Arsip Foto ”Kompas”: Empat Dekade Tol Jakarta-Tangerang

Mulai dibangun pada 1981, Tol Jakarta-Tangerang menjadi jalan tol kedua yang dibangun di Indonesia setelah Tol Jagorawi.

22 Okt 2025 07:04 WIB · Metropolitan

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Setelah jalan tol pertama di Indonesia, Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi), diresmikan pada Maret 1978, inisiatif pembangunan jalan tol atau jalan bebas hambatan serupa terus digulirkan oleh pemerintah.

Saat itu, proyek pembangunan jalan tol yang sedang direncanakan oleh pemerintah adalah jalan bebas hambatan yang menghubungkan Jakarta-Cikampek dan jalan bebas hambatan yang menghubungkan Jakarta-Tangerang.

Sama seperti jalan Tol Jagorawi, kedua jalan bebas hambatan itu merupakan proyek yang baru sama sekali. Artinya, jalan lama yang menghubungkan kedua wilayah itu dengan Jakarta akan tetap dipakai.

Selain untuk mengatasi kepadatan lalu lintas yang tinggi, pembangunan jalan tol juga dimaksudkan untuk mengimbangi pembangunan sektor lain, terutama di kawasan yang diproyeksikan menjadi simpul distribusi ekonomi bagi daerah lainnya.

Jalan Tol Jakarta-Tangerang kemudian menjadi jalan tol kedua yang dibangun di Indonesia setelah Tol Jagorawi. Proyek tersebut mulai dilakukan pada 1980, diawali dengan proses pembebasan lahan.

??????????????

 

Rencana lokasi jembatan Cisadane di ujung jalan tol Jakarta-Tangerang yang ditinjau Komisi V DPR. 20 November 1981
Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Tangerang. 19 November 1982

Pembangunan fisik jalan Tol Jakarta-Tangerang sepanjang 27 kilometer (km) kemudian mulai dikerjakan pada 1981. Proyek ini dikerjakan oleh tiga kontraktor asal Jepang, yaitu Takenaka Doboku, Takenaka Komuten, dan Nippon Hodo yang bekerja sama dengan PT Hutama Karya. Biaya pelaksanaan fisik jalan Tol Jakarta-Tangerang ini mencapai sekitar Rp 37 miliar.

Sebagian besar dana pembangunan proyek tol atau sebanyak 62 persen diperoleh dari pinjaman Pemerintah Jepang melalui OECF (Overseas Economic Cooperation Fund of Japan) dan JICA (The Japan International Cooperation Agency). Adapun pembebasan dan ganti rugi sekitar 250 hektar tanah untuk keperluan proyek menelan biaya Rp 8 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Penerimaan Negara (Kompas, 28 November 1984).

Berita Kompas terkait Jalan Tol Jakarta-Tangerang terbit 21 November 1981

Jalan Tol Jakarta-Tangerang merupakan bagian dari rencana proyek Tol Jakarta-Merak sepanjang 103 km yang mencakup pembangunan Jembatan Ciujung sepanjang 4 km dan Jalan Lintas Serang (Serang Bypass) sepanjang 8,4 km.

Jalan tol ini dimulai dari perempatan Tomang di Jalan S Parman, Jakarta Barat, hingga ke daerah Curug, Tangerang. Sama halnya dengan Tol Jagorawi, Tol Jakarta-Tangerang juga didesain memiliki empat jalur lalu lintas dalam dua arah.

Tol ini akan melewati lima jembatan, yaitu Jembatan Kali Grogol, Banjir Kanal, Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan Kali Cisadane. Sebanyak empat simpang susun turut melengkapi tol ini, yaitu di Kebon Jeruk, Tangerang, Karawaci, dan Tangerang Barat.

Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Tangerang sepanjang 27 kilometer masih terus berlangsung. 6 Juni 1983
Pembangunan Jalan Tol Jakarta-Tangerang sepanjang 27 kilometer masih terus berlangsung. 6 Juni 1983
Berita Kompas terkait Jalan Tol Jakarta-Tangerang terbit 30 Desember 1983

Adanya proyek jalan bebas hambatan ini juga berdampak pada harga jual tanah, terutama yang berlokasi di sekitar proyek tol, yang naik berlipat ganda. Soma, salah seorang warga di Kampung Parung Kored, Tangerang, mengatakan, tanah di kampungnya yang dulu ”tidak berharga” kini dibeli orang dengan harga Rp 10.000 per meter persegi. ”Sebelum ada proyek tol, jarang sekali orang membeli tanah. Kalaupun ada, tidak pernah beli dalam hitungan per meter persegi, selalu pekarangan,” ujar Soma.

