Kapal induk dan kapal perang pengangkut puluhan pesawat militer AS mendekati Iran. Teheran siaga penuh pada kemungkinan serangan.
24 Jan 2026 08:30 WIB · Internasional
AFP/Navy Office of Information/MCSN Jaso
Kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, semakin mendekati Iran. Bersama kapal induk itu, datang beberapa kapal perang dan puluhan pesawat militer AS.
Pada Sabtu (24/1/2026), sejumlah maskapai menghentikan penerbangan ke sekitar Iran. Sepanjang Januari 2026, sudah beberapa kali langit Iran dan sekitarnya dihindari pesawat-pesawat sipil
Dalam laporan CNN pada Jumat (23/1/2026), Presiden AS Donald Trump membenarkan pengerahan kapal perang itu. ”Kami mengawasi Iran. Kita punya banyak kapal yang menuju ke sana, untuk berjaga-jaga. Kami punya kekuatan besar yang menuju ke Iran,” ujarnya.
Terakhir kali AS mengerahkan armada sebesar itu di dekat Iran pada Juni 2025. Kala itu, AS bersama Israel menyerang Iran. Sejak Juli 2025, tak ada kapal induk AS di dekat Iran. ”Saya lebih suka tidak terjadi apa-apa, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat,” kata Trump.
Gugus tempur laut USS Abraham Lincoln didampingi empat kapal perusak berpeluncur rudal. Di Teluk Persia dan Laut Arab juga telah ada kapal perusak berpeluncur rudal.
Gugus tempur itu didampingi Wing Udara 9. Di satuan itu ada jet tempur F-35 dan F/A-18. Ada juga pesawat yang dilengkapi pengacak sinyal EA-18G Growler. Selain itu, ada juga pesawat intai E-2D.
Gugusan itu terakhir kali terpantau di lepas pantai India. Kapal bergerak dari Laut China Selatan dan melintasi ujung utara Selat Malaka pada 19 Januari 2026. Sejumlah pihak menaksir, gugusan itu tiba di antara Laut Arab dan ujung selatan Teluk Oman pada Jumat malam atau Sabtu dini hari waktu setempat.
AS juga dilaporkan mengirimkan total 35 jet tempur F-15 ke Jordania. Selain itu, ada pesawat serang A-10 di Jordania. Pesawat-pesawat angkut berat militer AS juga dilaporkan bolak-balik mendarat di Jordania.
Selama ini, langit Jordania jadi lokasi pencegatan semua rudal dan pesawat nirawak yang ditujukan ke Israel. Selain milik Jordania, jet AS juga terlibat pencegatan itu. AS juga menambah aneka artileri pertahanan udara di pangkalannya yang tersebar dari Jordania sampai Bahrain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/23/f52dea26-fc7a-4915-9d58-e3d532aed230_png.png)
Sikap AS soal Iran terus berubah. Selasa pekan lalu, dilaporkan militer AS sudah siap menyerang Iran. Sejumlah pejabat AS dan negara-negara Arab mendesak Trump tidak memerintahkan serangan itu.
Sementara di Selasa pekan ini, Trump mengancam akan menghabisi para pemimpin Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pidatonya, Kamis, menuduh AS dan Israel memicu protes sebagai balas dendam atas kekalahan dalam Perang 12 Hari.
Trump tak menggubrisnya. Ia tetap memperingatkan, AS akan bertindak jika Iran masih melanjutkan program nuklirnya.
”Mereka tidak boleh mengembangkan program nuklir. Jika mereka masih melanjutkan program nuklirnya, serangan udara besar-besaran AS bisa terjadi lagi, seperti serangan pada fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025,” kata Trump kepada CNBC.
Iran harus mengajukan laporan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tentang apa yang terjadi pada situs-situs yang dihantam oleh AS dan material nuklir yang diduga ada di sana, termasuk 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60 persen. Angka ini mendekati tingkat kemurnian senjata nuklir sekitar 90 persen. Menurut standar IAEA, jumlah material tersebut, jika diperkaya lebih lanjut, cukup untuk membuat 10 bom nuklir.
