Arsip Foto ”Kompas”: Lahirnya Kereta Argo, Primadona Baru Kereta Api di Indonesia

Kereta Argo Bromo dan Argo Gede diluncurkan 30 tahun lalu. Peresmian dilakukan oleh Presiden Soeharto di Stasiun Gambir, Jakarta, 31 Juli 1995.

30 Jul 2025 12:30 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Pada pertengahan dekade 1990-an perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dan mobilitas masyarakat, terutama antarkota besar, meningkat.

Tak pelak, kebutuhan masyarakat akan transportasi yang aman, cepat, dan nyaman semakin mendesak. Merespons tantangan tersebut, PT Kereta Api Indonesia atau PT KAI (saat itu masih bernama Perumka/Perusahaan Umum Kereta Api) kemudian merancang dan meluncurkan layanan kereta api kelas eksekutif premium yang diberi nama Argo.

Lahirnya kereta api Argo menjadi upaya dalam mewujudkan modernisasi dan meningkatkan citra layanan kereta api yang selama ini dianggap konvensional. Kereta Argo (yang berarti gunung) dapat dikatakan menjadi simbol transformasi layanan kereta api di Indonesia serta menjadi primadona baru perkeretaapian di Indonesia.

Dua kereta Argo yang diluncurkan pertama kali adalah kereta Argo Gede yang melayani relasi Jakarta-Bandung dan kereta Argo Bromo yang melayani relasi Jakarta-Surabaya.

Presiden Soeharto meresmikan peluncuran kereta Argo Bromo dan Argo Gede di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin, 31 Juli 1995. Turut hadir dalam peresmian saat itu antara lain Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie dan Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto.

Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya Kereta Api Argo Bromo JS-950 untuk relasi Jakarta-Surabaya dan Argo Gede JB-250 untuk relasi Jakarta-Bandung, di Stasiun Gambir Jakarta, Senin (31/7/1995).
Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya Kereta Api Argo Bromo JS-950 untuk relasi Jakarta-Surabaya dan Argo Gede JB-250 untuk relasi Jakarta-Bandung, di Stasiun Gambir Jakarta, Senin (31/7/1995).
Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya Kereta Api Argo Bromo JS-950 untuk relasi Jakarta-Surabaya dan Argo Gede JB-250 untuk relasi Jakarta-Bandung, di Stasiun Gambir Jakarta, Senin (31/7/1995).

Kereta produksi PT Industri Kereta Api (Inka) Madiun itu bisa dikatakan sebagai kereta api masa depan yang sarat dengan teknologi baru di bidang perkeretaapian Indonesia. Kehadiran kereta tersebut tidak hanya akan berjaya di lingkungan PT KAI (saat itu masih bernama Perumka), tetapi juga di kalangan perkeretaapian di ASEAN.

Kereta-kereta ini, yang akan ditarik oleh lokomotif kuat CC 203 dengan 2.150 tenaga kuda, akan menjalani rute Jakarta-Surabaya dalam waktu sekitar 9 jam untuk Argo Bromo.

Sementara Argo Gede, yang beroperasi untuk rute Bandung-Gambir (PP), membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam. Nama awal proyek prestise ini adalah JS-950 untuk Argo Bromo dan JB-250 untuk Argo Gede.

Kode JS-950 merujuk pada Jakarta-Surabaya, ditempuh dalam waktu 9 jam dan diluncurkan menjelang HUT Ke-50 RI. Adapun JB-250 berarti Jakarta-Bandung ditempuh dalam 2 jam dan diluncurkan menjelang HUT Ke-50 RI.

Cepat, nyaman, dan cantik

Perkembangan kebutuhan akan angkutan penumpang jarak jauh di Jawa, yang jumlah penduduknya bertambah sampai rata-rata 1,9 persen per tahun (data hingga 1995), sangatlah pesat.

Bukan cuma permintaan akan jumlah kereta, melainkan tuntutan akan kecepatan dan kenyamanan pun mulai berkembang. Ini berarti tiap produk kereta harus lebih nyaman dan lebih baik daripada produk-produk sebelumnya.

