Golden Truly pernah menjadi pasar swalayan primadona bagi warga Jakarta. Kehadirannya menjadi tujuan belanja dan hiburan bagi warga Ibu Kota pada era 1980-1990-an.
28 Jan 2026 10:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/JULIAN SIHOMBING
Supermarket dan pusat perbelanjaan terus tumbuh dan berevolusi mengikuti tuntutan zaman. Para pengelola berupaya menawarkan pengalaman belanja terbaik kepada konsumen dengan beragam cara. Tak heran jika pengelola pusat perbelanjaan kerap mengangkat tema tertentu atau memanfaatkan momentum hari besar dan libur sekolah untuk meningkatkan kunjungan, yang pada akhirnya mendongkrak penjualan. Kini, berbelanja ke pusat perbelanjaan bukan sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan juga menjadi sarana wisata.
Bagi mereka yang tumbuh di era tahun 1980-an hingga 1990-an, terdapat sebuah pasar swalayan (istilah populer saat itu untuk supermarket) yang menjadi primadona dan tujuan belanja utama. Warga Jakarta yang melewati era tersebut pasti memiliki kenangan tersendiri dengan Golden Truly. Pasar swalayan yang berdiri sejak tahun 1981 ini didirikan oleh pengusaha nasional Sudwikatmono, sepupu dari Presiden Soeharto.
Salah satu momen bersejarah terjadi pada 27 September 1986, ketika pasar swalayan Golden Truly berdiri megah di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Menempati satu gedung penuh, peresmiannya dilakukan oleh Ibu Negara Tien Soeharto, didampingi oleh istri Wakil Presiden, Karlinah Umar Wirahadikusumah; Menteri Perdagangan Rachmat Saleh; serta Gubernur DKI Jakarta R Soeprapto. Acara peresmian dipandu oleh Sudwikatmono selaku Presiden Komisaris PT Golden Dragon, induk perusahaan Golden Truly.
Sebuah arsip foto masa itu merekam momen unik ketika rombongan Ibu Negara disambut oleh robot pelayan yang menjadi ikon canggih Golden Truly. Seusai menandatangani prasasti peresmian, rombongan berkeliling melihat produk yang ditawarkan. Ibu Tien tampak mengamati sayur segar yang tertata rapi di etalase berpendingin sebelum meninjau area kasir yang terbilang sangat modern pada masanya. Para karyawan berseragam rapi berdiri sigap menyambut rombongan VIP tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/27/d3005ad24179ab6252a1c422de6e9f4f-TIEN_SOEHARTO386_04.JPG.jpg.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/27/53a8bb4a6c53f8cc008f107142e5cb25-BW_00019828_6_FRS001.jpg.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/27/6706b8f6a9d262025c1f883cf7f65d03-BW_00025760_26_SAB021.jpg.jpeg)
Namun, malang tak dapat ditolak. Belum genap satu tahun beroperasi, tepatnya pada 12 Juli 1987, Golden Truly Blok M dilalap si jago merah. Kebakaran bermula dari api di ruang diesel bagian belakang gedung dan menyebabkan seorang karyawan tewas. Kepanikan saat itu memaksa warga dan petugas mengungsikan barang-barang dagangan hingga ke area pemakaman di sekitar lokasi.
Kendati mengalami musibah, Golden Truly terus bertransformasi menjadi pusat perbelanjaan dengan konsep one stop shopping di bawah manajemen PT Golden Truly (sebelumnya PT Dragon). Momentum ekspansi ini sejatinya sudah dimulai sejak tahun 1985 dengan berdirinya cabang di Harmoni, Jakarta Pusat, yang kemudian disusul oleh pembukaan gerai di Jalan Gunung Sahari pada tahun 1990. Gerai Gunung Sahari ini menjadi yang terbesar kala itu, melengkapi jaringan gerai lain yang terus tumbuh hingga ke luar Jakarta, seperti di Depok, BSD, dan Batam.
Pada masa kejayaannya, Golden Truly bukan hanya tempat berbelanja, melainkan juga pusat hiburan warga Jakarta. Tak heran jika tempat ini menjadi favorit keluarga. Setiap momentum hari besar, seperti Lebaran dan Natal, pasar swalayan ini selalu dipadati pengunjung.
Namun, roda zaman terus berputar. Munculnya pusat-pusat perbelanjaan baru yang lebih modern, seperti Senayan City, Kota Kasablanka, dan Grand Indonesia, menjadi pesaing berat yang perlahan menggerus popularitas Golden Truly. Pihak pengelola berupaya bertahan dengan melakukan renovasi untuk menarik kembali minat pengunjung, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan.
Pukulan terakhir datang saat pandemi Covid-19 menghantam dunia usaha. Gerai terakhir yang bertahan di Gunung Sahari akhirnya menyerah dan resmi berhenti beroperasi pada Desember 2020.
Kini, suasana lengang, gelap, dan pengap menyelimuti gedung yang telah kosong itu. Di dalamnya hanya tersisa tumpukan rak yang teronggok, maneken telanjang, hingga sisa dekorasi yang masih menempel di dinding sebagai saksi bisu. Beberapa pekerja bermasker tampak mengemasi barang-barang yang tersisa, memuatnya ke dalam troli, lalu berlalu pergi dan tak kembali lagi.
Penulis:
Priyombodo .Editor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Nanik DwiastutiFoto:
AP Susetyo Wijatmoko