Makanan bergizi gratis sudah hadir di atas meja dalam ruang kelas Sekolah Dasar Katolik St Yoseph di Kabupaten Kupang pada Selasa (7/1/2025). Saat hendak menggigit potongan tempat goreng, tercium aroma tak sedap. Ketika dikunyah, rasanya tidak seperti tempe yang biasa dimakan anak-anak.
Siswa dan guru menduga, bisa saja tempe itu busuk, tidak dimasak dengan tepat, atau ada masalah pada proses pengemasan. Dalam rekaman yang diperoleh Kompas, salah satu orangtua mengeluhkan hal itu.
"Anak saya cerita, ada temannya yang muntah sampai menangis," tutur orangtua anak yang enggan mengungkap identitasnya.
Informasi itu ramai dibicarakan masyarakat sehingga pada Jumat (10/1) ini, sejumlah pihak termasuk perwakilan Badan Gizi Nasional dan pengelola makanan, datang ke sekolah itu untuk menindaklanjuti. Kunjungan itu dibenarkan Kepala SD Katolik St Yoseph Marianus Redemptus. Namun, Marianus mengaku tak pernah tahu dan tak mendengar informasi makanan berbau tak sedap. Pengakuan Marianus ini berbeda dengan beberapa guru yang membenarkan bahwa tempe yang dimakan mengeluarkan aroma tak sedap.
Makanan untuk SD Katolik St Yoseph dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Noelbaki di bawah tanggung jawab Yayasan No Fitu Timor. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, total SPPG di NTT sebanyak 749 titik. Alokasi anggaran untuk program makan bergizi di NTT sebanyak Rp 8 triliun dari total anggaran secara nasional sebanyak Rp 71 triliun.
Margaretha Waduh dari yayasan tersebut, saat konfirmasi menyarankan untuk menghubungi kepala dapur guna mendapatkan informasi mengenai olahan makanan. Ia tak menyertakan nomor kontak kepala dapur. "Atau bisa langsung ke pihak sekolah," ucapnya.
Dapur itu melayani 12 sekolah yang terdiri atas 1 TK, 8 SD, 1 SMP, dan 2 SMA. Total penerimaan makan bergizi sebanyak 3.062 siswa. Hingga saat ini, baru satu dari 749 dapur yang terdata di NTT, yang sudah beroperasi. Setiap dapur dibatasi melayani sekitar 3.000 siswa.
Ihwal temuan MBG beraroma tak sedap, Kepala Balai Obat-obatan dan Makanan (BPOM) Kupang Yoseph Nahak Klau yang ditemui pun menolak berkomentar. "Jangan tanya ke saya," ujarnya berusaha mengelak.
Menurut dia, terkait MBG, pihaknya tidak diizinkan berbicara kepada media. Kata dia, pernyataan ke media hanya boleh dilakukan oleh Badan Gizi Nasional. "Mohon pengertiannya," ucap Nahak.
Padahal, pada hari pertama pelaksanaan program MBG, Nahak sempat hadir di sana. Ia memantau proses pembagian makanan, salah satunya di SDI Noelbaki. "Saya boleh jawab yang lain, di luar makan bergizi gratis," lanjutnya lagi.
Tertutup
Pada hari pertama pelaksanaan program MBG, Kompas sempat mendatangi dapur Yayasan No Fitu Timor namun tidak diizinkan masuk. Bahkan, berada di dalam halaman tempat itu pun dilarang. Ini berbeda dengan dapur di tempat lain yang mengizinkan media boleh meliput.
Saya boleh jawab yang lain, di luar makan bergizi gratis.
Kondisi itu menimbulkan kecurigaan awak media akan proses pengolahan makanan di dalam dapur. "Kenapa sampai ke halaman pun dilarang? Ini ada apa? Apa yang ditutupi?" ujar salah satu jurnalis. Seorang sekuriti menjawab, "Begitulah arahan dari dalam. Kami hanya jalankan perintah," katanya.
Yang berada di dalam tempat itu tampak sejumlah politisi Partai Gerindra. Ada Sekretaris DPD Gerindra Provinsi NTT Gabriel Beribina dan elit Gerindra lainnya Florencio Mario Vieira. Mereka bahkan ikut melihat distribusi makanan di sekolah. Hadir pula pihak Yayasan No Fitu Timor dan perwakilan Badan Gizi Nasional dan BPOM.
Pada kesempatan itu, tak ada satupun dari mereka yang mau diwawancarai. Padahal publik berhak tau mengenai jalannya program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu. Hingga saat ini, belum ada pernyataan perwakilan Badan Gizi Nasional di NTT mengenai program tersebut.
Penjabat Gubernur NTT Andriko Noto Susanto, melalui staf humas dan protokoler mengajak media untuk melihat langsung pengolahan makan di salah satu SPPG di Kota Kupang pada Senin (13/1) mendatang. Di sana akan disampaikan pernyataan resmi pemerintah.
Pelaksanaan program MBG di NTT masih diwarnai dengan berbagai ketertutupan oleh pihak pengelola maupun Badan Gizi Nasional. Aroma tak sedap makanan terus menjadi pergunjingan publik, tentu dengan berbagai kecurigaan. Aroma tak sedap jangan sampai merembet ke mana-mana.
Makanan bergizi gratis sudah hadir di atas meja dalam ruang kelas Sekolah Dasar Katolik St Yoseph di Kabupaten Kupang pada Selasa (7/1/2025). Saat hendak menggigit potongan tempat goreng, tercium aroma tak sedap. Ketika dikunyah, rasanya tidak seperti tempe yang biasa dimakan anak-anak.
Siswa dan guru menduga, bisa saja tempe itu busuk, tidak dimasak dengan tepat, atau ada masalah pada proses pengemasan. Dalam rekaman yang diperoleh Kompas, salah satu orangtua mengeluhkan hal itu.
"Anak saya cerita, ada temannya yang muntah sampai menangis," tutur orangtua anak yang enggan mengungkap identitasnya.
Informasi itu ramai dibicarakan masyarakat sehingga pada Jumat (10/1) ini, sejumlah pihak termasuk perwakilan Badan Gizi Nasional dan pengelola makanan, datang ke sekolah itu untuk menindaklanjuti. Kunjungan itu dibenarkan Kepala SD Katolik St Yoseph Marianus Redemptus. Namun, Marianus mengaku tak pernah tahu dan tak mendengar informasi makanan berbau tak sedap. Pengakuan Marianus ini berbeda dengan beberapa guru yang membenarkan bahwa tempe yang dimakan mengeluarkan aroma tak sedap.
Makanan untuk SD Katolik St Yoseph dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Noelbaki di bawah tanggung jawab Yayasan No Fitu Timor. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, total SPPG di NTT sebanyak 749 titik. Alokasi anggaran untuk program makan bergizi di NTT sebanyak Rp 8 triliun dari total anggaran secara nasional sebanyak Rp 71 triliun.
Margaretha Waduh dari yayasan tersebut, saat konfirmasi menyarankan untuk menghubungi kepala dapur guna mendapatkan informasi mengenai olahan makanan. Ia tak menyertakan nomor kontak kepala dapur. "Atau bisa langsung ke pihak sekolah," ucapnya.
Dapur itu melayani 12 sekolah yang terdiri atas 1 TK, 8 SD, 1 SMP, dan 2 SMA. Total penerimaan makan bergizi sebanyak 3.062 siswa. Hingga saat ini, baru satu dari 749 dapur yang terdata di NTT, yang sudah beroperasi. Setiap dapur dibatasi melayani sekitar 3.000 siswa.
Ihwal temuan MBG beraroma tak sedap, Kepala Balai Obat-obatan dan Makanan (BPOM) Kupang Yoseph Nahak Klau yang ditemui pun menolak berkomentar. "Jangan tanya ke saya," ujarnya berusaha mengelak.
Menurut dia, terkait MBG, pihaknya tidak diizinkan berbicara kepada media. Kata dia, pernyataan ke media hanya boleh dilakukan oleh Badan Gizi Nasional. "Mohon pengertiannya," ucap Nahak.
Padahal, pada hari pertama pelaksanaan program MBG, Nahak sempat hadir di sana. Ia memantau proses pembagian makanan, salah satunya di SDI Noelbaki. "Saya boleh jawab yang lain, di luar makan bergizi gratis," lanjutnya lagi.
Serial Artikel
Makan Bergizi Gratis Perdana di NTT, Baru 1 dari 749 Titik yang Beroperasi
Pada hari pertama pelaksanaan makan bergizi gratis, hanya satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang beroperasi melayani 3.062 siswa.
Pada hari pertama pelaksanaan program MBG, Kompas sempat mendatangi dapur Yayasan No Fitu Timor namun tidak diizinkan masuk. Bahkan, berada di dalam halaman tempat itu pun dilarang. Ini berbeda dengan dapur di tempat lain yang mengizinkan media boleh meliput.
Saya boleh jawab yang lain, di luar makan bergizi gratis.
Kondisi itu menimbulkan kecurigaan awak media akan proses pengolahan makanan di dalam dapur. "Kenapa sampai ke halaman pun dilarang? Ini ada apa? Apa yang ditutupi?" ujar salah satu jurnalis. Seorang sekuriti menjawab, "Begitulah arahan dari dalam. Kami hanya jalankan perintah," katanya.
Yang berada di dalam tempat itu tampak sejumlah politisi Partai Gerindra. Ada Sekretaris DPD Gerindra Provinsi NTT Gabriel Beribina dan elit Gerindra lainnya Florencio Mario Vieira. Mereka bahkan ikut melihat distribusi makanan di sekolah. Hadir pula pihak Yayasan No Fitu Timor dan perwakilan Badan Gizi Nasional dan BPOM.
Pada kesempatan itu, tak ada satupun dari mereka yang mau diwawancarai. Padahal publik berhak tau mengenai jalannya program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu. Hingga saat ini, belum ada pernyataan perwakilan Badan Gizi Nasional di NTT mengenai program tersebut.
Penjabat Gubernur NTT Andriko Noto Susanto, melalui staf humas dan protokoler mengajak media untuk melihat langsung pengolahan makan di salah satu SPPG di Kota Kupang pada Senin (13/1) mendatang. Di sana akan disampaikan pernyataan resmi pemerintah.
Pelaksanaan program MBG di NTT masih diwarnai dengan berbagai ketertutupan oleh pihak pengelola maupun Badan Gizi Nasional. Aroma tak sedap makanan terus menjadi pergunjingan publik, tentu dengan berbagai kecurigaan. Aroma tak sedap jangan sampai merembet ke mana-mana.
Serial Artikel
NTT Meregang Nyawa di Tengah Kekayaan Lautnya
Ajakan ayo masuk laut bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur didengungkan sejak 1978. Dengan berbagai potensi di dalamnya, laut di NTT jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan daratan.