Dasar pemikiran itu membuat PT Inka memikirkan produk baru yang menenuhi selera masyarakat yang lebih kekinian, selain nyaman, haruslah cepat dan bentuknya cantik. Kereta api bisa melaju cepat kalau prasarananya yang berupa rel mampu dilalui kereta berkecepatan tinggi.

Namun, yang tak kalah penting, bogi kereta (sasis kereta) pun harus bisa ”diajak lari cepat”, sampai pada kecepatan 120 km/jam. Tingkat kecepatan itu masih aman untuk lebar rel (gauge) sempit seperti milik Perumka. Selain itu, bentuk kereta yang mendekati stream line—tanpa banyak lekukan yang justru menghambat angin—juga jadi penunjang, sekaligus membuat kereta lebih cantik.

Wakil Presiden Try Sutrisno berada diatas kereta api Argo Bromo Ekspress JS-950, Jumat (4/8/1995)

Kecepatan tinggi sudah bisa dijamin sebab trek yang dimiliki Perumka, terutama untuk jalur Argo Bromo, sudah memadai, kecuali untuk sementara antara Cikampek dan Cirebon. Bogi NT-60 buatan PT Inka yang digunakan juga sudah teruji baik, setidaknya pada kereta-kereta Suryajaya, dengan suspensi yang lembut dan tahan guncangan. Kereta Suryajaya merupakan KA kelas supereksekutif yang melayani Jakarta-Surabaya pada 1994-1995.

Bogi NT-60 punya keunggulan teknologi dibandingkan bogi NT-11 yang selama ini digunakan Perumka. Selain bisa dilarikan dalam kecepatan tinggi, ia juga lebih nyaman bagi penumpang karena menyerap getaran vertikal dan lateral. Perawatan NT-60 juga lebih sederhana karena pengurangan penggunaan komponen yang bergesekan. Saking tenangnya kereta, beberapa penumpang bisa berfoto sambil berdiri saat kereta melaju dalam kecepatan di atas 110 km/jam.

Munculnya kereta-kereta baru yang menenuhi aspek kenyamanan, kecepatan, sekaligus cantik ini diyakini akan mampu meningkatkan citra Perumka. Lokomotif CC 203 (U20C) buatan General Electric, AS, berdesain baru yang berkabin satu dan berujung aerodinamis, sangat menunjang penampilannya. Apalagi ditunjang dengan warna kereta dan lokomotif yang dominan abu-abu muda dengan dua garis biru muda biru tua, menjadikan rangkaiannya menonjol.

Mirip pesawat terbang

Berbeda dengan kereta-kereta yang digunakan Perumka selama ini, Argo Bromo dan Argo Gede tampak lebih lapang dan mendekati kebutuhan penumpang. Tinggi bordes rata dengan tinggi lantai peron stasiun Gambir membuat penumpang mudah keluar masuk sehingga kejadian penumpang tersandung di pintu masuk kereta tak akan terulang.

Pintu-pintu otomatis elektris juga membuat penumpang tidak repot buka-tutup pintu, selain mengurangi kebisingan akibat beradunya roda dengan sambungan rel, meski reaksi pintu otomatis ini agak lambat sehingga kerap orang berhenti dulu di depan pintu sebelum terbuka.

Masuk ke dalam kereta, penumpang akan disambut alunan musik stereo yang suaranya berkualitas tinggi. Tata ruang dan akustik yang baik menyebabkan musik boleh digeber kencang, tetapi penumpang bisa bercakap-cakap dengan suara rendah tanpa terganggu. Hiburan audio-video yang dikendalikan dari kereta makan juga membuat perjalanan jadi lebih nyaman, apalagi monitor televisi dipilih dari jenis yang tahan guncangan.

Segi akustik dan desain kelihatannya terinspirasi dari interior pesawat terbang mutakhir Airbus atau Jumbo Boeing 747. Oleh ahli rancang PT Inka, Ir Roos Diatmoko, langit-langit yang berlekuk yang dibuat dari serat gelas GFRP (glass fibre reinforced plastic) yang berwarna abu-abu lembut, sewarna dengan panel-panelnya, menunjang sistem akustik ini. Selain itu, bodi yang disekat dengan rockwool mampu meredam suara dengan lebih baik lagi. ”Mirip dalam pesawat terbang,” ujar seorang ahli teknik dari General Electric yang turut dalam uji coba kereta ini.

Jumlah kursi yang berwarna merah hanya untuk 50 orang membuat penumpang lebih leluasa dengan ruang kaki yang jauh lebih lebar. Apalagi kursi ergonomis buatan Taiwan itu bisa direbahkan hingga hampir setengah tidur, menjanjikan kesantaian selama perjalanan panjang. Perangkat AC yang mengembuskan udara dingin yang tingkatnya bisa diatur akan membuat penumpang lebih menikmati perjalanan. Untuk mereka yang membaca, disediakan lampu baca seperti di pesawat.

Banyak industri pendukung yang terlibat dalam produksi kereta ini. Kebutuhan listrik untuk kereta didapat dari dua genset yang terletak di kereta power (BP) dan dipasok oleh Boma Bisma Indra, sementara bahan GFRP dari Padi Handalan, PT Pindad memasok sistem rem, PT Barata Indonesia memasuk sistem perangkai (coupler), PT Krakatau Steel memasok baja untuk rangka, Alkasa dan Index untuk jendela yang berlapis ganda untuk mengurangi efek lemparan batu, Aneka Kimia memasok karet-karet, dan Putera Indonesia memasok sistem audio-video.

Kereta api Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya tiba di Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Minggu (1/6) sore. Pascaberoperasinya jalur ganda Jakarta-Surabaya, jadwal beberapa kereta api berubah karena perjalanan yang lebih cepat. Kompas/Amanda Putri (UTI) 01-06-2014
Kereta Api Argo Gede melintasi Jembatan Cikubang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/4/2010).
Rangkaian KA Eksekutif Argo Bromo Anggrek melintas di Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Selasa (6/12/2005).

Harga 31 unit kereta baru yang terdiri dari kereta penumpang, kereta makan, dan kereta pembangkit khusus untuk Argo Bromo dan Argo Gede itu mencapai Rp 43,5 miliar. Dari nilai tersebut, hanya 23 persen yang digunakan untuk impor, misalnya kursi dan roda.

Lainnya merupakan produksi dan garapan Indonesia. Setiap rangkaian Argo Bromo ataupun Argo Gede akan terdiri dari 8 kereta penumpang, 1 kereta makan, dan 1 kereta pembangkit, yang akan merupakan satu kesatuan (train set) (Kompas, 31 Juli 1995).

Kesuksesan Argo Bromo yang menjadi simbol transformasi perkeretaapian Indonesia pada tahun-tahun berikutnya kemudian melahirkan kereta-kereta Argo yang lain. Pada September 1996 Perumka meluncurkan KA eksekutif supermewah Argo Lawu jurusan Solo-Jakarta dengan waktu tempuh 7 jam.

Setahun sesudahnya, Argo Bromo mengalami pembaruan dengan kehadiran generasi kedua Argo Bromo yang diberi nama Argo Bromo Anggrek pada September 1997. Salah satu keunggulan Argo Bromo Anggrek adalah waktu tempuh perjalanan Jakarta-Surabaya hanya 8 jam 30 menit atau lebih cepat 30 menit dari pendahulunya.

Sejumlah pekerja membersihkan rangkaian gerbong ekskutif Argo Anggrek di Jalur 6 Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Selasa (1/3/2005).
Arsip berita Kompas 28 September 1997
Kereta Api eksekutif Argo Muria relasi Jakarta-Semarang dengan waktu tempuh lima jam secara resmi mulai dioperasikan. Peluncuran kereta Argo Muria dilakukan oleh Ibu Dit Haryanto Dhanutirto bersama Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, Joop Ave di Stasiun Gambir, jakarta, Senin (22/12/1997)

Pada Senin (22/12/1997) kereta api eksekutif Argo Muria rute Jakarta-Semarang (PP) secara resmi dioperasikan. Kereta ini menempuh waktu perjalanan Jakarta-Semarang selama 5 jam dan 15 menit.

Tiket saat itu adalah Rp 85.000 untuk sekali jalan. Adapun KA Argo Gede yang lahir bersamaan dengan Argo Bromo digabung dengan KA Parahyangan menjadi Argo Parahyangan pada April 2010.

Di balik kesuksesan layanan kereta Argo Bromo, sejumlah insiden mengenai keselamatan perjalanan juga menimpa Argo Bromo. Catatan tersebut antara lain beberapa kali insiden kereta anjlok, gerbong kereta terbakar, dan kecelakaan kereta.

Salah satunya adalah kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek Jakarta-Surabaya dan KA Senja Utama Jakarta-Semarang di sekitar 100 meter sebelah barat Stasiun Petarukan di Desa Serang, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu, 2 Oktober 2010. Dalam peristiwa itu, KA Senja Utama yang berhenti di jalur tiga ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Sebanyak 36 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Petugas dan relawan berusaha menyelamatkan korban tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya dan KA Senja Utama tujuan Semarang, tidak jauh dari Stasiun Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu (2/10). Peristiwa yang terjadi pada pukul 02.45 pagi tersebut menewaskan 36 penumpang KA Senja Utama dan melukai 40 penumpang lainnya. KA Senja Utama ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek saat menunggu sinyal. *** Local Caption *** Editorial Use Only
Petugas PT Kereta Api memeriksa rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang anjlok di Tegal, Jawa Tengah, Jumat (19/9/2008). Penyebab anjloknya kereta yang membawa rombongan anggota Komisi V DPR tersebut diduga karena wesel tidak berfungsi dengan baik.
Sejumlah petugas memadamkan api yang membakar gerbong pembangkit Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (19/6/2009).
Petugas PT Kereta Api melintas di samping gerbong Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya-Jakarta yang terguling saat memasuki Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (28/9/2008). Akibat peristiwa tersebut, 36 perjalanan kereta api, termasuk 20 perjalanan kereta api antarkota antarprovinsi, terganggu.
Kondisi gerbong restrorasi Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang terbakar akibat korsleting listrik pada salah satu trafo di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, Senin (9/5/2005).
Sejumlah gerbong KA Argo Semeru miring setelah rangkaian kereta itu anjlok di Dusun Kalimenur, Desa Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, Selasa (17/10/2023). Kecelakaan kereta ini juga melibatkan KA Argo Wilis yang meluncur dari Jakarta dan bersenggolan dengan KA Argo Semeru yang anjlok. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini namun sejumlah perjalanan KA mengalami gangguan.

Memasuki 30 tahun sejak generasi pertama kereta Argo diluncurkan, sejumlah kereta Argo kemudian melengkapi layanan perkeretapian di Indonesia, seperti KA Argo Sindoro, KA Argo Merbabu, KA Argo Dwipangga, KA Argo Semeru, dan KA Argo Wilis.

Petugas peron memberi izin keberangkatan Kereta Api Argo Dwipangga dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/12/2023).
Penumpang mencari tempat duduk di gerbong Luxury Kereta Api Argo Dwipangga di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (27/12/2023). Sejak 13 Desember 2023, kereta api tersebut memakai tiga gerbong kelas Luxury New Generation buatan PT INKA yang masing-masing berkapasitas 26 penumpang.
Petugas kereta api membagikan kopi gratis yang diracik barista untuk penumpang Kereta Api Argo Bromo Anggrek saat perjalanan dari Stasiun Tawang, Semarang menuju Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (30/1). Keberadaan barista atau peracik kopi di kereta ini merupakan program "Ngopi Bareng KAI" yang digelar 30-31 Januari 2018.

Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji
 | 

Foto:

AP Susetyo Wijatmoko