Arsip Foto ”Kompas”: Indonesia Air Show 86

Untuk pertama kali Indonesia menggelar pameran kedirgantaraan internasional berskala besar, 40 tahun lalu.

21 Jan 2026 16:18 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Dudy Sudibyo

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Pada pertengahan 1980-an, untuk pertama kali, Indonesia menyelenggarakan pameran kedirgantaraan berskala internasional terbesar.

Pameran Kedirgantaraan Indonesia atau Indonesia Air Show 1986 diselenggarakan di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta. Pameran yang berlangsung pada 23 Juni hingga 1 Juli 1986 itu menampilkan 60 pesawat tempur, sipil, dan helikopter, serta diikuti 235 perusahaan dari 22 negara, antara lain, Amerika Serikat, Belanda, Perancis, Jepang, Australia dan Singapura.

Berbagai pesawat terbang dengan berbagai jenis termasuk pesawat-pesawat tempur berdatangan di Bandara Kemayoran, Jakarta, untuk memeriahkan Indonesia Air Show, pameran dirgantara terbesar dalam sejarah penerbangan Indonesia. Tampak gambar kesibukan bongkar pasang  kargo yang mengangkut perlengkapan peserta pameran, 21 Juni 1986
Berita Kompas terbit 22 Juni 1986

Meski baru pertama kali digelar, Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPPT BJ Habibie selaku pemrakarsa dan koordinator penyelenggara Indonesia Air Show mengatakan, bobot pameran setaraf dengan pameran serupa di Hannover, Jerman.

Hal itu berarti Indonesia Air Show hanya berada satu tingkat di bawah pameran Le Bourget atau Paris Air Show, Perancis, dan pameran Farnborough di Inggris.

Kedua pameran itu dianggap menempati level tertinggi dalam kancah pameran kedirgantaraan dunia.

Presiden Soeharto melihat pesawat tempur Royal Air Force (RAF) milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada pembukaan Indonesia Air Show 86 di Bandara Kemayoran, Jakarta, 23 Juni 1986
Presiden Soeharto, didampingi Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah (paling kanan berkacamata) berbincang dengan penanggung jawab Indonesia Air Show (IAS) 86 BJ Habibie saat mengunjungi salah satu stan peserta pameran IAS. Kunjungan tersebut merupakan yang kedua kalinya setelah Presiden Soeharto membuka Indonesia Air  Show pada tiga hari sebelumnya.
Presiden Soeharto, didampingi Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah dan penanggung jawab Indonesia Air Show 86 BJ Habibie mengunjungi salah satu stan peserta pameran Indonesia Air Show 86, 26 Juni 1986

Pameran dibuka secara resmi oleh Presiden Soeharto pada Senin, 23 Juni 1986 pagi. ”Hari ini merupakan hari yang akan dicatat dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan kedirgantaraan Indonesia. Tidak banyak negara yang mampu menyelenggarakan pameran kedirgantaraan internasional seperti ini,” ujar Presiden Soeharto.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan arti penting memiliki sendiri industri pesawat terbang. Bukan hanya karena wilayah Indonesia yang luas dengan banyak pulau sehingga membutuhkan transportasi udara dan laut yang besar, melainkan juga pentingnya penguasaan teknologi supaya tidak bergantung kepada negara lain.

Pesawat F-18 Hornet Angkatan Udara Australia ini sedang ditarik menuju hangar untuk dipersiapkan terbang kembali ke pangkalannya di Australia setelah digunakan dalam demo terbang di Indonesia Air Show, 28 Juni 1986
Pengunjung memadati pameran dirgantara terbesar yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia yaitu Indonesia Air Show di Bandara Kemayoran, Jakarta, 27 Juni 1986
Pengunjung Indonesia Air Show di Bandara Kemayoran melimpah ruah menyaksikan berbagai atraksi udara pesawat-pesawat mutakhir maupun static show. Unjuk kebolehan tim aerobatik udara RAAF The Red Arrow dengan pesawat HS Hawk mempesona publik Jakarta. Dipamerkan juga pesawat tempur Mirage (Perancis ) F-16 Fighting Falcon, F-14 Thomcat dari AS. Juga pesawat angkut militer dan helikopter, 27 Juni 1986

Tidak hanya untuk promosi, dagang, dan sharing ilmu pengetahuan, Indonesia Air Show bagi sebagian besar pengunjung merupakan ajang pengenalan teknologi dan atraksi yang sangat menghibur.

Hal itu terutama dengan hadirnya pesawat tempur supersonik seperti F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet, dan Mirage 2000, serta C-101 Aviojet buatan CASA Spanyol.

Tim Aerobatik Red Arrows dari Angkatan Udara Kerajaan Inggris dalam Indonesia Air Show 86
Pesawat tempur Mirage 2000 buatan Perancis dalam Indonesia Air Show, 23 Juni 1986
Pesawat Dassault Falcon buatan Perancis dalam Indonesia Air Show 86
Helikopter dari berbagai jenis dan pabrik pesawat dunia hasil rakitan IPTN Bandung ikut dipamerkan pada Indonesia Air Show di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta, 22 Juni 1986

Akrobatik udara pada hari pembukaan diawali oleh helikopter NBO-105 buatan IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) berdasarkan lisensi MBB Jerman. Menyusul kemudian terbang lintas helikopter dan pesawat buatan IPTN lainnya, seperti Bell 217, Super Puma, CN 235 Tetuko, dan Cassa 212 Aviocar. Tiga Pitts S 25 Royal Falcon dari tim aerobatik Jordania juga turut tampil.

Kejutan di hari pertama dirasakan para pengunjung saat siang hari ketika 11 pesawat HS Hawk dari tim aerobatik The Red Arrows Inggris melintas sebelum mendarat di Bandara Kemayoran dan menuju hanggar.

Siluet pesawat tempur F-16 Fighting Falcon saat pembukaan Indonesia Air Show di Bandara Kemayoran, Jakarta, 23 Juni 1986
Atraksi aerobatik pada pembukaan Indonesia Air Show 86 di Bandara Kemayoran Jakarta
Pesawat tempur jenis F-18 Hornet dari Angkatan Udara Australia dalam Indonesia Air Show, 21 Juni 1986

The Red Arrows baru menunjukkan aksinya pada hari berikutnya. Melesat dalam dua kelompok, sembilan pesawat Hawk ini secara cepat mengubah susunan pesawat di udara. Diawali dengan Big Nine yang membentuk huruf V terbalik, disusul dengan bentuk berlian.

Komposisi udara lain, seperti Apollo, Concorde, dan Feathered Arrow, juga turut ditampilkan. Adegan yang paling mendebarkan tentu saja saat dua pesawat saling terbang berhadapan dan pada satu titik temu keduanya berkelit. Sambil melesat, kedua pesawat itu berputar-putar.

Tajuk rencana Kompas terbit 23 Juni 1986
Para perwira militer menyaksikan atraksi aerobatik pada pembukaan Indonesia Air Show 86 di Bandara Kemayoran, Jakarta, 23 Juni 1986

Sayangnya, Rusia (saat itu Uni Soviet), yang pada awalnya akan berpartisipasi dalam Indonesia Air Show, membatalkan rencana untuk ikut pameran sebulan sebelum kegiatan berlangsung.

Penyelenggara sebenarnya juga sudah memenuhi permintaan Soviet untuk menyediakan area pameran khusus seluas 800 meter persegi.

Sebelum pembatalan tersebut, Soviet dikabarkan akan membawa pesawat angkut terbesar di dunia produksi mereka, yakni An-124, yang dijuluki Condor oleh NATO.

Stan berbagai industri pesawat terbang dari berbagai negara juga diminati pengunjung untuk menyaksikan teknologi dirgantara mutakhir di Indonesia Air Show 1986. Tampak dalam foto adalah mesin Turboprop
Helikopter Super Puma dalam Indonesia Air Show 1986

Penyelenggaraan Indonesia Air Show 86 benar-benar menyedot animo pengunjung. Saat akhir pekan, jumlah pengunjung Indonesia Air Show membeludak. Pada Sabtu, 28 Juni 1986, jumlah pengunjung mencapai sekitar 500.000 orang.

Jumlah itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan satu hari sebelumnya. Sejak pukul 07.00 WIB, pengunjung sudah memadati lokasi pameran meskipun 13 loket tiket yang disediakan baru buka pada pukul 10.00 WIB. Karena desakan massa yang sudah berjubel, loket akhirnya dibuka lebih awal. Tiket masuk ke area pameran untuk umum dijual Rp 1.500.

Sekitar dua ratus ribu pengunjung memadati Indonesia Air Show di Kemayoran, Jakarta, saat akhir pekan. Arena ini bagaikan tempat hiburan, orang berpiknik sehingga sampah berserakan karena tempat sampah tidak memadai.

Indonesia Air Show sempat kembali diselenggarakan pada 1996 atau sepuluh tahun kemudian. Penyelenggaraan yang kedua ini berlangsung di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Namun, krisis ekonomi dan politik pada 1998 membuat penyelenggaraan Indonesia Air Show terhenti.

Bahkan, hingga beberapa dekade setelah Indonesia Air Show ke-2, belum ada pameran kedirgantaraan internasional berskala besar yang diselenggarakan kembali.

Beberapa tahun terakhir sejumlah pameran kedirgantaraan sempat hadir, tetapi masih dalam skala yang lebih kecil daripada Indonesia Air Show.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto