Pada 15 Januari 1974 di Jakarta terjadi demonstrasi besar yang berujung kerusuhan. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Malapetaka 15 Januari (Malari).
11 Jan 2025 10:15 WIB · Foto
Oleh [email protected]
Malari atau Malapetaka 15 Januari sebagai salah satu jejak demonstrasi besar mahasiswa yang berujung kerusuhan. Aksi unjuk rasa mahasiswa dilatarbelakangi soal penolakan masuknya pemodal asing yaitu Jepang dan ketidaksenangan mahasiswa terhadap nepotisme pejabat lingkaran Orde Baru di tengah gejolak ekonomi saat itu.
Sepekan sebelum terjadinya Malari situasi memang sudah mulai memanas ketika menjelang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka pada 15 Januari 1974. Sejumlah aktivis mahasiswa mulai bersuara menolak kedatangan Tanaka yang dianggap sebagai representasi masuknya investasi asing.
Harian Kompas 9 Januari 1974 menurunkan berita halaman depannya berjudul “Tanaka Janji untuk Batasi Pengusaha Jepang yang Berusaha Dominasi Ekonomi.” Kekhawatiran rezim Orde Baru atas rencana penolakan investasi Jepang itu membuat pemerintah juga merencanakan berdialog dengan mahasiswa.
Pada 12 Januari 1974 kembali Harian Kompas memuat halaman depannya dengan berita berjudul “Semua Bahan dan Pandangan Mahasiswa Ditampung.” Berita tersebut menuliskan pertemuan Presiden Soeharto dengan 90 mahasiswa di Bina Graha. Saat berdialog dengan presiden dewan mahasiswa mendeklarasikan tuntutan kepada pemerintah agar pembangunan berorientasi kepada keadilan sosial dan kemakmuran rakyat.
Bersamaan dengan kedatangan Tanaka menjadi isu panas hampir sepekan di pemberitaan Harian Kompas. Terbitan koran Kompas 14 Januari 1974 menuliskan tiga sebab timbulnya ketidaksenangan hubungan dengan Jepang antara lain faktor historis sosial budaya, fasilitas dan sistem penanaman modal asing masih buruk, dan sikap Jepang memandang rendah.
Rombongan Perdana Menteri Jepang tiba Senin 14 Januari 1974 pukul 19.45 dengan menggunakan pesawat DC-JAL di Halim Perdana Kusuma. Tepat malam kedatangannya rombongan mahasiswa Universitas Indonesia berusaha mencegat namun dihalau oleh penjagaan ketat tentara. Pada hari yang sama Harian Kompas memberitakan mengenai pernyataan Menhakam Jenderal M Panggabean dan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro bahwa gerakan mahasiswa menjurus ke tindakan makar.
Malapetaka 15 Januari
Keesokan harinya 15 Januari 1974 demonstrasi besar mahasiswa terjadi di Jakarta. Hampir seluruh kampus di Jakarta turun ke jalan menuntut masalah masuknya modal asing, korupsi, dan kesejahteraan rakyat. Mereka rencananya akan berkumpul di Monas. Seputaran istana negara dan kawasan Monas telah dijaga ketat ABRI dan alat tempur militer seperti panser dan tank. Di tengah situasi yang memanas pertemuan Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Jepang Tanaka tetap berlangsung.
Pertemuan tersebut diabaikan fotografer Kompas RB Sugiantoro yang bertugas menunggu di dalam dan berhasil mengabadikan peristiwa saling tukar cinderamata antara Tien Soeharto dengan Mikkiko putri Tanaka.
Sementara itu. massa dan mahasiswa bergerak dari segala penjuru mendekati kompleks Istana Negara. Salah satu fotografer Harian Kompas Kartono Riyadi mengabadikan peristiwa massa dan mahasiswa yang berkumpul di Jalan Hayam Wuruk dan sekitar Jalan Gajah Mada dari sebuah gedung bertingkat.
Unjuk rasa yang sebelumnya berjalan damai akhirnya berujung pada kerusuhan massal. Sejumlah gedung perkantoran dan kendaraan dibakar serta sejumlah fasilitas publik dirusak massa. Salah satu foto dari arsip Kompas juga mendokumentasikan mahasiswa menggunakan truk menuju Kantor Astra yang berada di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.
Kerusuhan yang meluas di sejumlah titik di Jakarta ini menyebabkan 11 orang tewas, 137 luka-luka, dan 750 orang ditangkap. Pasukan Kodam Jaya dikerahkan untuk meredam kerusuhan agar tidak meluas. Bahkan Menteri Pertahanan Jenderal M Panggabean turun langsung mengawasi situasi dengan latar belakang sebuah gedung yang terbakar.
Keesokan harinya pada 16 Januari 1974 Kompas menurunkan berita berjudul “Kerusuhan Hebat Melanda Ibu Kota” dengan seri foto serta berita peristiwanya. Sehari pascakerusuhan, sejumlah organisasi mahasiswa mengecam atas tindakan kekerasan. Situasi Jakarta juga belum pulih dan kembali normal setelah perkantoran dan fasilitas publik rusak.
Tersiar kabar Ketua Dewan Mahasiswa Universtitas Indonesia, Hariman Siregar menyerahkan diri ke Kopkamtib. Setelahnya pada 17 Januari 1974 Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dan putrinya Mikikko mengakhiri kunjungan selama empat hari di Jakarta.
Peristiwa demontrasi besar yang disebut malapetaka 15 Januari atau Malari menyeret sejumlah aktivis mahasiswa dan cendekiawan ke meja hijau dengan tuduhan subversif. Beberapa nama antara lain Hariman Siregar, Sjahir, Yap Thiam Hien, Rahman Tolleng, Aini Chalid, Mohtar Lubis, Adna Buyung Nasution, dan Dorojatun Kuntjorojakti.
Hariman Siregar menjadi salah satu tokoh aktivis ketika membuka kembali ingatan sejarah peristiwa Malari 51 tahun lalu. Hariman dijatuhi hukuman 6 tahun 6 bulan penjara.