Kondisi serupa juga terjadi di Jakarta Barat. Di Kampung Pasar Minggu, Kembangan, tanah girik tidak akan dilepas dengan harga Rp 10.000 per meter, padahal sebelumnya harganya jauh di bawah itu. Begitu pula di Meruya, banyak tanah kapling yang berada di sekitar tol ditawarkan dengan harga Rp 25.000-Rp 35.000 per meter (Kompas, 24 November 1982).

Presiden Soeharto pada Selasa pagi meresmikan pemakaian jalan Tol Jakarta-Tangerang. Tampak dalam foto presiden sedang membayar dan meminta tanda bukti dari petugas pintu gerbang tol sambil berkata, "Sudah bayar ya!". 27 November 1984

Pada akhir September 1984, jalan Tol Jakarta-Tangerang mulai diuji coba dan dibuka terbatas untuk umum. Jalan Tol Jakarta-Tangerang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 27 November 1984. Seremoni peresmian dilakukan di Pintu Tol Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Turut mendampingi Presiden Soeharto saat itu adalah Ibu Tien Soeharto, Mensesneg Sudharmono, Gubernur DKI Jakarta Soeprapto, Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi, serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia Toshio Yamazaki.

Melalui Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 1984, pemerintah menetapkan penggunaan jalan tol ini untuk kendaraan beroda empat atau lebih. Besarnya tarif tol untuk kendaraan dengan berat sampai 2,5 ton (sedan, jip, pick up, dan sejenisnya) dari Jakarta ke Tangerang Barat dan sebaliknya adalah Rp 1.300 sekali jalan. Untuk kendaraan dengan berat lebih dari 2,5 ton (bus, truk, dan sejenisnya), sebesar Rp 2.600.

Tiga pengendara sepeda manfaatkan jalan tol Jakarta - Tangerang yang kini dalam taraf penyelesaian. Mumpung masih boleh lewat, berangkat dan pulang ke pasar terasa lebih enak, cepat dan singkat. Tidak hanya pengendara sepeda, pengendara sepeda motor, sedan, bahkan bis Jakarta - Merak pun memanfaatkannya, walaupun beberapa jalan tol ini belum semuanya mulus. Jalan tol ini masih terpotong-potong di beberapa tempat, menunggu penyelesaiannya. Demikian pula lintasan pilar jembatan beton di Km 17 masih berupa kerangka di atas jalan.
Pembangunan Simpang Susun Tangerang hampir rampung, tampak beberapa truk proyek Jalan Tol Jakarta-Tangerang tengah mengangkut sisa timbunan tanah. Sementara beberapa kendaraan pribadi melintas di Jalan Serpong-Tangerang yang merupakan jalan lama, di bawah simpang susun.
Foto udara memperlihatkan arus lalu lintas yang masuk dan keluar menggunakan tol, sangat sepi. Akibat jalan pintas menuju Jakarta yang hanya 26,4 KM tapi menuntut biaya tol yang cukup tinggi.
Para peserta kejuaraan balap sepeda Asia mencoba jalan Tol Jakarta-Tangerang yang akan digunakan untuk lomba Team Time Trial (TTT). Karena jalan tidak ditutup, para pebalap harus hati-hati karena mobil-mobil tetap melaju kencang di sisi mereka. 9 Juli 1987

Setelah resmi beroperasi, animo pengguna jalan untuk melewati Tol Jakarta-Tangerang cukup tinggi. Dalam dua pekan pertama setelah dibuka, lalu lintas harian kendaraan yang melewati tol mencapai 13.000 hingga 14.000 kendaraan. Jumlah itu melebihi prediksi awal Jasa Marga selaku pengelola jalan tol, yang memperkirakan rata-rata harian sekitar 10.000 kendaraan.

Pada Minggu dan hari libur, jumlah itu melonjak hingga 19.000 kendaraan. Pembukaan tol saat itu sedikit mengurangi kemacetan lalu lintas Jakarta-Tangerang melalui jalan lama lewat Grogol dan Cengkareng yang volumenya teramat tinggi. Saat itu, lalu lintas Jakarta-Tangerang yang melalui jalan lama mencapai sekitar 40.000 kendaraan per hari.

Berita Kompas terkait Jalan Tol Jakarta-Tangerang terbit 13 Desember 1984

Proyek jalan Tol Tangerang-Merak sepanjang 77 km mulai dikerjakan sejak pertengahan tahun 1990. Pelaksanaan pembangunannya dibagi menjadi dua tahap. Tahap I adalah ruas Tangerang Barat-Ciujung sepanjang 34,2 km dan tahap II adalah ruas Ciujung-Merak sepanjang 42,8 km. Seksi pertama proyek jalan Tol Tangerang-Merak sepanjang 13,4 km mulai difungsikan sejak Senin, 23 Maret 1992.

Peresmian penggunaan ruas jalan tol tersebut dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum Radinal Mochtar. Sementara itu, ruas terakhir jalan Tol Jakarta-Merak, yaitu dari Cilegon Barat sampai Merak sepanjang 3,5 km, selesai dibangun dan dibuka untuk lalu lintas umum pada Kamis, 19 Desember 1996.

Pengendara sepeda motor melintas di jalan Tol Jakarta-Tangerang dari Pintu Tol Tomang, Jakarta Barat, Kamis, 2 Januari 2020. Pengendara motor diperbolehkan masuk ke tol karena akses jalan ke arah Jakarta tergenang banjir dan tidak bisa dilalui motor.
Sejumlah pedagang asongan terlihat berjualan di tengah jalan Tol Jakarta-Tangerang, Jumat (9/9/2016). Mereka memanfaatkan kemacetan di jalur tol dari arah Kebon Jeruk menuju Tomang, Jakarta Barat, untuk menawarkan makanan dan minuman kepada para pengemudi kendaraan.
Penumpang bus PO Budiman menunggu bus pengganti setelah bus yang melayani penumpang tujuan Tangerang-Tasikmalaya tersebut terbakar di Pintu Kebon Jeruk, jalan Tol Jakarta-Tangerang, Senin (12/9/2016). Bus yang berangkat dari Terminal Cikokol, Tangerang, tersebut membawa 31 penumpang. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut.
Api berkobar menghanguskan sebuah mobil di jalan Tol Jakarta-Tangerang di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (24/3/2023).Kebakaran mobil jenis ”hatchback” Toyota Starlet buatan tahun 1995 itu diduga akibat korsleting listrik pada kendaraan. Tidak ada korban jiwa ataupun terluka akibat peristiwa itu.

Setelah beroperasi lebih dari 40 tahun, Tol Jakarta-Tangerang membuat sektor perekonomian, seperti industri, perdagangan, jasa, pergudangan, dan perumahan, terus tumbuh. Keberadaannya sebagai koridor utama yang menghubungkan Jakarta ke wilayah barat telah berdampak pada ekspansi perkembangan kota sehingga banyak kawasan di sepanjang jalur tol berkembang sangat cepat.

Dengan volume kendaraan yang terus bertambah dan mobilitas masyarakat yang tinggi tentu diperlukan peningkatan integrasi jaringan infrastruktur transportasi untuk jangka panjang.

Kendaraan memasuki Gerbang Tol Karang Tengah Barat 1, Kota Tangerang, yang sudah resmi dibuka untuk umum, Jumat (27/11/2015). Beroperasinya Gerbang Tol Karang Tengah Barat 1 dan 2 akan menambah akses penghubung dari Kota Tangerang ke Jakarta yang terintegrasi langsung dengan Jalan Tol Jakarta-Tangerang. Semua pembayaran di Gerbang Tol Karang Tengah Barat 1 dan 2 menggunakan transaksi nontunai (e-toll card). Kompas/Raditya Helabumi (RAD) 27-11-2015 DIMUAT 28/11/15 HAL 25

 

 

 

 

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra