Arsip Foto ”Kompas”: Jakarta Magnet Urbanisasi

Seperti berpuluh-puluh tahun sebelumnya, kembalinya para pemudik ke Jakarta selalu diikuti cerita-cerita para pendatang yang ”menyerbu” Jakarta mencari pekerjaan.

09 Apr 2025 10:01 WIB · Foto

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Awal pekan ini, Jakarta kembali bergeliat setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Aktivitas sekolah, perkantoran, dan kegiatan ekonomi mulai normal. Warga yang mudik ke kampung halaman masing-masing di sejumlah daerah berangsur kembali ke Jakarta dan kota-kota di sekitarnya.

Sejak akhir pekan, terminal bus, stasiun kereta, bandara, ramai oleh arus balik penumpang. Adapun jalan tol menuju Jakarta dipadati kendaraan para pemudik yang kembali.

Seperti berpuluh-puluh tahun sebelumnya, kembalinya para pemudik ke Jakarta dan sekitarnya selalu diikuti cerita-cerita para pendatang yang ”menyerbu” ke Jakarta untuk mencari pekerjaan atau mengubah nasib. Jakarta dianggap sebagai tempat yang memberikan peluang untuk meraih impian dan harapan hidup yang lebih baik.

Matahari pagi pada hari Minggu menyambut penumpang arus balik Lebaran 1996 yang baru tiba kembali di Jakarta, 25 Februari 1996

Menyandang status kota metropolitan dengan laju pembangunan dan roda perekonomian yang pesat dibandingkan kota-kota lain, Jakarta adalah daya pikat yang besar untuk pendatang, terutama di sektor informal. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi juga berkembang ke wilayah aglomerasi, seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok.

Sebagai magnet urbanisasi, Jakarta banyak melahirkan drama kehidupan baik suka maupun duka. Tak hanya cerita tentang keberhasilan, tetapi juga banyak kisah pahit tentang kerasnya kehidupan Jakarta. Banyak harapan yang tidak sesuai realitas.

Banyaknya penduduk Jakarta yang pulang mudik serta masih terbatasnya angkutan menyebabkan mereka harus bersusah-payah ketika mereka pulang mudik maupun ketika kembali ke Jakarta. Dengan segala bawaannya, termasuk oleh-oleh dari kampung seperti buah-buahan, kini mereka mulai kembali ke Jakarta, 19 September 1977.
Arsiip berita Kompas

”Saya tidak betah dan tidak ingin kembali ke Jakarta,” kata Waluyo, remaja berusia 18 tahun, warga Desa Gunung Lurah di lereng Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan hanya sampai kelas 3 SD, kini ia bekerja di kilang penyulingan minyak cengkeh di desanya dengan upah Rp 10.500 per bulan.

Lima tahun lalu (tahun 1975), ia bekerja di pabrik kue donat di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Jam kerjanya dari pukul 15.00 hingga 04.00 subuh keesokan harinya. Upahnya yang diterima hanya Rp 6.500 per bulan.

Selama lima bulan bekerja di Jakarta, Waluyo sempat satu kali pergi ke Pasar Baru, beberapa kali melihat kawasan Lapangan Banteng dan piknik ke Monas. Karena merasa tidak betah, ia memutuskan kembali ke desa.

Pekerjaan yang dilakukan di kota dan desa tidak banyak berbeda, sama-sama berkaitan dengan tungku api. ”Buat apa cari kerja ke kota kalau di desa bisa didapat pekerjaan dengan upah yang memadai,” ujar Waluyo sambil tersenyum (Kompas, 20 Agustus 1980).

Jakarta yang lebih dikenal dengan kota beton ternyata masih mengundang para penduduk sekitarnya untuk berurbanisasi musiman, 10 April 1990
Sekelompok pekerja pendatang musiman yang sangat muda-muda. Beberapa di antara mereka yang mencoba berdiri sendiri, mengalami hantaman kepelikan hidup di Jakarta. Yang masih tinggal bersama kerabat dapat sekedar mencari uang saku.
Setelah sekian lama berlebaran di daerah asalnya, para pendatang mulai kembali lagi ke Jakarta. Lelaki asal Cirebon ini menggendong anaknya ketika menyeberang Jalan D.I. Panjaitan, Jakarta, agar aman. Istri bersama dua anaknya yang lain telah lebih dulu menyeberang, 21 Juli 1983
Arsiip berita Kompas

Terkesima Jakarta

Wajah-wajah lelah itu turun dari bus di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Belum habis rasa penatnya, telinga mereka sudah disambut aneka bunyi memekakkan telinga. Sirene pengeras suara memekik, pukulan kayu di badan bus bertalu-talu, asap knalpot dari ratusan kendaraan membuat mata perih.

”Ke pinggir, hayo ke pinggir!” teriak seorang petugas terminal dengan garangnya. Sebagian dari mereka sudah sangat akrab dengan suasana terminal yang hiruk-pikuk itu, yang menggambarkan betapa kasar dan kerasnya Jakarta. Sebagian lagi tampak kaget, wajah yang lelah itu tampak ketakutan seperti sedang memasuki sarang penjahat.

Wajah ketakutan itulah sebagian dari ratusan ribu pendatang baru yang memasuki Jakarta dengan sejuta harap dan impian meraih penghidupan yang lebih baik ketimbang di desa.

Mereka malu tersipu-sipu dan menghindar ketika ditanya. Oleh pengantarnya mereka diperkenalkan. ”Ini namanya Marni. Yang ini, Mina. Yang di sebelah Mina namanya Rita. Di belakang Rita namanya Marno. Mereka sekampung dengan saya Pak, di Banjarharja, Brebes, Jawa Tengah. Mereka ke Jakarta atas kemauan sendiri,” kata Sriyati (25).

Penumpang yang baru tiba dari luar kota, memenuhi Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (7/11/2005).

Sriyati membawa empat orang, sedangkan Pardi membawa 10 teman sebaya dari Desa Sidakaton, Tegal, Jawa Tengah. ”Mereka akan saya masukkan kerja sebagai buruh bangunan di Tangerang, Pak,” kata Pardi.

Selain Sriyati dan Pardi, masih banyak penumpang arus balik yang membawa serta orang-orang dari asal yang sama ke Jakarta. Mereka membawa 2-10 orang. Yani (24), misalnya, membawa kakak dan adiknya, Feny (27) dan Halima (20), ke Jakarta.

”Kami mau mencari pengalaman Pak, sudah bosan tinggal di desa. Setiap hari cuma itu-itu saja. Kerja di sawah, mandiin kerbau, masak-cuci, mencari makanan kambing, dan menjaga simbok. Sementara kalau melihat Yani pulang ke rumah, penampilannya, wah lumayan deh,” kata Feny.

Rupanya penampilan orang-orang dari Jakarta membuat para pendatang dari desa ini terkesima, lalu melangkah ke Jakarta. Mereka tahu berbagai kesulitan di Jakarta, tetapi di mata mereka sebagai orang-orang desa, Jakarta tetap menarik.

”Kami tahu Jakarta ini selalu dilanda banjir, ada preman yang sangat ganas, ada pencopet, dan ada banyak pengangguran sampai berbulan-bulan, bahkan sampai dua-tiga tahun. Juga ada orang yang sangat cuek terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain. Tetapi, Jakarta tetap menarik untuk mengubah cara hidup dan cara berpikir,” kata Marno, yang juga berasal dari Brebes. (Kompas, 28 Februari 1996).

comparison left
comparison right
before-after-arrow
Arsiip berita Kompas

Lonjakan pendatang

Setelah Lebaran tahun 1996, arus balik warga yang datang ke Ibu Kota bertambah. Pekan lalu, Pemda DKI Jakarta mencatat sekitar 200.000 pendatang baru masuk ke ”Kota Impian” Jakarta untuk mengadu nasib. Untuk itu, dalam waktu dekat Pemda DKI akan melancarkan operasi kependudukan. Warga yang tidak mempunyai jaminan pekerjaan dan tempat tinggal akan dipulangkan ke daerahnya.

Hal itu disampaikan Gubernur DKI Surjadi Soedirja pada acara halalbihalal Kadin DKI dan Kadin Pusat di Jakarta, Selasa (5/3/1996) malam. Dalam acara itu, hadir Mennaker Abdul Latief, Ketua Umum Kadin Aburizal Bakrie, Ketua Gapensi Agus Kartasasmita, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Soeparjo, Ketua Ginsi Amirudin Saud, pengusaha Ciputra, Iman Taufik, Jusuf Kalla, Sofyan Wanandi, Adi Putra Tahir, dan anggota DPR-RI Baramuli.

Menurut Gubernur Surjadi, pendatang baru itu setelah sampai di Jakarta umumnya belum mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal tetap. ”Mereka bekerja dan tinggal seketemunya sehingga lama-lama menjadi beban kota Jakarta,” ujarnya.

Dalam kaitan itu, sambung gubernur, pihaknya akan segera melancarkan operasi kependudukan di mana ketentuan yang menyangkut kependudukan akan dilaksanakan dengan ketat. ”Siapa yang tidak mempunyai jaminan pekerjaan dan tempat tinggal di Jakarta akan dipulangkan ke daerahnya,” katanya.

Penghuni tempat kos di wilayah Kelurahan Tangki, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, menunggu pembuatan tanda terima penyitaan kartu tanda penduduk dalam Operasi Yustisi Kependudukan yang digelar serentak di wilayah DKI Jakarta, Kamis (23/10)/2008). Operasi tersebut untuk penegakan tertib administrasi dan pengendalian urbanisasi di DKI Jakarta.
Petugas gabungan mengetuk pintu rumah kos dalam Operasi Yustisi Kependudukan di Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (22/9/2011. Pemprov DKI melaksanakan operasi yustisi secara serentak di lima wilayah. Pendatang yang tidak memiliki KTP setempat didenda Rp 20.000.
Sekitar 200 warga pendatang yang tinggal di rumah-rumah kos di Kelurahan Tangki, Jakarta Barat, mengikuti persidangan operasi yustisi, Kamis (24/5/2007). Mereka disidang karena tidak memiliki kartu identitas pendatang.
Warga bermain catur untuk mengisi waktu senggang di sisi lain kawasan hunian padat penduduk di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2009). Jakarta yang jumlah penduduknya kian membengkak setiap tahun karena urbanisasi masih menjadi daya tarik bagi pendatang untuk mencari nafkah.
Spanduk dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berisi imbauan tidak mengajak berurbanisasi terpasang di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (31/7/2014). Arus balik pasca-Lebaran menjadi salah satu celah besar arus urbanisasi menyerbu kota. Dinas Kependudukan DKI Jakarta akan menerapkan pengendalian administrasi kependudukan untuk mengatasi lonjakan jumlah penduduk setelah Lebaran.
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan apartemen di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (7/5/2013). Proyek pembangunan yang terus tumbuh di Jakarta masih menjadi magnet bagi pendatang untuk mengadu nasib di Jakarta.
Tukang odong-odong melintas di salah satu gang sempit di Kawasan Cipulir, Jakarta Selatan, Senin (27/8/2012). Banyaknya pendatang membuat kawasan tersebut banyak didirikan rumah kontrakan murah. Sebagian besar warga pendatang bekerja sebagai pedagang di Pasar Kebayoran Lama.

Tetap menjadi magnet

Jakarta memang menjadi kota ideal sebagai tempat pertarungan nafkah. Tetapi, pertarungan itu hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang memiliki keterampilan.

Sementara mereka yang tidak memiliki bekal keterampilan akan tersisihkan. Hal ini yang kemudian memicu permasalahan sosial, seperti pengangguran, kriminalitas, munculnya permukiman-permukiman kumuh, dan masalah lainnya.

Spanduk imbauan tidak datang ke Jakarta untuk mengadu nasib terpasang di salah satu pagar di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2008). Pemasangan spanduk tersebut untuk mengantisipasi membeludaknya pendatang baru di Jakarta.
Pengamen yang menghiasi wajahnya dengan bedak dan kumis palsu memutar musik dangdut berkeliling di jembatan penyeberangan orang di Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (14/1/2015) Bermacam cara dan upaya dilakukan oleh para pendatang untuk bertahan hidup di Ibukota.
Seorang anak berdiri di depan pintu rumah bedeng yang dibangun kembali di lahan bekas kebakaran di Kampung Bandan, Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (5/2/2016). Banyaknya pendatang miskin yang mencoba mencari perubahan hidup di Jakarta menimbulkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang tinggi.

Tingginya laju urbanisasi orang desa ke kota merupakan konsekuensi paling logis dari berkurangnya kesempatan orang desa untuk hidup layak di desanya sendiri.

Menyikapi arus pendatang yang akan ke Jakarta setelah Lebaran ini, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung-Rano Karno mempersilakan pendatang baru ke Jakarta. Namun, keduanya mengingatkan agar para pendatang itu mempunyai bekal keterampilan atau keahlian agar berdaya saing.

Bekal keterampilan sangat penting dalam menghadapi situasi saat ini dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK), angkatan kerja yang terus bertambah dan lapangan pekerjaan yang terbatas. Jakarta diyakini masih tetap menjadi magnet bagi para pendatang baru sekalipun ibu kota nanti berpindah.

Sebuah pemandangan, di salah satu sudut Jakarta Pusat. Satu fenomena baru yang perlu diamati secara serius adalah tanda-tanda munculnya kota raksasa (megapolitan) bersamaan munculnya kawasan urban, 29 Desember 1993
Lanskap kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/6/2018). Jakarta masih menjadi magnet bagi pendatang baru untuk mengadu nasib. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkirakan jumlah pendatang baru ke Jakarta pada tahun ini meningkat sekitar 2 persen dibandingkan 2017.

Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto