.
”Ancaman semacam itu jelas melanggar hukum internasional dan termasuk tindakan pembajakan maritim,” sebut koalisi itu.
Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, memperingatkan bahwa ancaman Houthi berisiko memicu konflik regional yang lebih luas. Ancaman Houthi dinilai membuka front baru dalam konflik yang meluas di Timur Tengah. Jika selama ini perhatian dunia terpusat pada gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat perang Iran-Amerika Serikat, pernyataan Houthi ini memperbesar risiko munculnya titik konflik baru di Bab el-Mandeb. Dampaknya akan sangat besar.
Penutupan penuh Bab el-Mandeb diperkirakan akan menghentikan mayoritas ekspor minyak Arab Saudi menuju pasar Asia dan memangkas sekitar 7 persen pasokan minyak dunia. Gangguan itu akan memperparah berkurangnya pasokan energi dunia yang sudah tertekan akibat konflik di Teluk.
Arab Saudi memproduksi sekitar 10 juta barel minyak mentah per hari. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir Laut Merah, terutama Yanbu, selama ini menjadi jalur penting ekspor minyak Arab Saudi. Apalagi saat pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Ketidakpastian ini langsung memengaruhi pasar energi.
Harga minyak sempat menguat setelah pengumuman Houthi, tetapi segera kembali melemah karena pelaku pasar masih berharap ada terobosan diplomatik. Sementara itu, premi asuransi pelayaran di Laut Merah meningkat seiring naiknya risiko keamanan bagi kapal-kapal komersial.
Pengumuman blokade Houthi muncul setelah kedua pihak kembali saling serang, pekan lalu. Houthi menembakkan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi setelah menuduh Arab Saudi berada di balik serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/21/da47f414d8d31a95335ab1b36d881342-wires_photo_149.jpg)
Pemerintah Yaman mengatakan operasi itu dilakukan untuk mencegah sebuah pesawat Iran mendarat di ibu kota Yaman. Ketegangan itu mengancam upaya menjaga stabilitas yang sempat tercipta melalui gencatan senjata pada 2022. Meski kesepakatan itu sudah berakhir, intensitas pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi selama beberapa tahun terakhir relatif menurun.
Houthi sebelumnya juga pernah mengganggu pelayaran di Laut Merah. Sejak November 2023, Houthi menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan itu sebagai bentuk dukungan terhadap Hamas dalam perang Gaza. Serangan-serangan itu memaksa banyak perusahaan pelayaran mengalihkan rute kapal mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika sehingga meningkatkan waktu tempuh dan biaya pengiriman.
Yaman telah dilanda perang saudara sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan intervensi militer untuk mendukung Pemerintah Yaman. Konflik yang sudah berlangsung selama 10 tahun berkembang jadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Ratusan ribu orang tewas dan Yaman terbelah antara pemerintahan yang didukung Arab Saudi di Aden dan pemerintahan Houthi di Sanaa.
Analis Yaman dan pendiri Basha Report, Mohammed Albasha, mengatakan belum ada kepastian apakah Houthi benar-benar akan mulai menyerang kapal-kapal yang menuju pelabuhan Arab Saudi. Namun, sekali pun tidak ada kapal yang diserang, pernyataan Houthi itu sudah cukup mengganggu pelayaran dan menciptakan ketidakpastian bagi pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/26/bcd6522a-ab53-4377-b31f-97a38d640b35_gif.gif)
Pakar keamanan di King’s College, London, Andreas Krieg, menilai ancaman terhadap Bab el-Mandeb bisa jadi memicu konflik lebih besar jika tekanan militer AS terhadap Iran terus meningkat. Apabila gangguan terjadi secara bersamaan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, Krieg khawatir dampaknya terhadap perdagangan internasional akan jauh lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu jalur pelayaran itu yang terganggu.
Gangguan di Selat Hormuz membatasi ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk, sedangkan gangguan di Bab el-Mandeb menghambat hubungan pelayaran utama antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase