Bagi sebagian masyarakat, selain silaturahmi dan mudik, Lebaran juga identik dengan menyediakan uang recehan untuk sedekah atau dibagikan kepada anggota keluarga.
12 Mar 2025 15:15 WIB · Foto
Sejak pekan lalu Bank Indonesia kembali membuka layanan penukaran uang baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri. Layanan penukaran uang ini dijadwalkan akan berlangsung hingga 27 Maret 2025. Pada tahun ini Bank Indonesia telah menyiapkan uang layak edar sebesar Rp 180,9 triliun.
Bagi sebagian masyarakat di Indonesia, Lebaran tidak sekadar urusan silaturahmi, mudik ke kampung halaman, atau berbelanja baju baru dan barang lainnya. Tetapi, Lebaran juga identik dengan menyediakan uang recehan untuk sedekah, dibagikan kepada anggota keluarga, atau dibagikan saat ziarah ke kuburan.
Kebiasaan masyarakat ini dipahami betul oleh Bank Indonesia. Bank sentral ini tidak hanya mengurusi peredaran uang dan mengawasi operasionalisasi bank, tetapi juga menyediakan layanan penukaran uang, terutama uang recehan, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Layanan penukaran uang recehan oleh bank sentral ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Arsip berita Kompas yang terbit pada 19 Januari 1966 menuliskan Bank Negara Indonesia akan menyediakan uang pecahan kecil yang diperlukan masyarakat menjelang Lebaran. Uang pecahan kecil yang disiapkan dari pecahan Rp 1 ke bawah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/445f037a-3f05-4937-81ad-6cd63272fb16_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/c3fd5ad7-6c53-4072-881c-87c3eed5a2d7_jpg.jpg)
Hari itu, Kamis (14/12/2000), Bank Indonesia (BI) Surabaya didatangi ratusan orang. Mereka tidak sedang demonstrasi. Mereka datang hendak menukarkan uang. Kali ini, bukan sembarang uang, melainkan uang kertas pecahan Rp 1.000 baru menjadi incaran mereka. Ratusan orang itu rela mengantre. Bahkan, ada yang mengantre sejak pukul 5 pagi.
”Buat dibagi-bagi sama ponakan, Lebaran nanti,” kata Isah yang baru datang jam 9 pagi.
”Soalnya bagus sih, kayak dollar, ponakan-ponakan di kampung pasti senang,” timpal Yatno yang masih berdiri dalam antrean pada pukul 09.30. Padahal, ia sudah datang dari jam 6 pagi.
BI membuka empat loket untuk penukaran uang. Semua loket hanya menyediakan uang kertas Rp 1.000 yang baru. Setiap orang boleh menukar uang hingga jumlah paling banyak Rp 500.000. Ratusan orang berdiri dalam antrean. Tidak ada petugas yang mengatur antrean tersebut. Akibatnya, para pengantre berjejer sekenanya. Antrean meliuk-liuk bagai ular melingkar di sekeliling gedung BI.
Beberapa kali terdengar keluhan ibu yang kehilangan anaknya. Sesekali terdengar teriakan serentak para pengantre, ”Huuuuuu”, jika ada orang yang ketahuan ingin menyusup ke tengah antrean. Seorang ibu setengah baya berusaha membujuk dua remaja agar ia dapat menitip uang untuk ditukarkan.
Perjuangan mengantre menjadi lebih berat saat mendekati loket. Kurang lebih seratus orang berdesak-desakan di tempat parkir di mana loket berada. Dengan langit-langit setinggi kira-kira 2 meter, dan jumlah manusia yang begitu banyak, tempat itu terasa pengap walau tak berdinding. Beberapa orang tampak berseri-seri dengan gepokan uang di tangannya. Dengan tenang mereka menggenggam hasil ”perjuangan” itu.
Tetapi, ada juga orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Uang hasil antrean mereka kemudian dijual dengan harga lebih mahal. Semakin banyak orang yang memperoleh Rp 1.000 yang baru, berarti semakin banyak juga pecahan ini tersebar. Dan, yang utama, semakin banyak wajah cerah para keponakan yang mendapat uang yang menurut para pengantre mirip dollar ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/6796ae45-3706-4cca-920c-9a3c1b728ee8_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/b28a25f9-7891-4c3c-be83-bcd1af184a7c_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/7d3bc62b-21f1-4585-a59a-35bb04a3b581_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/f3211bfe-6e11-4b52-a573-c49fe159dded_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/37de3dad-7197-4c5b-ace9-dd8ea2777ca0_jpg.jpg)
Dari tahun ke tahun permintaan penukaran uang menjelang Lebaran semakin meningkat. Pada tahun 2002, Bank Indonesia Semarang saat hari biasa rata-rata hanya melayani penukaran uang Rp 200 juta per hari. Jumlah itu terus meningkat hingga Rp 600 juta dan melonjak hingga Rp 1,2 miliar saat mendekati Lebaran.
Bank Indonesia Semarang mempersiapkan Rp 11,3 miliar pada 2002 dan tahun 2003 ditingkatkan menjadi Rp 27,637 miliar. Kemudian, pada 2004 Kantor Bank Indonesia Semarang mempersiapkan Rp 313 miliar pecahan uang kecil dan Rp 1,5 triliun uang tunai untuk kebutuhan penukaran dan penarikan uang masyarakat selama Lebaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/dd22fafd-3d97-45b5-86fe-f4bc2ef8d769_jpg.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/11b4b2a6-8fe4-45d9-ab90-a606d7362ae5_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/e9040780-4ac1-47cc-9d42-f8d202036186_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/8e9debbd-0b3e-48f2-9963-18031bab8596_jpg.jpg)
Di sisi lain penukaran uang recehan menjelang Lebaran ini juga memunculkan para penjual jasa penukaran uang musiman. Mereka biasanya menawarkan jasa mereka di pinggir-pinggir jalan dan di sejumlah tempat keramaian seperti terminal bus.
Suatu hari di akhir September 2007 dua perempuan tampak sibuk menawarkan uang recehan kepada orang-orang yang berada di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Uang yang ditawarkan adalah pecahan Rp 500, Rp 1.000, dan Rp 5.000.
Salah seorang penjual bernama Riana Pardede mengatakan, ”Untuk setiap gepok uang pecahan Rp 1.000 senilai Rp 100.000, dijual dengan harga Rp 105.000.” ”Saya hanya dapat untung Rp 3.000 untuk setiap Rp 100.000 uang yang ditukar. Uang baru saya beli dari penjual uang di depan Bank Indonesia di kawasan Kota, Jakarta Barat, dengan harga Rp 102.000,” katanya.
Uang yang paling banyak laku adalah pecahan Rp 1.000. Menurut Ani Marbun, perempuan penjaja uang receh lainnya, pada musim mudik Lebaran seperti sekarang penghasilannya bisa dibilang lumayan. ”Kalau pengunjung terminal sedang ramai, dalam sehari uang yang terjual bisa mencapai Rp 3 juta,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/dc7b8276-acb5-4904-972e-186229bf8ce2_jpg.jpg)
Hingga saat ini penjual jasa penukaran uang musiman menjelang Lebaran masih dapat dijumpai. Meski mereka memungut biaya atas penukaran uang recehan, sebagian masyarakat tetap banyak yang menggunakan jasa mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/12/4eea3e83-7027-40db-a203-ed7dcd046df9_jpg.jpg)
Penulis:
Raditya Helabumi JayakarnaEditor:
Iwan Setiyawan