Komandan Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour memperingatkan AS dan Israel untuk menghindari kesalahan perhitungan dan belajar dari apa yang terjadi pada Perang 12 Hari yang dipaksakan. Jangan sampai bernasib lebih menyakitkan. Mereka juga memperingatkan AS bahwa mereka sudah dalam posisi ”siap menembak”. Tinggal tunggu perintah dari panglima tertinggi saja.
Kepala Markas Komando Gabungan Iran Ali Abdollahi Aliabadi juga memperingatkan, jika AS menyerang, maka semua pangkalan, pusat pengaruh AS, dan apa saja yang terkait dengan AS akan jadi target yang sah bagi pasukan Iran. ”Misi Garda Revolusi adalah melindungi Revolusi Islam 1979 dari ancaman internal dan eksternal,” tulis Pakpour, yang dikutip oleh stasiun-stasiun televisi pemerintah.
Para aktivis menuding Garda Revolusi justru mendalangi penindakan brutal kepada para pengunjuk rasa. Kelompok ini sudah dikenai sanksi sebagai entitas teroris oleh banyak negara, seperti Australia, Kanada, dan AS. Para aktivis juga mendesak Uni Eropa dan Inggris melakukannya.
Trump menegaskan kembali bahwa ancamannya untuk menggunakan kekerasan terhadap Iran telah menghentikan 837 eksekusi gantung terhadap para pengunjuk rasa. Ia pun terbuka untuk berdialog dengan Iran.
Jaksa Agung Iran dan pihak lain menyebut beberapa dari mereka yang ditahan sebagai mohareb atau ’musuh Tuhan’ dan hukumannya adalah hukuman mati. Iran pernah memanfaatkan tuduhan musuh Tuhan itu sebagai pembenaran untuk melakukan eksekusi massal pada 1988. Pada waktu itu, setidaknya 5.000 orang tewas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/35c755734a41fa331e9bcfdf5f54486f-IRAN_PROTEST_RIGHTS_135273311.jpg)
Otoritas Iran, Rabu lalu, untuk pertama kali mengumumkan jumlah resmi korban dari unjuk rasa. Sebanyak 3.117 orang tewas. Dari total korban tewas itu, 2.427 orang tewas dalam aksi protes dan berstatus warga sipil dan aparat keamanan. Sementara sisanya dianggap teroris.
Kerusuhan dan pembunuhan yang terjadi di Iran berawal dari aksi protes pada 28 Desember 2025. Awalnya, tak banyak yang ikut berunjuk rasa di Grand Bazaar Teheran. Isu yang dibawa adalah kesulitan ekonomi. Namun, isu itu kemudian menyebar cepat ke seluruh negeri. Tidak jelas apakah aksi protes di Iran akan meningkat lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/96e716ee7be49bdce773934d3f5a96fb-wires_photo_166.jpg)
Menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia, Jumat (23/1/2026), jumlah korban tewas sedikitnya 5.002 orang. Jumlahnya dikhawatirkan akan bertambah banyak lagi. Banyaknya korban yang tewas disebabkan aparat keamanan melepaskan tembakan langsung ke arah para pengunjuk rasa.
Upaya untuk mengonfirmasi skala korban terhambat gara-gara pemadaman internet di seluruh Iran. Pemadaman itu sudah berlangsung selama dua pekan. LSM HAM Iran, IHR, telah memverifikasi setidaknya 3.428 pembunuhan.
LSM lain, Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di AS juga telah mendokumentasikan 4.902 kematian terkait kerusuhan, termasuk 4.251 pengunjuk rasa, 197 aparat keamanan, 35 orang berusia di bawah 18 tahun, dan 38 orang yang tidak terlibat sama sekali. Ke-38 orang ini bukan pengunjuk rasa dan bukan pula aparat keamanan.
Selain itu, menurut HRANA, setidaknya 26.541 orang telah ditangkap. Dalam satu hari saja, Kamis, 200 orang ditangkap di sejumlah provinsi, seperti Kermanshah dan Isfahan. ”Semua bukti yang secara bertahap muncul dari dalam Iran menunjukkan jumlah korban yang tewas dalam protes jauh lebih banyak daripada angka resmi pemerintah,” kata Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris Mada