Kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo akan diuji. Keberhasilannya bergantung pada keseimbangan antara kepentingan nasional dan dinamika global.
10 Mar 2025 08:00 WIB · Opini
Sejak kemerdekaan, Indonesia berpegang pada prinsip kebijakan luar negeri bebas dan aktif yang menekankan independensi dalam hubungan internasional sambil tetap berperan aktif dalam dinamika perjuangan politik global. Prinsip ini menjadi pedoman utama dalam diplomasi dan strategi geopolitik nasional.
Kini, setelah beberapa bulan terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia pada 2024, pendekatan diplomasi dipandang mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Berbeda dengan era Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, yang lebih mengutamakan diplomasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur, Prabowo menunjukkan keterlibatan langsung dalam kebijakan luar negeri dengan menitikberatkan aspek geoekonomi, pertahanan, serta kemitraan strategis.
Prabowo menunjukkan keterlibatan langsung dalam kebijakan luar negeri dengan menitikberatkan aspek geoekonomi, pertahanan, serta kemitraan strategis.
Beberapa langkah awalnya mencerminkan ambisi untuk mempertegas kehadiran Indonesia di panggung internasional. Contohnya, bergabungnya Indonesia dengan BRICS dan Developing-8 (D-8), penguatan hubungan dengan China, Jepang, Timur Tengah, Turki, Rusia, dan India, serta efisiensi anggaran negara guna mendukung visi Astacita, mengindikasikan pergeseran prioritas yang lebih strategis.
Namun, langkah ini memunculkan pertanyaan, apakah pendekatan baru ini akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global, atau justru menciptakan tantangan diplomatik yang kompleks?
Sebagai anggota G20 serta ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan posisi geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia memiliki kepentingan nyata dalam menjaga stabilitas kawasan.
Langkah bergabung dengan BRICS menunjukkan upaya diversifikasi kerja sama ekonomi di luar kemitraan multilateral tradisional. Organisasi ini diprakarsai Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta kini mencakup negara-negara seperti Iran, Mesir, Etiopia, dan UEA. BRICS menawarkan peluang dalam pendanaan alternatif serta perdagangan yang lebih beragam.
Namun, keterlibatan dalam BRICS juga menimbulkan pertimbangan geopolitik, terutama dalam konteks persaingan antara Amerika Serikat dan China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/09/8dda8765-fd72-4afd-be18-76fbfb283f29_png.png)
BRICS kerap dipandang sebagai upaya menyeimbangkan dominasi ekonomi negara-negara Barat. Hal ini memicu spekulasi bahwa Indonesia mungkin berpeluang condong ke salah satu blok kekuatan tertentu, suatu hal yang diperdebatkan terhadap prinsip bebas dan aktif.
Meski demikian, perspektif geostrategis yang disampaikan Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan bahwa Indonesia justru dapat berperan sebagai jembatan diplomasi pada wacana Indo-Pasifik, menghubungkan berbagai kepentingan global tanpa kehilangan independensinya.
Sikap ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam menyeimbangkan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia serta melanjutkan tradisi keterlibatan dalam beragam foum multilateral.
Dalam aspek pertahanan, pemerintahan Prabowo menunjukkan ketegasan dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI, terutama di Laut China Selatan, yang menjadi pusat ketegangan regional. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Natuna kerap mendapatkan tantangan dari aktivitas maritim China. Untuk merespons hal ini, Indonesia meningkatkan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Perancis, Turki, dan India.
Sebagai langkah konkret, latihan militer bersama di beberapa wilayah perairan Indonesia pada akhir 2024 dan awal 2025 mencerminkan peningkatan kapasitas pertahanan yang inklusif.
Selain itu, kerja sama dengan India dalam rancana pengadaan rudal BrahMos serta kesepakatan dengan Turki dalam pengembangan alutsista generasi modern juga menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat postur militernya tanpa bergantung pada satu blok kekuatan tertentu.
Pengembangan alutsista generasi modern menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat postur militernya tanpa bergantung pada satu blok kekuatan tertentu.
Dalam lingkungan geopolitik yang semakin multipolar, strategi kebijakan luar negeri Indonesia membutuhkan keseimbangan yang matang antara diplomasi ekonomi, pertahanan, dan stabilitas kawasan.
Prabowo tampaknya tengah berupaya mengukuhkan posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) dengan peran yang lebih luas dalam kerangka geostrategis Indo-Pasifik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/15/8445e5dd-ceee-3382-a87c-a8d9536f98fd_jpg.jpg)
Untuk memastikan kebijakan ini berjalan efektif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, dari pandangan geoekonomi, Indonesia perlu menjaga keseimbangan dalam kerja sama multilateral, termasuk di BRICS dan D-8, tanpa mengesampingkan kemitraan strategis dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, yang selama ini menjadi pilar utama dalam investasi dan transfer teknologi.
Kedua, dari prespektif geostrategis, wacana megakawasan Indo-Pasifik menjadi perhatian tersendiri. Indonesia dituntut untuk dapat memposisikan dirinya setara dengan kekuatan-kekuatan besar, termasuk India, China, dan Korea Selatan.
Dalam hal ini, Indonesia bersama-sama dengan gerbong ASEAN, dapat memainkan peran lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan serta menjaga jalur rantai pasok dunia.
Ketiga, prinsip bebas dan aktif harus tetap menjadi pedoman utama kebijakan luar negeri Indonesia. Artinya, Indonesia harus tetap netral dan tidak terjebak dalam blok kekuatan tertentu. Namun, di era abad ke-21 ini, di mana Indonesia sudah menjadi anggota Kelompok 20 (G20) kekuatan ekonomi terbesar di dunia, maka bebas dan aktif juga dituntut lebih dari sekedar presepsi netralitas.
Oleh karena itu, partisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pertahanan, dan diplomasi adalah tuntutan nyata serta perlu menjadi prioritas dalam setiap keputusan strategis.
Jika kita telaah dari sudut pandang geopolitik, peningkatan kapabilitas pertahanan memang diperlukan, tetapi harus tetap disertai dengan diplomasi yang cermat untuk menghindari eskalasi tensi yang sudah ada.
Pada akhirnya, arah baru kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo akan diuji dalam beberapa tahun ke depan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuannya dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan dinamika global, yang kemudian akan memengaruhi citra Indonesia di mata dunia.
Jika strategi ini dijalankan dengan baik, Indonesia berpotensi memperkokoh pengaruhnya dalam mewakili gerbong ASEAN, tidak hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga sebagai aktor penting dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik, kawasan yang menjadi pusat perhatian masa depan dunia.
Namun, jika keseimbangan ini terganggu, Indonesia bisa menghadapi tantangan diplomatik yang lebih besar di masa mendatang. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri yang lebih tegas harus tetap mengutamakan kepentingan nasional tanpa mengorbankan hubungan strategis yang telah lama dibangun.
Jika visi Astacita dijalankan dengan keseimbangan geoekonomi, ketajaman geostrategis, dan ketegasan geopolitik, maka Indonesia tidak hanya menjadi kekuatan regional yang mandiri, tetapi juga aktor global yang berpengaruh, sejalan dengan pernyataan Prabowo Subianto bahwa ”Indonesia harus menjadi bangsa yang kuat, berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, serta berkepribadian dalam kebudayaan”.
—
Abhiram Singh Yadav, Dosen di LSPR Institute of Communication and Business, Jakarta
Penulis:
Abhiram Singh YadavEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari